Analisis Willingness to Pay Calon Pengguna Layanan Kereta Rel Listrik (KRL) Cikarang 24 Jam
Ailsa Aurelia, Siti Muslihah, S.E., M.Sc., CFP. CMA
2026 | Tugas Akhir | D4 Akuntansi Sektor Publik
Keterbatasan jam operasional KRL Cikarang memaksa pekerja shift malam menginap di stasiun. Kementerian Perhubungan tengah mengkaji rencana pengoperasian KRL Cikarang 24 jam, namun rencana tersebut menghadapi tantangan berupa tingginya biaya operasional, padatnya jadwal kereta barang dan kereta jarak jauh di malam hari, serta terbatasnya waktu perawatan infrastruktur rel. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik dan besaran Willingness to Pay (WTP) calon pengguna layanan KRL Cikarang 24 jam sebagai dasar empiris perumusan kebijakan tarif yang berkelanjutan. Penelitian menggunakan metode Stated Preference (SP) dengan atribut layanan waktu tempuh, waktu tunggu, kenyamanan, dan keamanan. Sampel dikumpulkan secara purposive dari pekerja shift di Stasiun Cikarang dan dianalisis menggunakan model Multinominal Logistic Regression (MNL). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa mayoritas responden bersedia membayar tambahan Rp2.000 per perjalanan, dengan keamanan sebagai atribut yang paling mendorong kesediaan membayar. Model MNL mengungkap pola Willingness to Pay (WTP) berjenjang. Kenyamanan menjadi prasyarat pada tarif menengah, sedangkan kesediaan membayar premium muncul ketika efisiensi waktu tempuh dan konsistensi waktu tunggu terpenuhi secara bersamaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa struktur tarif KRL Cikarang 24 jam sebaiknya diterapkan secara bertahap sesuai pola WTP yang teridentifikasi, dengan keamanan diprioritaskan sejak hari pertama operasional.
The limited operating hours of the Cikarang Commuter Line force night-shift workers to spend the night at the station. The Ministry of Transportation is currently reviewing plans to operate the Cikarang Commuter Line 24 hours a day, but these plans face challenges in the form of high operating costs, a congested schedule of freight and long-distance trains at night, and limited time for track infrastructure maintenance. This study aims to analyze the characteristics and level of Willingness to Pay among potential users of the 24-hour Cikarang KRL service as an empirical basis for formulating sustainable fare policies. The study employs the Stated Preference (SP) method, using service attributes such as travel time, waiting time, comfort, and safety. The sample was collected through purposive sampling from shift workers at Cikarang Station and analyzed using a Multinomial Logistic Regression (MNL) model. The results show that the majority of respondents are willing to pay an additional Rp2,000 per trip, with safety being the attribute that most strongly drives Willingness to Pay. The MNL model reveals a tiered pattern of Willingness to Pay. Comfort is a prerequisite at the mid-range fare level, while a Willingness to Pay a premium emerges when travel time efficiency and consistent wait times are met simultaneously. This study concludes that the 24-hour Cikarang KRL fare structure should be implemented gradually in accordance with the identified WTP pattern, with safety prioritized from the first day of operation.
Kata Kunci : Cikarang 24 jam, Multinominal Logistic Regression (MNL), Stated Preference, Transportasi publik, Willingnes to Pay (WTP).