Analisis Gender Representasi Perempuan pada Posisi Jabatan Tinggi di Kementerian Pertahanan Republik Indonesia
HANNA NAFTALIA TOMIGOLUNG, Prof. Setiadi, S.Sos., M.Si.; Dr. Dewi Haryani Susilastuti, M.Sc.
2026 | Tesis | S2 Mag.Studi Kebijakan
Representasi perempuan dalam posisi jabatan
tinggi masih menjadi tantangan di Kementerian Pertahanan Republik Indonesia
meskipun kebijakan tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) telah diterapkan.
Penelitian ini mengkaji bagaimana karakteristik organisasi Kementerian
Pertahanan yang secara historis maskulin, melalui tiga dimensi yaitu dimensi
struktural, dimensi kultural, dan dimensi individual, memengaruhi representasi
perempuan pada posisi jabatan tinggi. Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara
semi-terstruktur dengan tujuh informan yang dipilih berdasarkan kecukupan
infomasi yang diterima melalui relevansi posisi dan pengalaman terhadap fokus
penelitian, serta melalui observasi dan analisis dokumen. Analisis data
dilakukan melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan
kesimpulan.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa saat ini
terdapat dua pegawai perempuan yang berhasil mencapai posisi jabatan tinggi
pada level eselon II, sementara pada level eselon I belum terdapat representasi
pegawai perempuan. Hasil penelitian juga menemukan adanya dimensi keputusan
pimpinan, yang menjadi faktor penentu dalam membentuk representasi perempuan
pada posisi jabatan tinggi di Kementerian Pertahanan. Keputusan pimpinan
menjadi temuan kunci karena meskipun pegawai perempuan berhasil melewati proses
promosi dan berbagai hambatan dalam organisasi yang secara historis maskulin yang
ada pada dimensi struktural, kultural, dan individual, pada akhirnya keputusan
pimpinan menjadi titik penting dalam membuka atau membatasi akses perempuan
terhadap posisi jabatan tinggi. Pada akhirnya, pencapaian kesetaraan gender
membutuhkan transformasi pada berbagai lapisan, baik secara eksplisit melalui
struktur organisasi, sistem promosi berbasis merit, dan kebijakan
Pengarusutamaan Gender, maupun secara implisit melalui budaya senioritas,
interpretasi terhadap kesesuaian perempuan dengan satuan kerja atau jabatan
tertentu, dan tuntutan pengembangan kompetensi diri. Namun, di antara berbagai
dimensi tersebut, keputusan pimpinan menjadi faktor kunci yang menentukan
apakah peluang yang telah dibangun perempuan dapat benar-benar berujung pada
keterwakilan perempuan dalam posisi jabatan tinggi yang setara dengan
laki-laki.
Women’s representation in top leadership positions remains a challenge
at the Ministry of Defence of the Republic of Indonesia, despite the
implementation of Gender Mainstreaming (Pengarusutamaan Gender/PUG) policies.
This study examines how the organizational characteristics of the Ministry of
Defence, which has historically been shaped by a masculine organizational
culture, influence women’s representation in top leadership positions through
three dimensions: structural,
cultural, and individual. This study employs a
qualitative research method with a case study approach. Data were collected
through semi-structured interviews with seven informants selected based on the
adequacy of information obtained from their positions and experiences relevant
to the focus of the study, as well as through observation and document
analysis. Data were analyzed through data reduction, data display, and
conclusion drawing.
The findings show that there
are currently two female employees who have attained top leadership positions
at the Echelon II level, while no female employees currently hold positions at
the Echelon I level. The study also identifies leadership decision-making as an additional
dimension that plays a determining role in shaping women’s representation in top
leadership positions at the Ministry of Defence. Leadership decision-making
emerges as a key finding because, although women are able to navigate the
promotion process and overcome various barriers within a historically masculine
organization across the structural, cultural, and individual dimensions, the decisions made by organizational leaders
ultimately become a critical point in either opening or limiting women’s access
to top leadership positions. Achieving gender equality
therefore requires transformation across multiple layers, both explicitly
through organizational structures, merit-based promotion systems, and Gender
Mainstreaming policies, and implicitly through seniority culture, interpretations
of women’s suitability for particular work units or positions, and expectations
for continuous competence development. However, among these dimensions, leadership decision-making is a key factor in
determining whether the opportunities women have built for themselves can
ultimately translate into women’s representation in senior leadership positions
on an equal footing with men.
Kata Kunci : Gendered Organization Theory, Glass Ceiling, Gender Mainstreaming, Women's Leadership, Ministry of Defence