Eksplorasi Penyediaan Akomodasi yang Layak bagi Disabilitas Tersembunyi: Perbandingan Layanan Akademik di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dan Universitas Brawijaya
Fuad Khalis Mahmud, Dr. Ir. Johanes Pramana Gentur Sutapa, M.Sc.Forest.Trop.; Wuri Handayani, S.E., Ak., M.Si., M.A., Ph.D.
2026 | Tesis | S2 MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN TINGGI
Penelitian ini bertujuan menganalisis praktik penyediaan Akomodasi yang Layak (AyL), implementasi Universal Design for Learning (UDL) sebagai strategi proaktif, dan merumuskan model konseptual AyL yang ideal, yakni proaktif melalui UDL serta responsif dan adaptif terhadap kebutuhan individual, bagi mahasiswa disabilitas tersembunyi di UIN Sunan Kalijaga (UIN SUKA) dan Universitas Brawijaya (UB).
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus komparatif jamak (multiple case study design). Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur terhadap dua puluh partisipan yang terdiri atas mahasiswa disabilitas tersembunyi, dosen yang merupakan tim ahli Pusat Layanan Disabilitas (PLD), dan ketua PLD di UIN SUKA dan UB. Partisipan direkrut melalui teknik purposive sampling dan snowball sampling. Data dianalisis menggunakan analisis tematik secara bertahap melalui open coding, axial coding, dan selective coding dengan bantuan perangkat lunak NVivo, disertai triangulasi sumber dan member checking untuk memastikan validitas temuan. Penelitian ini berpijak pada kerangka teoritis Critical Disability Theory (CDT), konsep pendidikan inklusif, serta prinsip UDL Guidelines 3.0.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa UIN SUKA dan UB memiliki komitmen menyediakan AyL, namun pemenuhannya masih bergantung pada kepekaan individual dosen. Mahasiswa yang telah mengungkapkan kondisinya atau yang masuk melalui jalur afirmatif tetap mengalami keterlambatan akses atau ketakutan meminta AyL yang seharusnya tersedia, sehingga pengungkapan diri dan jalur masuk formal saja tidak menjamin terpenuhinya AyL secara konsisten. Selain itu, ditemukan miskonsepsi mendasar berupa penyetaraan UDL dan AyL sebagai layanan yang saling menggantikan, padahal AyL bersifat responsif terhadap kondisi yang sudah diketahui, sedangkan UDL bersifat proaktif sejak perancangan pembelajaran, sehingga mahasiswa yang tidak mengungkapkan kondisinya tetap tidak terjangkau sistem layanan. Penelitian ini merumuskan model ekosistem aksesibilitas bertingkat, yaitu UDL sebagai fondasi universal sejak perencanaan pembelajaran dan AyL sebagai pelengkap personalisasi, dan PLD sebagai pusat koordinasi ekosistem.
This study analyzes the practice of providing Reasonable Accommodation (RA) and the implementation of Universal Design for Learning (UDL) as a proactive strategy, and formulates an ideal conceptual model of RA that is proactive through UDL and responsive to individual needs, for students with hidden disabilities at UIN Sunan Kalijaga (UIN SUKA) and Universitas Brawijaya (UB).
This qualitative study uses a multiple case study design. Data were collected through semi-structured interviews with twenty participants: students with hidden disabilities, lecturers who are expert members of the Disability Service Center (Pusat Layanan Disabilitas/PLD), and PLD heads at UIN SUKA and UB, recruited through purposive and snowball sampling. Data were analyzed through staged thematic analysis (open, axial, and selective coding) using NVivo, supported by source triangulation and member checking. The study draws on Critical Disability Theory, inclusive education, and the UDL Guidelines 3.0.
Findings show that UIN SUKA and UB are committed to providing RA, yet fulfillment still depends heavily on lecturers' individual sensitivity: students who disclosed their condition or were admitted through the affirmative pathway still experienced delayed access or feared requesting RA, showing that disclosure and formal admission alone do not guarantee consistent fulfillment. The study also identifies a misconception treating UDL and RA as interchangeable, whereas RA responds to known conditions while UDL is proactive from the outset of instructional design, leaving non-disclosing students unreached. The study proposes a tiered accessibility ecosystem model, with UDL as the universal foundation, RA as a complementary layer, and PLD as the coordinating hub.
Kata Kunci : Disabilitas Tersembunyi, Akomodasi yang Layak, Universal Design for Learning, Advokasi Diri, Pendidikan Inklusif