Respons Terhadap Inovasi Digital Penerapan Aplikasi SIPPER Pada Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Selatan
SYIFA FUADI, Dr. Agus Joko Pitoyo, S.Si., M.A. ; Dr. Novi Widyaningrum, S.IP., M. A
2026 | Tesis | S2 Mag.Studi Kebijakan
Dualisme sistem digital dalam pengelolaan
persediaan di Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Selatan muncul melalui
penggunaan Bank Data sebagai mekanisme pelaporan sektoral kesehatan dan
aplikasi SIPPER sebagai sistem pencatatan persediaan daerah. Kedua sistem
tersebut sama-sama harus dijalankan, tetapi belum terintegrasi secara
operasional, sehingga menimbulkan beban administratif bagi aparatur pelaksana
serta dilema implementasi antara pemenuhan pelaporan sektoral kesehatan dan
kepatuhan terhadap pencatatan persediaan daerah. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis persepsi street-level bureaucrats pada level individu dan
organisasi terhadap inovasi aplikasi SIPPER, mengkaji bentuk diskresi
birokratis yang digunakan dalam menghadapi tekanan institusional dari
pemerintah pusat dan daerah, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang
membentuk pilihan dan strategi diskresi dalam implementasi aplikasi tersebut.
Penelitian menggunakan Teori Difusi Inovasi (DOI) sebagai landasan konseptual,
serta mengintegrasikan Unified Theory of Acceptance and Use of Technology
(UTAUT), Teori Street-Level Bureaucracy (SLB), dan Teori Institusional
sebagai kerangka analisis. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan
kualitatif dengan desain studi kasus melalui wawancara mendalam, observasi
lapangan, dan studi dokumen terhadap aparatur yang terlibat dalam pengelolaan
persediaan di lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Selatan. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa persepsi terhadap SIPPER berbeda antara level
individu dan organisasi. Pada level individu, SIPPER dipersepsikan belum
sepenuhnya memberikan manfaat yang sebanding dengan beban kerja tambahan yang
ditimbulkannya, sementara pada level organisasi aplikasi tersebut dipandang
penting untuk memenuhi tuntutan akuntabilitas, rekonsiliasi persediaan, dan
kepatuhan terhadap ketentuan pencatatan persediaan daerah. Dalam menghadapi
dualisme sistem digital, aparatur mengembangkan berbagai bentuk diskresi
birokratis dengan memprioritaskan sistem yang dianggap paling mendukung
pelaksanaan tugas. Diskresi tersebut dibentuk oleh faktor persepsi terhadap
manfaat dan kemudahan penggunaan SIPPER, pengaruh sosial, kondisi pendukung,
interaksi langsung, tekanan struktural, keterbatasan sumber daya, tekanan
regulatif dan legitimasi, kapabilitas organisasi, serta norma internal dan
budaya organisasi. Temuan ini menunjukkan bahwa respons terhadap SIPPER
merupakan bentuk adaptasi rasional terhadap kebijakan digital yang belum
sepenuhnya terintegrasi secara operasional, bukan semata-mata penolakan
terhadap teknologi.
The coexistence of two digital systems in
inventory management at the Health Office of South Barito Regency, namely Bank
Data as a sectoral health reporting mechanism and SIPPER as a regional
inventory recording system, has created an administrative burden for
implementing personnel. Both systems are mandatory, yet they have not been
operationally integrated, thereby generating an implementation dilemma between
fulfilling sectoral health reporting requirements and complying with regional
inventory recording obligations. This study aims to analyze street-level
bureaucrats’ perceptions of the SIPPER application as a digital innovation at
the individual and organizational levels, examine the forms of bureaucratic
discretion employed in response to institutional pressures from both central
and local governments, and identify the factors shaping discretionary choices
and strategies in the implementation of the application. The study employs
Diffusion of Innovation (DOI) Theory as its conceptual foundation and integrates the Unified
Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT), Street-Level
Bureaucracy (SLB) Theory, and Institutional Theory as its analytical
framework. A qualitative case study approach was adopted, utilizing in-depth
interviews, field observations, and document analysis involving personnel
responsible for inventory management within the Health Office of South Barito
Regency. The findings indicate that perceptions of SIPPER differ between the
individual and organizational levels. At the individual level, SIPPER is
perceived as providing limited benefits relative to the additional workload it
creates, whereas at the organizational level, the application is viewed as
essential for ensuring accountability, inventory reconciliation, and compliance
with regional inventory recording requirements. In response to the dualism of
digital systems, personnel develop various forms of bureaucratic discretion by
prioritizing the system perceived as most supportive of their operational
duties. Such discretion is shaped by perceived usefulness and ease of use,
social influence, facilitating conditions, direct interaction, structural
pressure, limited resources, regulative pressure and legitimacy, organizational
capability, and internal norms and organizational culture. These findings
suggest that the response to SIPPER represents a rational adaptation to digital
policies that have not been fully operationally integrated, rather than a
simple resistance to technology.
Kata Kunci : dualisme sistem digital, SIPPER, Bank Data, inovasi digital, street-level bureaucracy, diskresi birokratis ; dualism of digital systems, SIPPER, Bank Data, digital innovation, street-level bureaucracy, bureaucratic discretion.