Laporkan Masalah

Peran Sutradara dalam Film Dokumenter Jalaran Sukma (2026): Aktualisasi Diri Seniman Penyandang Disabilitas dari Jogja Disability Arts

Venu Syalendra Hadianly, Dr. Novi Kurnia, M.Si., M.A. ; Luhki Herwanayogi, S.I.P.

2026 | Skripsi | Ilmu Komunikasi

Karya tugas akhir ini mengkaji peran sutradara dalam pembuatan film dokumenter Jalaran Sukma (2026) yang pengerjaannya dimulai sejak Maret 2025 hingga diputar dalam screening perdana pada 6 Maret 2026. Film ini mendokumentasikan perjalanan diri Butong Idhar, seorang seniman penyandang disabilitas yang mendirikan Jogja Disability Arts sebagai ruang pemberdayaan komunitas seni di Yogyakarta. Film ini menggunakan model sosial disabilitas sebagai kerangka utama, dengan memahami hambatan yang dihadapi penyandang disabilitas bukan sebagai kondisi individual melainkan sebagai hasil dari sistem sosial yang tidak inklusif. Melalui penggabungan mode ekspositori dan observasional,  sutradara mendokumentasikan pengalaman autentik tentang aktualisasi diri seniman penyandang disabilitas sekaligus menghadirkan pembahasan isu dan konteks yang mendalam. Untuk menghindari narasi supercrip dan ableism, sutradara melibatkan narasumber sebagai subjek aktif dalam proses pembuatan film. Karya ini menjelaskan peran sutradara secara menyeluruh, mulai dari tahap praproduksi, produksi, hingga pascaproduksi pada film Jalaran Sukma (2026).

This work explores the role of the director in the making of the documentary film Jalaran Sukma (2026), a project that began in March 2025 and concluded with its premiere screening on March 6th , 2026. The film documents the journey of Butong Idhar, a disabled artist who founded Jogja Disability Arts as a space for disability and arts community empowerment in Yogyakarta. Using the social model of disability as its primary framework, the film understands the barriers faced by persons with disabilities not as individual conditions but as the product of a social system that fails to be inclusive. Through a combination of expository and observational modes, the director documents an authentic portrayal of a disabled artist’s self-actualization while providing an in-depth exploration of the surrounding issues and context. To avoid narratives of supercrip and ableism, the director involved the subject as an active participant throughout the filmmaking process. This work explains the director’s role comprehensively, covering the stages of pre-production, production, and post-production of Jalaran Sukma (2026).

Kata Kunci : film dokumenter, penyutradaraan, model sosial disabilitas, komunitas seni, aktualisasi diri

  1. S1-2026-498998-abstract.pdf  
  2. S1-2026-498998-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-498998-title.pdf