Spektrum Konfiguratif Inovasi Pendidikan Pesantren: Tipologi, Mekanisme dan Transformasi Pendidikan Islam
Zeni Hafidhotun Nisak, Dr. Agus Joko Pitoyo, S.Si., M.A., Hakimul Ikhwan, S.Sos., M.A., Ph.D., Prof. Ahmad Maryudi, S.Hut., M.For.
2026 | Disertasi | S3 STUDI KEBIJAKAN
Penelitian ini mengkaji inovasi pendidikan pesantren dalam konteks perubahan sosial, kebijakan negara, teknologi, dan kebutuhan masyarakat. Inovasi pesantren tidak dibaca sebagai pergeseran linear dari tradisional menuju modern, melainkan sebagai proses sosial–pedagogis yang dibentuk oleh nilai, otoritas, struktur, tradisi keilmuan, dan tekanan eksternal.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus multi-situs pada Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Perguruan Islam Mathali’ul Falah Kajen Pati, dan Pesantren Darunnajah Jakarta. Unit analisis penelitian adalah sistem pendidikan pesantren sebagai konfigurasi sosial–pedagogis yang mencakup pendidikan formal, non formal, dan/atau satuan pendidikan terintegrasi dalam ekosistem pesantren. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, lalu dianalisis melalui analisis tematik, analisis intra-kasus, analisis lintas kasus, dialog teori, dan sintesis konseptual.
Temuan penelitian menunjukkan tiga orientasi inovasi pendidikan pesantren: Integrasi–Multiformat pada Bahrul Ulum, Tradisional–Intensif pada PIM, dan Modern–Progresif pada Darunnajah. Ketiganya bukan jenjang kemajuan, melainkan pusat gravitasi konfiguratif yang dibentuk oleh sejarah, otoritas, tradisi keilmuan, struktur kelembagaan, kebijakan negara, dan kebutuhan masyarakat.
Kontribusi utama penelitian ini adalah konsep Spektrum Konfiguratif Inovasi Pesantren. Spektrum ini menjelaskan bahwa inovasi pesantren bekerja melalui delapan mekanisme praksis yang tidak mekanis dan tidak linear: seleksi awal, persuasi kolektif, eksekusi bertahap, refleksi, rekontekstualisasi, kontrol, peningkatan, dan mitigasi. Kedelapan mekanisme tersebut bergerak secara berulang, saling mempengaruhi, serta dikendalikan oleh interaksi faktor empirik dan faktor laten. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa inovasi pesantren dapat menghadirkan konsekuensi tak terduga, seperti fragmentasi koordinasi, beban belajar ganda, eksklusi simbolik, tekanan performativitas, teknologisasi kontrol, dan formalisasi relasi pedagogis.
This study examines pesantren educational innovation in the context of social change, state policy, technology, and community needs. Pesantren innovation is not understood as a linear shift from tradition to modernity, but as a socio-pedagogical process shaped by values, authority, institutional structures, scholarly traditions, and external pressures.
This research employs a qualitative approach with a multi-site case study design at Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Perguruan Islam Mathali’ul Falah Kajen Pati, and Pesantren Darunnajah Jakarta. The unit of analysis is the pesantren education system as a socio-pedagogical configuration, encompassing formal, non-formal, and/or integrated educational units within the pesantren ecosystem. Data were collected through in-depth interviews, observation, and document analysis, and were analyzed through thematic analysis, intra-case analysis, cross-case analysis, theoretical dialogue, and conceptual synthesis.
The findings reveal three orientations of pesantren educational innovation: Integration–Multiformat at Bahrul Ulum, Traditional–Intensive at PIM, and Modern–Progressive at Darunnajah. These orientations do not represent a hierarchy of progress, but rather configurative centers of gravity shaped by history, authority, scholarly tradition, institutional structure, state policy, and community needs.
The main contribution of this study is the concept of the Configurative Spectrum of Pesantren Innovation. This spectrum explains that pesantren innovation operates through eight practical mechanisms that are neither mechanical nor linear: initial selection, collective persuasion, gradual execution, reflection, recontextualization, control, improvement, and mitigation. These mechanisms move recursively, influence one another, and are shaped by the interaction between empirical and latent factors. The study also shows that pesantren innovation may produce unintended consequences, such as coordination fragmentation, dual learning burdens, symbolic exclusion, performativity pressure, technologized control, and the formalization of pedagogical relations.
Kata Kunci : inovasi pendidikan pesantren, Spektrum Konfiguratif, sistem pendidikan pesantren, tradisi dan adaptasi, sosial–pedagogis/ pesantren educational innovation, Configurative Spectrum, pesantren education system, tradition and adaptation, socio-pedagogical.