Kontestasi Pembangunan Pariwisata Kepulauan Banda: Pemetaan Aktor dan Pertarungan Wacana dalam Perspektif Ekonomi-Politik Kultural
Hanindito Yogiswara, Kuskridho Ambardi, P.hD
2026 | Skripsi | Sosiologi
Penetapan Kepulauan Banda Neira sebagai bagian dari Kawasan Strategis Pariwisata Nasional, yang dikukuhkan melalui Rencana Induk Masterplan Pengembangan dan Penataan Kawasan Banda Neira dan Sekitarnya 2025–2045, menempatkan sektor pariwisata sebagai basis utama pembangunan kawasan, sementara dua sektor penghidupan lain yang telah lama menopang masyarakat Banda, yaitu perikanan dan perkebunan pala, berpotensi tersubordinasi. Penelitian ini menganalisis bagaimana Cultural Political Economy (CPE) melalui Critical Grounded Theory (CGT) dapat menjelaskan kontestasi pembangunan di Kepulauan Banda Neira pada ketiga sektor tersebut. Menggunakan kerangka Critical Discourse Analysis (Kallert dkk., 2021) dan data etnografi lapangan, penelitian ini memetakan aktor vertikal (negara dan elit global pariwisata) serta aktor horizontal (elit lokal warisan Des Alwi, nelayan, petani, dan komunitas pemuda), dan merekonstruksi lima imajinari ekonomi yang bersirkulasi di ruang publik. Analisis mekanisme evolusioner Variasi-Seleksi-Retensi (Jessop dan Sum) menunjukkan bahwa fase seleksi digerakkan oleh selektivitas struktural yang bekerja pada tiga dimensi, yaitu spasial (logika core-periphery), institusional (paradoks negara merkantilis dan hollowing out), dan kelas (ekonomi rentier elit lokal). Hasil penelitian menemukan bahwa retensi wacana menghasilkan konfigurasi pembangunan yang menyubordinasikan sektor perikanan dan perkebunan pala di bawah pariwisata secara diskursif, spasial, institusional, dan material, meskipun sebagian retensi negara mengalami kegagalan akibat resistensi spasial, dan sebagian wacana subaltern berhasil melembaga melalui pembentukan asosiasi lokal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kontestasi di Banda bukan pergulatan kepentingan yang setara antar-aktor, melainkan proses politikasi wacana yang berakar pada kelanjutan struktural akumulasi kapital sejak era kolonial. Penelitian ini berkontribusi pada literatur CPE dengan menghadirkan variasi geografis kepulauan kecil pascakolonial Asia Tenggara.
The designation of the Banda Islands as part of Indonesia's National Strategic Tourism Area, formalized through the 2025–2045 Master Plan for the Development and Spatial Arrangement of Banda Neira and Its Surroundings, positions tourism as the primary basis for regional development, while two livelihood sectors that have long sustained the local population, fisheries and nutmeg cultivation, risk being subordinated. This study examines how Cultural Political Economy (CPE), operationalized through Critical Grounded Theory (CGT), can explain the contestation of development in the Banda Islands across these three sectors. Drawing on Critical Discourse Analysis (Kallert et al., 2021) and ethnographic fieldwork, this study maps vertical actors (the state and global tourism elites) and horizontal actors (local elites inheriting the Des Alwi network, fishers, farmers, and youth communities), and reconstructs five competing economic imaginaries circulating in the public sphere. Analysis of the evolutionary Variation-Selection-Retention mechanism (Jessop and Sum) shows that the selection phase is driven by structural selectivity operating across three dimensions: spatial (core-periphery logic), institutional (the paradox of a mercantilist yet hollowed-out state), and class (local elite rentier economy). The findings show that discursive retention produces a development configuration that subordinates fisheries and nutmeg cultivation beneath tourism, discursively, spatially, institutionally, and materially, although some instances of state retention failed due to spatial resistance, while some subaltern discourses successfully institutionalized through the formation of a local association. The study concludes that contestation in Banda is not an equal contest of interests among actors, but a process of discursive politicization rooted in the structural continuation of capital accumulation since the colonial era. This research contributes to the CPE literature by extending its geographic scope to a small, postcolonial Southeast Asian archipelago.
Kata Kunci : Ekonomi Politik Kultural, Critical Grounded Theory, kontestasi pembangunan, pemetaan aktor, selektivitas struktural, pariwisata kepulauan kecil