Resistansi dan Negosiasi Identitas Budaya Jepang pada Penerjemahan Anime Taishou Otome Otogibanashi Bahasa Jepang ke Bahasa Indonesia
Dwi Wijianing Kholidiyah, Drs. Tatang Hariri, M.A., Ph. D.
2026 | Tesis | S2 Linguistik
Penerjemahan identitas budaya merupakan salah satu tantangan dalam penerjemahan karena melibatkan pengalihan unsur budaya yang tidak selalu memiliki padanan yang setara dalam bahasa dan budaya sasaran, terutama pada penerjemahan audiovisual yang dibatasi oleh ruang, waktu, serta unsur visual dan auditori. Oleh karena itu, penerjemah perlu mempertimbangkan cara agar identitas budaya tetap dapat dipahami oleh penonton bahasa sasaran. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pola resistansi dan negosiasi identitas budaya Jepang dalam penerjemahan anime Taishou Otome Otogibanashi, faktor-faktor yang memengaruhinya, serta implikasi yang ditimbulkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data berupa istilah budaya Jepang yang terdapat dalam dialog anime Taishou Otome Otogibanashi beserta takarir bahasa Indonesianya. Analisis dilakukan menggunakan kategori istilah budaya dan prosedur penerjemahan Newmark (1988), konsep resistansi Venuti (1995), serta konsep negosiasi penerjemahan Eco (2003). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerjemahan identitas budaya lebih banyak diwujudkan melalui pola negosiasi daripada resistansi. Resistansi direalisasikan melalui prosedur transferensi, sedangkan negosiasi direalisasikan melalui prosedur kesepadanan fungsi, kesepadanan budaya, kesepadanan deskriptif, penerjemahan literal, naturalisasi, reduksi, dan kombinasi prosedur. Resistansi dipengaruhi oleh orientasi pada pemertahanan budaya sumber, tingkat familiaritas identitas budaya, dan dukungan visual. Sementara itu, negosiasi dipengaruhi oleh ketidaksepadanan makna, perbedaan sistem budaya, dan kebutuhan keterpahaman penonton. Resistansi berimplikasi pada pemertahanan identitas budaya Jepang, tetapi berpotensi menimbulkan ambiguitas bagi penonton. Sebaliknya, negosiasi meningkatkan keterpahaman penonton, meskipun dapat mengurangi sebagian nuansa budaya sumber. Dengan demikian, penerjemahan identitas budaya dalam anime Taishou Otome Otogibanashi merupakan proses kompromi antara pemertahanan identitas budaya sumber dan keterpahaman penonton.
The translation of cultural identity is one of the major challenges in translation because it involves transferring cultural elements that do not always have equivalent counterparts in the target language and culture, particularly in audiovisual translation, which is constrained by spatial, temporal, visual, and auditory limitations. Therefore, translators must carefully determine how cultural identity can remain comprehensible to target-language audiences. This study aims to describe the patterns of resistance and negotiation of Japanese cultural identity in the Indonesian translation of the anime Taishou Otome Otogibanashi, identify the factors influencing these patterns, and examine their implications. This study employed a qualitative descriptive approach. The data consisted of Japanese cultural terms found in the dialogues of Taishou Otome Otogibanashi and their Indonesian subtitles. The data were analyzed using Newmark’s (1988) categories of cultural terms and translation procedures, Venuti’s (1995) concept of resistance, and Eco’s (2003) concept of translation as negotiation. The findings reveal that the translation of cultural identity is predominantly characterized by negotiation rather than resistance. Resistance is realized through the transference procedure, whereas negotiation is realized through functional equivalence, cultural equivalence, descriptive equivalence, literal translation, naturalization, reduction, and couplets. Resistance is influenced by the orientation toward preserving the source culture, the familiarity of cultural identity, and visual support. In contrast, negotiation is influenced by the lack of semantic equivalence, differences between cultural systems, and the need to ensure audience comprehensibility. Resistance contributes to preserving Japanese cultural identity but may also create ambiguity for viewers. Conversely, negotiation enhances audience comprehension, although it may reduce certain aspects of the source culture’s cultural nuances. Overall, the translation of cultural identity in Taishou Otome Otogibanashi represents a process of compromise between preserving the source cultural identity and ensuring audience comprehension.
Kata Kunci : identitas budaya, resistansi, negosiasi, penerjemahan audiovisual.