Laporkan Masalah

SUKARELAWAN SEBAGAI PEMBERI LAYANAN SOSIAL: PERAN FAKTOR PEKERJAAN DAN PERSONAL, STRES MENDALAM, DAN KETANGGUHAN PADA NIAT MELANJUTKAN PERILAKU KERELAWANAN LINGKUNGAN HIDUP

Rokhima Rostiani, Prof. BM Purwanto, M.B.A., Ph.D.; Yulia Arisnani Widyaningsih, M.B.A., Ph.D.

2026 | Disertasi | S3 Manajemen

Perubahan menuju perilaku yang ramah lingkungan dapat didorong oleh organisasi nirlaba atau komunitas yang direpresentasikan oleh sukarelawan karena tidak dapat diinisiasi hanya oleh pemerintah. Sayangnya, dengan kondisi pergantian sukarelawan di komunitas dan organisasi nirlaba yang cukup tinggi serta adanya permasalahan inaksi, menarik dan mempertahankan sukarelawan untuk terus berpartisipasi dalam kegiatan kerelawanan menjadi semakin sulit. Dengan didasarkan pada Teori Konservasi Sumber Daya, individu sukarelawan akan berniat untuk melanjutkan perilaku kerelawanan saat mereka memiliki sumber daya yang cukup. Sumber daya itu bisa berasal dari faktor kontekstual (tuntutan dan sumber daya pekerjaan) dan faktor internal seperti motivasi dan ketangguhan. Apabila sumber daya ini tidak cukup, sukarelawan dapat mengalami stres mendalam. Penelitian ini juga fokus pada investigasi mekanisme penanggulangan stres mendalam pada pembentukan niat untuk tetap melanjutkan perilaku kerelawanan diantara pada sukarelawan lingkungan hidup. 

Dengan paradigma positivis, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menginvestigasi fenomena niat melanjutkan perilaku kerelawanan dengan teknik survei pada kelompok sampel tertentu, yaitu sukarelawan pada cakupan usia 17-60 tahun, masih aktif berkegiatan minimal sekali, dan bergabung pada komunitas atau organisasi nirlaba sebagai anggota. Survei dilakukan selama kurun waktu empat bulan secara daring dan berhasil mendapatkan 388 set respon yang layak untuk dianalisis. Analisis data dilakukan dengan pendekatan pemodelan persamaan struktural berbasis kovarian dengan alat bantu perangkat lunak SmartPLS.

Hasil analisis data menunjukkan apabila interaksi tuntutan dengan sumber daya pekerjaan tidak berasosiasi negatif dengan kelelahan emosional. Dari lima tipe motivasi yang diinvestigasi, hanya motivasi ekstrinsik saja yang berasosiasi positif dengan kelelahan emosional. Selanjutnya, analisis mekanisme antaraspek stres mendalam menunjukkan apabila turunnya pencapaian personal mampu menjelaskan mekanisme asosiasi antara kelelahan emosional dan niat melanjutkan perilaku kerelawanan. Lebih lanjut, ketangguhan terbukti dapat mengurangi dampak negatif stres mendalam pada niat melanjutkan kegiatan kerelawanan (peran mediasi). Hasil ini memberikan tilikan apabila ketangguhan tidak hanya berfungsi sebagai pelindung (protective) namun dapat juga berfungsi sebagai faktor penahan (defensive) yang dapat membuat sukarelawan terus melanjutkan kegiatan kerelawanannya. Temuan ini memberikan implikasi praktis pada proses menarik dan mempertahankan sukarelawan di dalam komunitas atau organisasi nirlaba agar mereka tetap bergabung dan melanjutkan perilaku kerelawanan.

As government are unable to resolve environmental and societal issue on their own, changes towards environmentally friendly behavior can be driven by non-profit organizations or communities represented by volunteers. Unfortunately, with high volunteer turnover in communities and non-profit organizations and the problem of inaction, attracting and retaining volunteers to participate in environmental volunteering behavior is becoming increasingly difficult. Based on the Conservation of Resources Theory, volunteers tend to continue volunteering when they have sufficient resources to do so. These resources can originate from contextual factors (job demands and resources) and internal factors such as motivation and resilience. If these resources are insufficient, volunteers can experience burnout. This study focuses on investigating the coping mechanisms of burnout in the formation of intention to continue volunteering among environmental volunteers. 

Using a positivist paradigm, this study utilizes a quantitative approach to investigate the phenomenon of intention to continue volunteering. An online survey was conducted, aimed at a specific sample group: volunteers aged 17-60, who were still actively involved in activities at least once during the year, and who had joined a community or non-profit organization as members. The survey was conducted over a four-month period and successfully obtained 388 response sets suitable for analysis. Data analysis was conducted using a covariance-based structural equation modeling approach with the help of SmartPLS software.

The data analysis results indicate that the interaction between job demands and resources is not negatively associated with emotional exhaustion. Among five types of motivation investigated, only extrinsic motivation was positively associated with emotional exhaustion. Furthermore, analysis between aspects of burnout revealed that reduced personal accomplishment could explain the association between emotional exhaustion and intention to continue volunteering. Furthermore, resilience was shown to mitigate the negative impact of burnout on intention to continue volunteering (a mediating role). These results provide insight into how resilience not only functions as a protective factor but can also function as a defensive factor, enabling volunteers to continue their volunteering behavior. These findings have practical implications for attracting and retaining volunteers within communities and nonprofit organizations, ensuring their continued volunteering behavior. 

Kata Kunci : tuntutan tugas, sumber daya pekerjaan, stres mendalam, motivasi, perilaku kerelawanan, sukarelawan, lingkungan hidup

  1. S3-2026-450167-abstract.pdf  
  2. S3-2026-450167-bibliography.pdf  
  3. S3-2026-450167-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2026-450167-title.pdf