Genderless Fashion sebagai Konter terhadap Stereotip Gender
Raihan Anangga Winahyu Putra, Elok Santi Jesica, S.Pd., M.A.
2026 | Skripsi | Sosiologi
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena Genderless Fashion sebagai medium representasi identitas gender sekaligus instrumen negosiasi terhadap konstruksi sosial dan stereotip gender, secara khusus berfokus pada dekonstruksi stereotip gender yang restriktif. Praktik berpakaian dipandang sebagai bahasa non-verbal yang sarat akan muatan politis dan negosiasi identitas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam terhadap informan di lingkungan urban (institusi pendidikan dan industri kreatif). Analisis data dilakukan dengan menyintesiskan kerangka teori performativitas gender oleh Judith Butler.
Hasil penelitian ini menunjukkan dua temuan utama. Pertama, Genderless Fashion merepresentasikan ekspresi identitas gender yang menolak kategorisasi biner yang kaku. Pakaian bersiluet longgar, oversize, dan lintas gender dimanfaatkan oleh informan sebagai instrumen performatif untuk mengaburkan batas maskulin dan feminin, merebut kembali otonomi tubuh, serta mencari kenyamanan ruang gerak di luar ekspektasi normatif. Kedua, gaya berpakaian berfungsi sebagai bentuk negosiasi mikro (everyday negotiation). Informan melakukan tawar-menawar terhadap aturan institusi yang mengekang maupun ekspektasi obyektifikasi visual (male gaze). Respons sosial yang dihadapi informan bersifat situasional, sebagian mendapati ruang sosial yang akomodatif dan minim resistensi, sementara sebagian lainnya menghadapi gesekan atau tatapan menghakimi di lingkungan yang lebih konservatif. Melalui ketahanan (resilience) serta pemanfaatan ruang urban yang inklusif, pilihan gaya ini menghadirkan praktik tawar-menawar kultural yang secara konsisten menantang rigiditas norma biner.
Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa Genderless Fashion merupakan praktik negosiasi kultural yang efektif bagi individu untuk merumuskan ulang identitas gender yang otonom, sekaligus memperlihatkan bagaimana pergeseran pemahaman spektrum gender dapat diamati melalui dinamika keseharian di ruang publik urban.
This study examines the phenomenon of Genderless Fashion as a medium for representing gender identity as well as an instrument of negotiation againts social construction and gender stereotypes, with a specific focus on deconstructing restrictive gender stereotypes. Dressing practices are treated as a non-verbal language laden with political meaning and identitiy negotiation. The study employs a qualitative method, with data collected through in-depth interviews with informants in urban settings (eduactional institutions and the creative industry). Data analysis synthesises Judith Butler’s theory of gender performativity.
The findings reveal two main results. First, Genderless Fashion represents an expression of gender identity that rejects rigid binary categorisation. Loose-fitting, oversized, and cross-gender silhouettes are used by informants as performative instruments to blur masculine and feminine boundaries, reclaim bodily autonomy, and seek freedom of movement beyond normative expectations. Second, dress style functions as a form of everyday negotiation. Informants bargain with restrictive institutional rules and with expectations of visual objectification (the male gaze). The social responses informants encounter are situational: some find accommodating social spaces with minimal resistance, while other face friction or judgmental gazes in more conservative environments. Through resilience and the use of inclusive urban spaces, this style choice constitutes a cultural bargaining practice that consistently challenges the rigidity of binary norms.
The study concludes that Genderless Fashion is an effective cultural negotiation practice through which individuals redefine an autonomous gender identity, while also demonstrating how shifts in the understanding of the gender spectrum can be observed through everyday dynamics in urban public spaces.
Kata Kunci : Gender, Fashion, Genderless, Performativitas Gender, Judith Butler