Laporkan Masalah

Reaksi Linalool Dengan Metanol Berkatalis H2SO4: Kajian Mekanisme Reaksi dan Komparasi Melalui Metode Refluks dan Sonikasi

Swarovskia Aureli, Prof. Dr. Winarto Haryadi, M.Si.; Dr.Sc. Robby Noor Cahyono, M.Si.

2026 | Skripsi | KIMIA

Telah dilakukan reaksi antara linalool yang berasal dari minyak nampu dan metanol menggunakan katalis asam sulfat (H2SO4). Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi senyawa hasil reaksi antara linalool dari minyak nampu dan metanol dengan katalis H2SO4 dengan menggunakan analisis GC-MS, (2) membandingkan hasil reaksi antara linalool dari minyak nampu dan metanol menggunakan variasi metode reaksi refluks dan sonikasi berdasarkan senyawa linalil format yang dihasilkan, dan (3) menganalisis pengaruh variasi waktu reaksi untuk menentukan efektivitas pembentukan linalil format pada masing-masing variasi metode (sonikasi 30 dan 45 menit; refluks 2 dan 4 jam).

Penelitian ini dimulai dengan analisis linalool yang berasal dari minyak atsiri tanaman nampu (Homalonema javanica) dengan menggunakan GC-MS, kemudian mereaksikan linalool dengan metanol menggunakan katalis H2SO4. Metode yang digunakan, yaitu sonikasi dan refluks. Produk reaksi kemudian dimurnikan melalui tahap pencucian dan pengeringan, kemudian dianalisis kembali menggunakan GC-MS.

Hasil analisis menunjukkan bahwa metode sonikasi tidak efektif dalam mendorong reaksi esterifikasi, di mana variasi waktu 30 menit tidak menghasilkan linalil format yang terdeteksi (0% area) dan variasi waktu 45 menit hanya menghasilkan 2,30% area. Sementara itu, metode refluks dengan variasi waktu 2 jam menghasilkan linalil format sebanyak 12,17% area dengan produk samping sebesar 14,63% area. Refluks selama 4 jam merupakan kondisi reaksi yang paling efektif, menghasilkan linalil format sebesar 13,72% area dengan produk samping sebesar 10,72% area.


A reaction was carried out between linalool derived from nampu essential oil and methanol using sulfuric acid (H2SO4) as a catalyst. This study aimed to: (1) identify the compounds produced from the reaction between linalool from nampu essential oil and methanol in the presence of H2SO4 using GC–MS analysis, (2) compare the reaction outcomes obtained using reflux and sonication methods based on the relative abundance of linalyl formate produced, and (3) evaluate the effect of reaction time on the effectiveness of linalyl formate formation for each reaction method (30 and 45 min for sonication; 2 and 4 hours for reflux).

The study commenced with the analysis of linalool derived from the essential oil of the nampu plant (Homalonema javanica) using GC–MS, followed by its reaction with methanol in the presence of H2SO4 as a catalyst. The reactions were conducted using sonication and reflux methods. The resulting products were purified trough washing and drying procedures, and subsequently analyzed using GC–MS.

The results demonstrated that the sonication method was ineffective in promoting the esterification reaction. No linalyl formate was detected after 30 min of sonication, whereas only a 2.30% relative peak area of linalyl formate was obtained after 45 min. In contrast, the reflux method produced linalyl formate with a relative peak area 12.17% with 14.63% peak area by-products after 2 h of reaction. The 4 h reflux reaction was found to be the most effective condition, yielding linalyl formate with a relative peak area of 13.72% and by-products with a relative peak area of 10.72%.


Kata Kunci : minyak atsiri nampu, linalool, linalil format, esterifikasi, GC-MS

  1. S1-2026-493481-abstract.pdf  
  2. S1-2026-493481-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-493481-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-493481-title.pdf