Pendekatan Partisipatif untuk Ketahanan Kota: Studi Pelibatan Anak Muda di Kota Kediri Pascapandemi Covid-19
Nissa Cita Adinia, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU, ASEAN Eng.; Dr. Roso Witjaksono
2026 | Disertasi | S3 Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan
Ketahanan kota lazimnya diukur melalui indikator institusional dan kapasitas infrastruktur. Disertasi ini menantang asumsi tersebut dengan mereposisi ketahanan kota sebagai proses sosial yang dihidupi dan dinegosiasikan dalam kehidupan sehari-hari warga muda di Kota Kediri, Jawa Timur, khususnya pada periode pemulihan pascapandemi (2021-2023). Penelitian ini mengajukan empat pertanyaan: bagaimana pemerintah kota membingkai kebijakan ketahanan kota; bagaimana anak muda mengartikulasikannya melalui pengalaman ruang sehari-hari; dan bagaimana ruang dialogis dapat menjembatani representasi ketahanan antara anak muda dan pemangku kepentingan kota; serta, bagaimana temuan-temuan tersebut dapat dirumuskan ke dalam suatu model ketahanan kota berbasis anak muda.
Penelitian menggunakan pendekatan penelitian tindakan dengan prinsip kolaboratif partisipatif, melalui metode Photovoice, melibatkan 51 peserta dan informan, yaitu 24 pelajar SMA (15-18 tahun), 13 anak muda (19-24 tahun), dan 14 pemangku kepentingan kota. Terdapat tiga kelompok anak muda yang mewakili berbagai kategori sosial di kota yaitu pelajar/mahasiswa, santri, dan pekerja/wirausaha muda. Kerangka analisis bertumpu pada City Resilience Index (CRI) dari The Rockefeller Foundation & ARUP sebagai alat analisis, teori produksi ruang Lefebvre, kelompok prekariat Standing dan perspektif komunikasi perkotaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemkot Kediri membangun ketahanan melalui kerangka institusional-teknokratis yang berorientasi pada pemulihan fungsi-fungsi dasar perkotaan, dengan pelibatan warga yang cenderung bersifat top-down dan memposisikan anak muda sebagai penerima program serta sasaran informasi. Dimensi yang relatif kuat dalam penelitian ini adalah kesehatan dan kesejahteraan, disusul kepemimpinan dan strategi, diikuti ekonomi dan kemasyarakatan serta infrastruktur dan ekosistem yang relatif lemah. Anak muda memaknai ketahanan kota sebagai kemampuan kota menyediakan ruang yang aman secara emosional dan sosial untuk berkreasi dan bersosialisasi, memulihkan diri dan merasa memiliki. Artikulasi ini terjalin dengan prekaritas berlapis pada aspek ekonomi, psikologis, spasial dan relasional.
Photovoice berhasil secara horizontal dalam menghasilkan ruang dialog otentik antar-anak muda dan menggeser posisi anak muda dari objek menjadi produsen representasi, tetapi belum berhasil secara vertikal karena pemangku kepentingan kota tidak hadir dalam pameran hasil. Temuan ini menegaskan bahwa ruang dialogis tidak terbentuk secara otomatis melalui kanal partisipasi formal dan mensyaratkan komitmen institusional, bukan sekadar inovasi metodologis. Berdasarkan temuan tersebut, disertasi ini merumuskan Model Ketahanan Kota Berbasis Anak Muda sebagai proposal normatif yang menempatkan rekognisi pengetahuan anak muda, pelembagaan struktural ruang dialog, akuntabilitas yang responsif, dan inklusivitas multiaktor sebagai prasyarat bagi tata kelola kota yang kolaboratif dan ketahanan kota yang inklusif
Urban resilience is typically measured through institutional indicators and infrastructure capacity. This dissertation challenges these assumptions by repositioning urban resilience as a social process lived and negotiated in the daily lives of young residents in Kediri City, East Java, particularly during the post-pandemic recovery period (2021-2023). This research asks four questions: how the city government frames urban resilience policies; how young people articulate them through everyday spatial experiences; and how dialogic spaces can bridge representations of resilience between young people and city stakeholders; and how these findings can be formulated into a youth-based model of urban resilience.
The research uses an action research approach with participatory collaborative principles, using the Photovoice method, involving 51 participants and informants: 24 high school students (15-18 years old), 13 young adults (19-24 years old), and 14 city stakeholders. There are three groups of young people representing various social categories in the city: students, Islamic boarding school students (santri), and young workers/entrepreneurs. The analytical framework relies on the City Resilience Index (CRI) from The Rockefeller Foundation & ARUP as an analytical tool, Lefebvre's theory of space production, Standing's precariat group, and an urban communication perspective.
The results show that the Kediri City Government builds resilience through an institutional-technocratic framework oriented towards restoring basic urban functions, with citizen engagement that tends to be top-down and positions young people as program recipients and information targets. The relatively strong dimensions in this study are health and well-being, followed by leadership and strategy, followed by economy and society, and relatively weak infrastructure and ecosystems. Young people interpret urban resilience as the city's ability to provide emotionally and socially safe spaces for creativity and socialization, self-recovery, and a sense of belonging. This articulation is interwoven with layered precarity across economic, psychological, spatial, and relational aspects.
Photovoice succeeded horizontally in generating authentic dialogue spaces among young people and shifting their position from objects to producers of representation, but it failed vertically because city stakeholders were not present at the exhibition of the results. These findings confirm that dialogic spaces are not automatically formed through formal participation channels and require institutional commitment, not simply methodological innovation. Based on these findings, this dissertation formulates a Youth-Based Urban Resilience Model as a normative proposal that positions the recognition of youth knowledge, the structural institutionalization of dialogue spaces, responsive accountability, and multi-actor inclusivity as prerequisites for collaborative urban governance and inclusive urban resilience.
Kata Kunci : ketahanan kota, anak muda, Photovoice, pendekatan komunikasi partisipatif, Kediri, komunikasi pembangunan, urban communication