Ilusi Berjalan Lurus di Jalan Buntu: Telaah Lirik ‘Senin Toko Tutup’ Karya .Feast
Putri Valentin Febrianti, Prof. Dr. Purwo Santoso, M.A.
2026 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN
Grup musik .Feast tidak sekadar berkesenian melalui karya-karyanya, melainkan turut menyajikan arsip dokumentasi sosiologis yang merekam kontradiksi kelas dan ketimpangan struktural dalam keistimewaan kehidupan publik di Indonesia. Di tengah fiksasi negara yang menarasikan ilusi 'berjalan lurus' menuju cita-cita agung berdaulat, adil, dan makmur, warga negara sesungguhnya terjebak dalam perlombaan bertahan hidup akibat kemiskinan terstruktur dan monopoli privilese oleh segelintir elite. Melalui lagu 'Senin Toko Tutup', Feast menelanjangi ilusi tersebut sebagai instrumen penyadaran edukatif. Sebagai upaya untuk membongkar obiektifikasi negara sekaligus mengkritisi kepatuhan hegemonik terhadap sistem yang dianggap mapan lewat pencarian makna interpretatif lirik, penelitian ini mengaplikasikan metode kualitatif.
Penelitian ini menggunakan pandangan strukturalisme konstruktivis Pierre Bourdieu sebagai kacamata bedah yang utama guna membongkar narasi tersebut. Hasil analisis mengungkap empat temuan utama: (1) terdapat praktik pembodohan terstruktur yang bersembunyi dalam ilusi linearitas; (2) terjadinya mutasi habitus dan anatomi kemiskinan kesadaran; (3) beroperasinya aparatus ideologi; serta (4) adanya disrupsi kultural yang terbentur oleh realitas material. Penelitian ini menyimpulkan bahwa mitos "berjalan lurus" merupakan bentuk pelanggengan kekerasan simbolik yang menciptakan kondisi negara dan masyarakat yang ajek (stagnan), di mana terjadi kemacetan mobilitas kelas menengah yang terjebak di ujung jalan buntu.
The musical group .Feast does not merely create art through their works; rather, they present a sociological documentary archive that captures class contradictions and structural inequalities within the dynamics of public life in Indonesia. Amidst a state fixation that narrates the illusion of "moving straight ahead" toward the noble ideals of a sovereign, just, and prosperous nation, citizens are actually trapped in a race for survival due to structured poverty and the monopoly of privilege by a handful of elites. Through the song "Senin Toko Tutup," .Feast strips bare this illusion, transforming it into an educational consciousness-raising instrument. As an effort to dismantle state objectification while criticizing hegemonic compliance toward an established system through an interpretive analysis of the lyrics, this study applies a qualitative method.
This research utilizes Pierre Bourdieu’s constructivist structuralism as the primary analytical lens to deconstruct this narrative. The analysis reveals four main findings: (1) the practice of structured stultification hidden within the illusion of linearity; (2) the mutation of habitus and the anatomy of the poverty of consciousness; (3) the operation of ideological apparatuses; and (4) a cultural disruption that collides with material reality. This study concludes that the myth of "moving straight ahead" is a form of perpetuating symbolic violence that creates a stagnant (unchanging) state of both nation and society, leading to a mobility gridlock (stuckness) for the middle class trapped at the end of a dead-end road.
Kata Kunci : Kelas Menengah, .Feast, Kekerasan Simbolik, Habitus, Ranah.