Laporkan Masalah

ISTILAH-ISTILAH DALAM UPACARA TRADISI TAYUBAN DI DUSUN NGOREYAN, DESA NGANDONG, KECAMATAN GANTIWARNO, KABUPATEN KLATEN : KAJIAN ETNOLINGUISTIK

Dwi Larasati, Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum.

2026 | Tesis | S2 Linguistik

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk kebahasaan, makna kultural, dan upacara Tradisi Tayuban sebagai cerminan budaya masyarakat Dusun Ngoreyan, Desa Ngandong, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh semakin berkurangnya pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap istilah-istilah yang digunakan dalam Upacara Tradisi Tayuban sehingga diperlukan upaya pendokumentasian dan pengkajian melalui pendekatan etnolinguistik.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnolinguistik. Data penelitian berupa istilah-istilah yang digunakan dalam Upacara Tradisi Tayuban yang diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data dianalisis dengan mengidentifikasi bentuk kebahasaan berdasarkan unsur pembentuknya, menginterpretasikan makna kultural setiap istilah, serta mendeskripsikan keterkaitan antara bahasa dan budaya dalam kehidupan masyarakat Dusun Ngoreyan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk kebahasaan istilah-istilah dalam Upacara Tradisi Tayuban terdiri atas istilah monomorfemis, istilah polimorfemis, dan istilah berupa kata majemuk. Istilah-istilah tersebut digunakan untuk menamai berbagai unsur dalam pelaksanaan upacara, meliputi perlengkapan ritual, sajian dan sesaji, pelaku upacara, prosesi, dan sarana pendukung. Makna kultural yang terkandung dalam setiap istilah mencerminkan nilai religius, rasa syukur, penghormatan kepada leluhur, gotong royong, pelestarian seni dan budaya Jawa, serta pengetahuan lokal masyarakat. Selain itu, Upacara Tradisi Tayuban merupakan cerminan budaya masyarakat Dusun Ngoreyan karena di dalamnya tercermin hubungan yang erat antara bahasa, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat. Dengan demikian, istilah-istilah yang digunakan dalam Upacara Tradisi Tayuban tidak hanya berfungsi sebagai unsur kebahasaan, tetapi juga merepresentasikan sistem pengetahuan, nilai-nilai budaya, serta identitas budaya masyarakat yang perlu didokumentasikan dan dilestarikan.

Kata kunci: etnolinguistik, bentuk kebahasaan, makna kultural, Tradisi Tayuban.

This study aims to describe the linguistic forms, cultural meanings, and the Tayuban traditional ceremony as a reflection of the cultural identity of the people of Ngoreyan Hamlet, Ngandong Village, Gantiwarno District, Klaten Regency. This research was motivated by the declining public understanding, particularly among the younger generation, of the terms used in the Tayuban traditional ceremony. Therefore, documentation and analysis of these terms through an ethnolinguistic approach are necessary to preserve the local cultural heritage.

This study employed a qualitative descriptive method with an ethnolinguistic approach. The research data consisted of terms used in the Tayuban traditional ceremony, collected through observation, interviews, and documentation. The data were analyzed by identifying the linguistic forms based on their constituent elements, interpreting the cultural meanings of each term, and describing the relationship between language and culture within the community of Ngoreyan Hamlet.

The findings reveal that the linguistic forms of the terms used in the Tayuban traditional ceremony consist of monomorphemic terms, polymorphemic terms, and compound-word terms. These terms are used to designate various elements of the ceremony, including ritual equipment, offerings, ceremony participants, ceremonial processions, and supporting facilities. The cultural meanings embedded in these terms reflect religious values, gratitude, respect for ancestors, mutual cooperation, the preservation of Javanese arts and culture, and the local knowledge of the community. Furthermore, the Tayuban traditional ceremony serves as a reflection of the cultural identity of the people of Ngoreyan Hamlet, as it demonstrates the close relationship between language, culture, and social life. Thus, the terms used in the Tayuban traditional ceremony function not only as linguistic elements but also as representations of the community's knowledge system, cultural values, and cultural identity that should be documented and preserved.


Keywords: ethnolinguistics, linguistic forms, cultural meanings, Tayuban traditional ceremony.

Kata Kunci : etnolinguistik, bentuk kebahasaan, makna kultural, Tradisi Tayuban.

  1. S2-2026-502001-abstract.pdf  
  2. S2-2026-502001-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-502001-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-502001-title.pdf