Penyutradaraan Dalam Film Dokumenter Ngontrak: Prekaritas Hunian di Kota Yogyakarta
Azra Syifa Ul Wafa Nyzaputri, Mashita Phitaloka Fandia Purwaningtyas., S. I. P., M.A.
2026 | Skripsi | Ilmu Komunikasi
Laporan akhir ini
berfokus pada peran penyutradaraan film dokumenter Ngontrak sebagai
medium representasi isu prekaritas hunian di Kota Yogyakarta. Dengan tujuan
mendeskripsikan peran sutradara dalam tahapan praproduksi, produksi, dan
pascaproduksi, sekaligus merefleksikan proses kreatif dalam membangun narasi
dokumenter berbasis realitas. Pendekatan berbasis
karakter (character-driven)
melalui narasumber utama sebagai pusat narasi memungkinkan penyampaian isu
secara lebih humanis dan kontekstual, sehingga mampu membangun kedekatan
emosional dengan penonton.
Film dokumenter Ngontrak
mengangkat kisah keseharian Mak Tum sebagai representasi pengalaman hidup
masyarakat urban berpenghasilan rendah dalam situasi ketidakpastian
(prekaritas) hunian di Kota Yogyakarta. Berlatar belakang pada keterbatasan
akses terhadap hunian layak, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah,
fenomena ini kemudian hadir sebagai realitas yang kerap dianggap ”normal” dalam
kehidupan sehari-hari, meskipun memiliki dampak signifikan terhadap kualitas
hidup individu. Dalam hal ini, sutradara memposisikan pengalaman personal Mak
Tum sebagai titik masuk untuk membangun representasi yang konkret dan
kontekstual melalui pendekatan observasional.
Sutradara memiliki
peran strategis dalam aspek teknis dan juga konseptual, termasuk dalam
menentukan sudut pandang, membangun pendekatan naratif, serta menjalin relasi
dengan subjek. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penyutradaraan berperan penting
dalam membentuk narasi dokumenter yang autentik, reflektif, serta mampu
menjadikan film sebagai medium representasi sosial yang efektif dalam
meningkatkan kesadaran publik terhadap isu prekaritas hunian.
Kata kunci: prekaritas hunian, penyutradaraan, film
dokumenter
This final
report focuses on the role of directing in the documentary film Ngontrak as a
medium for representing the issue of housing precarity in the city of
Yogyakarta. It aims to describe the director’s role across the stages of
pre-production, production, and post-production, while also reflecting on the
creative process in constructing a reality-based documentary narrative. A
character-driven approach, centered on the main subject as the narrative focal
point, enables the issue to be conveyed in a more humanistic and contextual
manner, thereby fostering emotional engagement with the audience.
The documentary
Ngontrak portrays the daily life of Mak Tum as a representation of the lived
experiences of low-income urban communities facing housing insecurity
(precarity) in Yogyakarta. Against the backdrop of limited access to adequate
housing, particularly for low-income groups, this phenomenon often emerges as a
“normalized” reality in everyday life, despite its significant impact on
individual quality of life. In this context, the director positions Mak Tum’s
personal experience as an entry point to construct a concrete and contextual
representation through an observational approach.
The director
holds a strategic role not only in technical aspects but also in conceptual
ones, including determining the point of view, shaping the narrative approach,
and establishing relationships with the subject. It can therefore be concluded
that directing plays a crucial role in forming an authentic and reflective
documentary narrative, while positioning film as an effective medium of social
representation capable of raising public awareness of housing precarity issues.
Keywords: housing precarity, directing, documentary
film
Kata Kunci : prekaritas hunian, penyutradaraan, film dokumenter