Laporkan Masalah

Pembangunan Beach Club di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta Dalam Perspektif Etika Keutamaan

Fadhlan Rio Lazuardy, Dr. Ridwan Ahmad Sukri, S.S., M.Hum.

2026 | Skripsi | ILMU FILSAFAT

Penelitian ini berupaya untuk menilik proses Pembangunan beach club oleh Raffi Ahmad di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta menggunakan perspektif etika keutamaan yang dikembangkan oleh berbagai filsuf. Penelitian ini mendeskripsikan proses dan dinamika di balik rencana pembangunan beach club oleh Raffi Ahmad di kawasan pesisir karst Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, hingga akhirnya menuai polemik dan pembatalan. Setelah itu, penelitian ini menganalisis persoalan tersebut secara kritis menggunakan kerangka etika keutamaan (virtue ethics) Aristotelian, dengan fokus pada tiga kebajikan inti, yaitu kebijaksanaan praktis (phronesis), keadilan (justice), dan pengendalian diri (temperance). 

Penelitian ini merupakan studi pustaka (library research) dengan pendekatan deskriptif-kualitatif. Data dikumpulkan melalui penelusuran dan telaah mendalam terhadap sumber-sumber primer, terutama karya-karya fundamental Aristoteles, Alasdair MacIntyre, dan para pemikir etika bisnis kontemporer seperti Robert C. Solomon dan Geoff Moore. Sumber sekunder yang relevan, seperti literatur tentang pariwisata berkelanjutan, ekologi karst, kebijakan tata ruang, serta pemberitaan dan dokumen terkait polemik beach club di Gunungkidul, juga digunakan untuk memperkaya dan mengontekstualisasikan analisis. Data dianalisis menggunakan metode deskripsi dan interpretasi filosofis untuk menyingkap makna di balik fakta empiris dan gagasan normatif. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa polemik tersebut merupakan cerminan dari benturan antara logika institusional yang mengejar external goods (keuntungan, popularitas) dengan logika praktik sosial yang mempertahankan internal goods (kelestarian ekosistem karst, solidaritas komunitas pesisir). Analisis etika keutamaan mengungkapkan bahwa proyek ini mengalami kegagalan moral fundamental. Pertama, terjadi kekurangan phronesis (kebijaksanaan praktis) yang tercermin dari ketidakmampuan para pemangku kepentingan dalam membaca dan menghormati konteks spesifik dan kerentanan ekologis kawasan karst. Kedua, terdapat pelanggaran terhadap justice (keadilan), baik dalam distribusi manfaat dan risiko yang timpang, maupun dalam pengabaian hak partisipasi substantif masyarakat lokal. Ketiga, absennya temperance (pengendalian diri) terlihat dari ambisi ekspansif (pleonexia) yang mengabaikan batas-batas daya dukung lingkungan. Dengan demikian, etika keutamaan memandang pembatalan proyek ini bukan sekadar kegagalan prosedural, melainkan sebuah koreksi moral atas praktik pembangunan yang tidak berkarakter. Penelitian ini berimplikasi pada perlunya reorientasi paradigma bisnis pariwisata yang tidak hanya berbasis legalitas dan profit, tetapi juga berakar pada kebajikan untuk mencapai eudaimonia atau kehidupan yang baik bersama. 

This research aims to examine the development process of the beach club by Raffi Ahmad in Gunungkidul Regency, Special Region of Yogyakarta, using the perspective of virtue ethics as developed by various philosophers. This research describes the process and dynamics behind the planned construction of the beach club by Raffi Ahmad in the coastal karst area of Gunungkidul Regency, Yogyakarta, which ultimately led to controversy and cancellation. Subsequently, this research critically analyzes the issue using the framework of Aristotelian virtue ethics, focusing on three core virtues, namely practical wisdom (phronesis), justice (justice), and self-control (temperance).. 

This research is a library research study with a descriptive-qualitative approach. Data were collected through in-depth examination of primary sources, especially the fundamental works of Aristotle, Alasdair MacIntyre, and contemporary business ethics thinkers such as Robert C. Solomon and Geoff Moore. Relevant secondary sources, including literature on sustainable tourism, karst ecology, spatial planning policies, as well as news reports and documents related to the beach club polemic in Gunungkidul, were also used to enrich and contextualize the analysis. The data were analyzed using methods of philosophical description and interpretation to uncover the meaning behind empirical facts and normative ideas. 

The results of the study indicate that the controversy reflects a clash between the institutional logic pursuing external goods (profit, popularity) and the logic of social practices maintaining internal goods (preservation of the karst ecosystem, solidarity of the coastal community). The analysis through virtue ethics reveals a fundamental moral failure in the project. First, there was a deficiency of phronesis(practical wisdom), reflected in the stakeholders' inability to read and respect the specific context and ecological vulnerability of the karst area. Second, a violation of justice occurred, both in the unequal distribution of benefits and risks, and in the neglect of the local community's right to substantive participation. Third, the absence of temperance (self-control) was evident in the expansive ambition (pleonexia) that ignored the limits of environmental carrying capacity. Thus, from the perspective of virtue ethics, the cancellation of this project is not merely a procedural failure, but a moral correction of development practices lacking in virtuous character. This research implies the need to reorient the paradigm of the tourism business, basing it not only on legality and profit but also rooting it in virtues to achieve eudaimonia, or a good life, together.

Kata Kunci : Virtue Ethics, Aristotle, Beach Club, Karst, Business, Sustainable Tourism.

  1. S1-2026-481800-abstract.pdf  
  2. S1-2026-481800-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-481800-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-481800-title.pdf