Korean aesthetics, local electability: K-popfication as political capital in Indonesia's 2024 presidential election
Jacinda Nuurun Addunyaa, Abdul Gaffar Karim
2026 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHANPenelitian ini mengkaji fenomena K-popfication dalam Pemilihan Presiden Indonesia 2024 dengan mengeksplorasi budaya penggemar K-pop ditransformasikan menjadi modal politik untuk mendukung Anies Baswedan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang memadukan netnografi pasif, analisis isi kualitatif, dan wawancara semi-terstruktur dengan pendiri @blissfulnim sekaligus anggota tim branding Anies Baswedan. Data dikumpulkan dari interaksi publik di platform X, meliputi unggahan, tagar, proyek penggemar, serta konten multimedia dari akun-akun bertema K-pop seperti @aniesbubble dan @blissfulnim selama periode 29 Desember 2023 hingga 14 Februari 2024. Penelitian ini menggunakan konsep modal budaya dan modal politik Pierre Bourdieu (1991) untuk menganalisis praktik budaya penggemar K-pop membangun legitimasi, pengakuan simbolik, dan keterlibatan politik pada kalangan pemilih pemuda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa K-popfication menghasilkan modal politik simbolik melalui keterikatan afektif dan identitas kolektif. Penelitian ini memperluas konsep modal politik Bourdieu ke dalam konteks budaya populer digital dalam kampanye elektoral kontemporer.
This study examines the phenomenon of K-popfication in the 2024 Indonesian presidential election, exploring how K-pop fan culture was transformed into political capital to supporting Anies Baswedan. Employing qualitative descriptive approach the study combines passive netnography, qualitative content analysis, and a semi-structured interview with the founder of @blissfulnim and a member of Baswedan's branding team. Data were collected from public interactions on X, including posts, hashtags, fan projects, and multimedia content from K-pop-themed accounts such as @aniesbubble and @blissfulnim collected between 29 December 2023 and 14 February 2024. Drawing on Pierre Bourdieu's (1991) concepts of cultural and political capital, legitimacy, and political engagement among young voters. The findings show that K-popfication generated symbolic political capital through affective engagement and collective identity. The study extends Bourdieu's concept of political capital to digital popular culture in contemporary electoral campaigns.
Kata Kunci : K-popfication; political capital; symbolic capital