Pengaruh Curiosity dan Efektivitas Pembelajaran Klinis terhadap Self Regulated Learning (SRL) serta Mekanismenya pada Residen Bedah FK UNRI
Muthia Wilda, dr. Yoyo Suhoyo, MMedEd., Ph.D, dr. Rachmadya Nur Hidayah, M.Sc., Ph.D.
2026 | Tesis | S2 Ilmu Pendidikan Kedokteran
Tujuan.
Penelitian ini mengkaji pengaruh rasa ingin tahu (curiosity) dan
efektivitas lingkungan pembelajaran klinis terhadap self-regulated learning
(SRL) pada residen bedah, serta mengeksplorasi mekanisme yang mendasari
hubungan tersebut.
Metode. Penelitian ini menggunakan desain mixed-methods
sequential explanatory pada sebuah program residensi bedah di Indonesia.
Pada fase kuantitatif, seluruh 43 residen bedah aktif mengisi tiga instrumen
tervalidasi: Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ), Curiosity
and Exploration Inventory-II (CEI-II), dan Postgraduate Hospital
Educational Environment Measure (PHEEM). Analisis korelasi Spearman dan
regresi linear berganda dilakukan. Pada fase kualitatif, tujuh residen
berpartisipasi dalam wawancara mendalam semi-terstruktur yang dianalisis
menggunakan analisis tematik deduktif-induktif untuk mengeksplorasi mekanisme
yang mendasari temuan kuantitatif.
Hasil. Skor rata-rata SRL adalah 237,74 (SD = 24,88), menunjukkan tingkat SRL sedang. Rasa ingin tahu (rata-rata CEI-II = 35,65, SD = 6,02) dan lingkungan pembelajaran klinis (rata-rata PHEEM = 144,37, SD = 17,35) keduanya berada pada tingkat sedang hingga baik. Rasa ingin tahu menunjukkan korelasi positif signifikan dengan SRL (Spearman rho = 0,371, p = 0,013) dengan effect size rendah, sedangkan lingkungan pembelajaran klinis menunjukkan korelasi yang lebih kuat (rho = 0,529, p < 0>
Kesimpulan. Rasa ingin tahu dan lingkungan pembelajaran klinis
secara signifikan memengaruhi SRL pada residen bedah, dengan lingkungan
pembelajaran klinis sebagai faktor yang lebih dominan. Perubahan dalam konteks
hierarkis ini harus diinisiasi oleh pihak yang memiliki otoritas lebih besar.
Supervisor klinis perlu menjadi agen perubahan utama dengan membangun hubungan
supervisor-residen yang suportif, secara aktif menginisiasi dialog, menjadikan role
modelling eksplisit dan terstruktur, dengan sengaja memfasilitasi
perkembangan klinis, serta merekonseptualisasi umpan balik sebagai dialog dua
arah yang tertanam dalam setiap interaksi briefing dan debriefing.
Abstract
Purpose. This study examined the influence of curiosity and clinical learning environment effectiveness on self-regulated learning (SRL) among surgical residents and explored the mechanisms underlying these relationships.
Methods. A mixed-methods sequential explanatory design was employed at a surgical residency program in Indonesia. In the quantitative phase, all 43 active surgical residents completed three validated instruments: the Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ), the Curiosity and Exploration Inventory-II (CEI-II), and the Postgraduate Hospital Educational Environment Measure (PHEEM). Spearman correlation and multiple linear regression analyses were performed. In the qualitative phase, seven residents participated in semi-structured in-depth interviews analysed using deductive-inductive thematic analysis to explore mechanisms underpinning quantitative findings.
Results. The mean SRL score was 237.74 (SD = 24.88), indicating moderate SRL. Curiosity (mean CEI-II = 35.65, SD = 6.02) and clinical learning environment (mean PHEEM = 144.37, SD = 17.35) were both at moderate-to-good levels. Curiosity showed a significant positive correlation with SRL (Spearman rho = 0.371, p = 0.013) with low effect size, while clinical learning environment demonstrated a stronger correlation (rho = 0.529, p < 0 xss=removed xss=removed xss=removed xss=removed>
Conclusion. Both curiosity and clinical learning environment significantly influence SRL among surgical residents, with the clinical learning environment as the more dominant factor. Change in this hierarchical context must be initiated by those with greater authority. Clinical supervisors need to become the primary agents of change by building supportive supervisor-resident relationships, actively initiating dialogue, making role modelling explicit and structured, deliberately facilitating clinical development, and reconceptualising feedback as a two-way dialogue embedded in every briefing and debriefing interaction.
Kata Kunci : self-regulated learning, rasa ingin tahu, lingkungan pembelajaran klinis, residen bedah, umpan balik, identitas profesional, pendidikan kedokteran pascasarjana