Laporkan Masalah

Agensi dan Praktik Ecopreneurship Berbasis Upcycling Sampah Plastik: Studi Kasus pada Rajut Nusa

Dina Sri Syaviraya Puteri, Prof. Dr. Suharko, S.sos., M.Si.

2026 | Skripsi | Sosiologi

Permasalahan sampah plastik pascakonsumsi, khususnya kantong plastik sekali pakai, menjadi persoalan sosial-lingkungan yang berkaitan dengan pola produksi dan konsumsi masyarakat. Penggunaan kantong plastik yang praktis dan ekonomis berkontribusi pada meningkatnya volume timbunan sampah nasional dan pengelolaan sampah nasional yang kurang optimal. Fenomena tersebut memunculkan aktor-aktor yang membangun alternatif produksi yang berkelanjutan Dalam konteks tersebut, penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana agensi ecopreneur membentuk praktik ecopreneurship berbasis upcycling sampah plastik pada Rajut Nusa, serta memahami proses pembentukan jejaring sosial dan dampak sosial yang dihasilkan dari praktik pemanfaatan sampah plastik tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam, kemudian dianalisis menggunakan perspektif agensi oleh Mustafa Emirbayer dan Ann Mische. 


Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik ecopreneurship Rajut Nusa merupakan bentuk tindakan sosial yang dibangun melalui proses reflektif aktor dalam merespons persoalan lingkungan. Kesadaran ekologis yang terbentuk dari pengalaman hidup pendiri menjadi dasar munculnya praktik upcycling sebagai strategi untuk mengolah sampah plastik sekaligus membangun nilai keberlanjutan. Praktik tersebut merepresentasikan tiga dimensi agensi, yaitu iterational, projective, dan practical-evaluative, yang tampak dalam kemampuan aktor mereproduksi pengalaman masa lalu, membangun orientasi masa depan, serta mengambil keputusan strategis sesuai konteks sosial yang dihadapi. Selain diwujudkan melalui inovasi produksi. praktik upcycling ini bukan sekedar strategi bisnis, tetapi ada upaya dari agensi itu untuk membangun budaya produksi yang lebih bertanggungjawab terhadap lingkungan, praktik ecopreneurship juga dikembangkan melalui pembentukan jejaring kolaboratif dengan komunitas, lembaga konservasi, pelaku usaha, institusi pendidikan, dan masyarakat. Jejaring tersebut berperan dalam memperluas penyebaran kesadaran lingkungan, memperkuat pemberdayaan perempuan, serta membentuk praktik sosial yang mendukung pengelolaan sampah plastik secara berkelanjutan. Penelitian ini menunjukkan bahwa ecopreneurship yang dilakukkan Rajut Nusa tidak hanya merupakan aktivitas ekonomi, tetapi juga praktik sosial yang memperlihatkan kapasitas aktor sebagai agen dalam membangun perubahan sosial dan ekologis melalui relasi, kolaborasi, serta pembentukan makna terhadap persoalan lingkungan.


Post-consumer plastic waste, particularly single-use plastic bags, constitutes a socio-environmental problem associated with prevailing patterns of production and consumption. The convenience and affordability of plastic bags contribute to the growing volume of waste generated nationally, while waste management remains suboptimal. This situation has prompted the emergence of actors seeking to develop more sustainable production alternatives. Against this backdrop, this study examines how ecopreneurial agency shapes ecopreneurship practices based on plastic waste upcycling at Rajut Nusa, as well as how social networks are formed and what social impacts emerge from these practices. This study employs a qualitative approach with a case study design. Data were collected through observation and in-depth interviews and analyzed using Mustafa Emirbayer and Ann Mische’s theoretical perspective on agency.


The findings indicate that Rajut Nusa’s ecopreneurship practices constitute a form of social action shaped by the actor’s reflexive engagement with environmental issues. The founder’s ecological awareness, developed through life experiences, provides the foundation for adopting upcycling as a strategy to transform plastic waste while advancing sustainability values. These practices reflect the three dimensions of agency “iterational, projective, and practical-evaluative” as demonstrated by the actor’s capacity to draw on past experiences, formulate future-oriented goals, and make strategic decisions in response to specific social contexts. Beyond production innovation, upcycling serves not merely as a business strategy but also as an expression of the actor’s agency in promoting more environmentally responsible production practices. Rajut Nusa’s ecopreneurship practices are further developed through collaborative networks involving communities, conservation organizations, business actors, educational institutions, and the wider public. These networks help broaden the dissemination of environmental awareness, strengthen women’s empowerment, and foster social practices that support sustainable plastic waste management. This study demonstrates that ecopreneurship at Rajut Nusa extends beyond economic activity to constitute a form of social practice through which an actor exercises agency to foster social and ecological change through relationships, collaboration, and the construction of meaning around environmental issues.

Kata Kunci : Agensi, Ecopreneurship, Social Networks, Upcycling, Sampah Plastik.

  1. S1-2026-446203-abstract.pdf  
  2. S1-2026-446203-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-446203-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-446203-title.pdf