Analisis Pengaruh Kelebihan Kualifikasi Persepsian terhadap Perilaku Proaktif dengan Job Crafting sebagai Variabel Pemediasi (Studi pada Badan Pusat Statistik Tingkat Kabupaten/Kota)
Annisa Sorayya, Sari Sitalaksmi, M.Mgt., Ph.D.
2026 | Tesis | S2 Manajemen
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kelebihan kualifikasi persepsian terhadap perilaku proaktif serta menganalisis peran mediasi job crafting dalam hubungan tersebut pada pegawai Badan Pusat Statistik (BPS) tingkat kabupaten/kota. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pengumpulan data dalam bentuk survei melalui kuesioner yang disebarluaskan secara daring. Responden dalam penelitian ini adalah pegawai BPS tingkat kabupaten/kota yang memiliki pendidikan minimal D-IV/S-1 dan menduduki jabatan fungsional. Data yang diperoleh dari 303 responden dianalisis menggunakan metode Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian hipotesis tidak terdukung karena arah hubungan yang diperoleh berbeda dari dugaan awal. Kelebihan kualifikasi persepsian berpengaruh signifikan terhadap perilaku proaktif dan job crafting, tetapi arah hubungannya negatif. Sementara itu, job crafting berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku proaktif. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa job crafting memediasi pengaruh kelebihan kualifikasi persepsian terhadap perilaku proaktif secara signifikan, tetapi arah pengaruh tidak langsung yang terbentuk bersifat negatif. Temuan ini menunjukkan bahwa dalam konteks BPS tingkat kabupaten/kota, kelebihan kualifikasi persepsian belum berfungsi sebagai surplus sumber daya yang dapat mendorong perilaku adaptif, tetapi lebih cenderung diproses sebagai pengalaman ketidaksesuaian kerja. Dengan demikian, semakin tinggi kelebihan kualifikasi persepsian pegawai, semakin rendah kecenderungannya untuk melakukan job crafting, yang selanjutnya berkaitan dengan menurunnya perilaku proaktif. Implikasi praktis dari penelitian ini menekankan pentingnya penataan pekerjaan dan pemberian ruang diskresi yang proporsional agar pegawai dapat menyalurkan kompetensinya secara lebih optimal melalui job crafting dan inisiatif perbaikan kerja yang tetap sesuai dengan standar dan regulasi organisasi.
This study aims to examine the effect of perceived overqualification on proactive behavior and to analyze the mediating role of job crafting in this relationship among employees of Statistics Indonesia (BPS) at the regency/municipality level. This study employed a quantitative approach, with data collected through an online survey questionnaire. The respondents were BPS employees at the regency/municipality level who had at least a Diploma IV or Bachelor’s degree and held functional positions. Data collected from 303 respondents were analyzed using Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The results show that some of the proposed hypotheses were not supported because the direction of the relationships differed from the initial expectations. Perceived overqualification had a significant effect on proactive behavior and job crafting, but the relationships were negative. Meanwhile, job crafting had a positive and significant effect on proactive behavior. The results also show that job crafting significantly mediated the effect of perceived overqualification on proactive behavior, but the indirect effect was negative. These findings indicate that, in the context of BPS at the regency/municipality level, perceived overqualification did not function as a surplus resource that encourages adaptive behavior, but was more likely to be processed as an experience of job misfit. Thus, the higher employees’ perceived overqualification, the lower their tendency to engage in job crafting, which in turn was associated with lower proactive behavior. The practical implications of this study emphasize the importance of job redesign and proportional discretion to enable employees to utilize their competencies more optimally through job crafting and work improvement initiatives while remaining aligned with organizational standards and regulations.
Kata Kunci : kelebihan kualifikasi persepsian, job crafting, perilaku proaktif, sektor publik