Phantasmagoria of Jathilan: Album Musik sebagai Media Memori Kultural Gerakan Resistensi
Mallinda Azkiyyah, Dr. Aton Rustandi Mulyana, M.Sn., Dr. Phil. Oki Rahadianto Sutopo, M.Si.
2026 | Tesis | S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa
Musik berperan penting dalam merawat narasi sejarah serta menjembatani warisan budaya masa lalu dengan masyarakat masa kini. Penelitian ini mengkaji album musik Phantasmagoria of Jathilan karya Raja Kirik sebagai salah satu media dalam merawat memori kultural terkait gerakan resistensi masyarakat Jawa di Yogyakarta. Album tersebut menginterpretasikan kembali kesenian Jathilan melalui lima komposisi musik alternatif yang memadukan dua genre berbeda, di mana empat komposisi di antaranya menggunakan lirik berbahasa Jawa untuk memperkuat identitas budaya lokal. Menggunakan pendekatan kualitatif, teori memori kultural Jan Assmann digunakan untuk memberikan kerangka ingatan guna mengobjektifikasi album ini sebagai perangsang ingatan kolektif, sementara teori semiotika Roland Barthes memfasilitasi analisis tanda secara spesifik untuk mengungkap makna simbolik di balik musik dan lirik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa album ini berfungsi sebagai wadah ingatan kolektif yang merangsang kembali kesadaran masyarakat Yogyakarta atas identitas dan sejarah resistensi mereka. Selain itu, analisis semiotika berhasil mengungkap aspek sosial-budaya yang disuarakan dalam karya tersebut, membuktikan bahwa musik tidak sekadar menjadi hiburan melainkan juga sebuah artikulasi kultural. Penelitian ini memberikan gambaran mengenai bagaimana musik dapat dimanfaatkan sebagai salah satu media budaya untuk mendokumentasikan sejarah, gerakan resistensi, serta identitas kultural masyarakat Yogyakarta.
Music plays a crucial role in maintaining historical narratives and bridging past cultural heritage with contemporary society. This study examines the music album Phantasmagoria of Jathilan by Raja Kirik as a medium for preserving cultural memory related to the resistance movement of the Javanese community in Yogyakarta. The album reinterprets the traditional Jathilan art through five alternative music compositions that blend two distinct genres, with four compositions utilizing Javanese lyrics to reinforce local cultural identity. Employing a qualitative approach, Jan Assmann's theory of cultural memory is applied to provide a cognitive framework that objectifies the album as a stimulus for collective memory, while Roland Barthes' semiotic theory facilitates specific sign analysis to uncover the symbolic meanings behind the music and lyrics. The research findings indicate that this album functions as a vessel of collective memory that reawakens the community's awareness of their identity and history of resistance in Yogyakarta. Furthermore, the semiotic analysis successfully reveals the socio-cultural aspects voiced within the work, proving that music transcends mere entertainment to become a form of cultural articulation. This study illustrates how music can be utilized as a cultural medium to document the history, resistance movement, and cultural identity of the people of Yogyakarta.
Kata Kunci : Album Musik, Memori Kultural, Jathilan, Semiotika, Resistensi