Laporkan Masalah

Analisis Korelasi Skor Case-Based Discussion dan Skor Script Concordance Test dalam Menilai Kemampuan Penalaran Klinis Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter pada Stase Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura

Karl Imanuel Leiwakabessy, dr. Rachmadya Nur Hidayah, MSc., PhD; dr. Yoyo Suhoyo, MMedEd., PhD

2026 | Tesis | S2 Ilmu Pendidikan Kedokteran

Pendahuluan: Penelitian ini menganalisis korelasi antara skor Case-Based Discussion (CBD) dan Script Concordance Test (SCT) pada mahasiswa tahap profesi dokter. Penalaran klinis merupakan kompetensi penting selama pendidikan klinik. Meskipun CBD dan SCT digunakan untuk menilai penalaran klinis, kesesuaian informasi penilaian yang dihasilkan oleh kedua instrumen tersebut masih belum jelas.

Metode: Penelitian korelasional dengan pendekatan desain potong lintang ini dilakukan pada Desember 2025 hingga Februari 2026 di tiga rumah sakit pendidikan di Ambon, Indonesia. Teknik total sampling melibatkan 33 mahasiswa kepaniteraan klinik rotasi pediatri. CBD dinilai dalam dua sesi menggunakan rubrik terstruktur dan tervalidasi yang mencakup tujuh domain penalaran klinis. SCT dinilai menggunakan 100 butir soal berbasis rujukan panel ahli dengan metode aggregate scoring. Faktor terkait mahasiswa, pembimbing, dan pelaksanaan penilaian diukur menggunakan kuesioner eksploratori yang telah melalui uji validitas butir dan konsistensi internal. Korelasi antara skor CBD dan SCT diuji menggunakan Spearman’s Rho. Regresi linear berganda digunakan untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang berhubungan dengan masing-masing skor.

Hasil: Skor CBD lebih tinggi dan lebih homogen dibandingkan skor SCT. Korelasi antara skor CBD dan SCT bersifat lemah, negatif, dan tidak bermakna secara statistik, dengan Spearman’s Rho = -0,244 dan p = 0,170. Model regresi eksploratori tidak bermakna untuk skor CBD, dengan R² = 0,095, adjusted R² = 0,001, dan p = 0,403, maupun untuk skor SCT, dengan R² = 0,072, adjusted R² = -0,024, dan p = 0,403. Faktor-faktor yang diukur hanya menjelaskan sebagian kecil variasi skor kedua metode.

Kesimpulan: CBD dan SCT memberikan informasi penilaian yang berbeda dan tidak dapat saling menggantikan. Kedua instrumen ini juga tidak menunjukkan bukti validitas konkuren dalam sampel penelitian ini. Temuan ini mendukung penggunaan CBD dan SCT sebagai titik data penilaian yang saling melengkapi, dilakukan secara berulang, dan bersifat low-stakes dalam sistem programmatic assessment untuk menilai kemampuan penalaran klinis. Kedua instrumen tersebut tidak sebaiknya digunakan sebagai dasar tunggal untuk keputusan high-stakes dalam penilaian kepaniteraan klinik.


Introduction: This study examined the correlation between Case-Based Discussion (CBD) and Script Concordance Test (SCT) scores among medical clerkship students. Clinical reasoning is a critical competency during clinical training. While CBD and SCT are used to assess clinical reasoning, their comparability remains uncertain.

Methods: This cross-sectional correlational study was conducted from December 2025 to February 2026 in three teaching hospitals in Ambon, Indonesia. Total sampling included 33 pediatric rotation clerkship students. CBD was assessed in two sessions using a structured and validated rubric covering seven clinical reasoning domains. SCT was assessed using 100 expert-panel-referenced items with aggregate scoring. Learner, supervisor, and implementation-related factors were measured using an exploratory questionnaire that had undergone item validity and internal consistency testing. Spearman's rho tested the correlation between CBD and SCT scores. Multiple linear regression explored factors associated with each score.

Results: CBD scores were higher and more homogeneous than SCT scores. The correlation between CBD and SCT scores was weak, negative, and not statistically significant (Spearman's rho = -0.244, p = 0.170). The exploratory regression models were not significant for CBD scores (R2 = 0.095, adjusted R2 = 0.001, p = 0.403) or SCT scores (R2 = 0.072, adjusted R2 = -0.024, p = 0.403). The measured factors explained only a small proportion of score variance.

Conclusion: CBD and SCT provided different, non-interchangeable assessment information and did not demonstrate concurrent validity evidence in this sample. These findings support the use of CBD and SCT as complementary, repeated, low-stakes data points within a programmatic assessment system for clinical reasoning. Neither instrument should be used as a stand-alone basis for high-stakes decisions in clerkship assessment.

Kata Kunci : Keywords: Clinical reasoning; Clinical clerkship; Educational measurement; Education, Medical; Indonesia

  1. S2-2026-536365-abstract.pdf  
  2. S2-2026-536365-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-536365-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-536365-title.pdf