Makna Smara Sadhana dalam Lontar Kama Tattwa Perspektif Filsafat Tantrayana dan Kontribusinya bagi Pendidikan Praperkawinan Hindu
Gede Agus Siswadi, Prof. Dr. Lasiyo, M.A., M.M; Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum
2026 | Disertasi | S3 Ilmu Filsafat
Penelitian ini bertujuan mengkaji dimensi makna Smara Sadhana dalam teks Kama Tattwa serta relevansinya dalam perspektif filsafat Tantrayana dan kontribusinya bagi pendidikan praperkawinan Hindu. Penelitian ini akan menjawab tiga pertanyaan pokok yakni: 1) apa konsep dan makna tentang smara sadhana dalam Lontar Kama Tattwa? 2) apa analisis filsafat Tantrayana tentang makna smara sadhana dalam Lontar Kama Tattwa? 3) apa kontribusi smara sadhana dalam Lontar Kama Tattwa bagi pendidikan praperkawinan Hindu?
Penelitian ini merupakan sebuah penelitian kualitatif yang berkaitan dengan penelusuran sebuah teks Lontar Kama Tattwa yang banyak membahas tentang pengetahuan mengenai seks (smara sadhana), serta objek formal yang digunakan untuk menganalisis dalam penelitian ini mengenai filsafat tantrayana. Adapun unsur-unsur metodisnya adalah interpretasi, deskripsi, idealisasi, heuristika dan refleksi kritis. Pengumpulan data dilakukan dengan cara inventarisasi dan kategorisasi, yakni sebuah cara pengumpulan data kepustakaan sebanyak mungkin serta menelusuri sumber penunjang lainnya yang memiliki keterkaitan dengan objek formal maupun objek material dari penelitian ini.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1). Smara Sadhana merupakan ajaran spiritual yang utuh, sistematis, dan bernilai filosofis tinggi, yang menempatkan seks sebagai proses penyucian energi kehidupan melalui relasi harmonis antara purusa dan prakrti. Secara ontologis, Smara Sadhana dipahami sebagai energi kehidupan, relasi kesadaran, proses transformasi, dan jalan menuju penyatuan dengan realitas tertinggi. Secara epistemologis, pengetahuan tentang Smara Sadhana bersumber dari sabda pramana, pratyaksa pramana, anumana pramana, hingga aparoksanubhuti, sementara secara aksiologis menegaskan nilai kesucian tubuh, kesatuan jiwa dan raga, serta relasi cinta dan kasih sayang sebagai medium spiritual. 2). Filsafat Tantrayana, memahami Smara Sadhana sebagai bagian dari paradigma spiritual non-dualistik yang memandang manusia sebagai homo spiritualis, dengan tubuh sebagai mikrokosmos yang mengandung energi kosmis. 3). Urgensi pendidikan praperkawinan Hindu sebagai ruang pedagogis strategis untuk internalisasi nilai-nilai sakral seksualitas dan perkawinan di tengah kompleksitas perubahan sosial, maraknya fenomena seks pra-nikah, serta normalisasi wacana sing beling sing nganten yang berpotensi mengaburkan etika seksual Hindu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ajaran Smara Sadhana dalam Lontar Kama Tattwa memiliki kontribusi konseptual yang signifikan bagi pengembangan pendidikan praperkawinan Hindu yang holistik, berlandaskan kesadaran spiritual, etika seksual, dan tanggung jawab moral.
This study aims to examine the dimensions of meaning of Smara Sadhana in the Kama Tattwa text, its relevance from the perspective of Tantrayana philosophy, and its contribution to Hindu premarital education. This research seeks to address three principal questions: (1) what are the concepts and meanings of Smara Sadhana in the Lontar Kama Tattwa? (2) how does Tantrayana philosophy analyze the meaning of Smara Sadhana in the Lontar Kama Tattwa? and (3) what is the contribution of Smara Sadhana in the Lontar Kama Tattwa to Hindu premarital education?
This study employs a qualitative research approach that involves an in-depth exploration of the Lontar Kama Tattwa, a text that extensively discusses knowledge of sexuality (Smara Sadhana), with Tantrayana philosophy serving as the formal object of analysis. The methodological elements applied in this research include interpretation, description, idealization, heuristics, and critical reflection. Data collection was conducted through inventory and categorization methods, namely the systematic gathering of as many relevant library sources as possible, along with tracing supporting sources related to both the formal and material objects of the study.
The findings indicate that 1). Smara Sadhana constitutes a comprehensive, systematic, and highly philosophical spiritual teaching that positions sexuality as a process of purifying life energy through a harmonious relationship between purusa and prakrti. Ontologically, Smara Sadhana is understood as life energy, a relational consciousness, a process of transformation, and a path toward union with ultimate reality. Epistemologically, knowledge of Smara Sadhana is derived from sabda pramana, pratyaksa pramana, anumana pramana, and aparoksanubhuti, while axiologically it affirms the sanctity of the body, the unity of body and soul, and relationships grounded in love and compassion as spiritual media. 2). Tantrayana philosophy understands Smara Sadhana as part of a non-dualistic spiritual paradigm that views human beings as homo spiritualis, with the body as a microcosm containing cosmic energy. 3). The urgency of Hindu premarital education as a strategic pedagogical space for the internalization of the sacred values of sexuality and marriage amid the complexity of social change, the increasing prevalence of premarital sexual practices, and the normalization of the discourse sing beling sing nganten, which has the potential to obscure Hindu sexual ethics. This study concludes that the teachings of Smara Sadhana in the Lontar Kama Tattwa make a significant conceptual contribution to the development of holistic Hindu premarital education grounded in spiritual awareness, sexual ethics, and moral responsibility.
Kata Kunci : Smara Sadhana, Lontar Kama Tattwa, Filsafat Tantrayana, Pendidikan Praperkawinan Hindu