Laporkan Masalah

Perancangan Pengelolaan Piutang yang Lebih Efektif pada PT Gurita Lintas Samudera

Brilianti Almalika Kartika Putri, Dina Natasari, S.E., M.Si., Ak.

2026 | Tugas Akhir | D4 Akuntansi Sektor Publik

Industri pelayaran Indonesia memiliki ketergantungan tinggi pada transaksi kredit, sehingga piutang usaha menjadi komponen kritis dalam struktur working capital perusahaan. PT Gurita Lintas Samudera, salah satu perusahaan pelayaran nasional terbesar, menghadapi permasalahan serius berupa belum tersedianya Standard Operating Procedure (SOP) pengelolaan piutang yang terintegrasi dan terstandarisasi. Ketiadaan SOP yang terintegrasi ini mengakibatkan seluruh proses pengelolaan piutang, mulai dari pemberian kredit hingga penagihan, berjalan secara informal dan bergantung pada kebijaksanaan individu tanpa panduan tertulis yang konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sistem pengendalian piutang PT Gurita Lintas Samudera selama periode 2020–2024 berdasarkan kerangka COSO 2013 dan merancang Standard Operating Procedure (SOP) terintegrasi pengelolaan piutang yang lebih efektif. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan studi dokumentasi, dengan triangulasi sebagai teknik validasi data. Hasil penelitian menunjukkan kelemahan mendasar pada empat dari lima komponen COSO 2013: tidak adanya kebijakan kredit tertulis dan ketidakjelasan fungsi antardepartemen (Control Environment); tidak adanya prosedur credit scoring formal (Risk Assessment); tidak adanya SOP terintegrasi dan segregation of duties yang memadai (Control Activities); serta pengelolaan aging schedule yang dilakukan secara manual oleh satu orang tanpa sistem terotomatisasi (Information & Communication). Rancangan SOP terintegrasi yang diusulkan mencakup enam tahap berkesinambungan dan diproyeksikan mencapai lima KPI utama, di antaranya Collection Rate ?85%, DSO ?60 hari, dan penurunan piutang tak tertagih ?15% per tahun.

Indonesia's shipping industry is highly dependent on credit transactions, making trade receivables a critical component of corporate working capital structure. PT Gurita Lintas Samudera, one of the largest national shipping companies, faces a serious challenge in the absence of an integrated and standardized Standard Operating Procedure (SOP) for receivables management. This absence has caused the entire receivables management process from credit granting to collection to operate informally, relying on individual discretion without consistent written guidelines. This study aims to identify the receivables control system of PT Gurita Lintas Samudera during the 2020–2024 period based on the COSO 2013 framework, and to design a more effective integrated SOP for receivables management. A qualitative approach with a case study research design was employed. Data were collected through in-depth interviews, direct observation, and document review, with triangulation applied as the data validation technique. The findings reveal fundamental weaknesses across four of the five COSO 2013 components: the absence of written credit policies and unclear inter-departmental functions (Control Environment); the lack of formal credit scoring procedures (Risk Assessment); the absence of an integrated SOP and adequate segregation of duties (Control Activities); and the manual management of aging schedules by a single individual without an automated system (Information & Communication). The proposed integrated SOP encompasses six sequential stages and is projected to achieve five key performance indicators, including a Collection Rate of ?85%, Days Sales Outstanding (DSO) of ?60 days, and a reduction in uncollectible receivables of ?15% per year.

Kata Kunci : industri pelayaran, kerangka COSO 2013, pengendalian internal, pengelolaan piutang, piutang tak tertagih, SOP terintegrasi

  1. D4-2026-499637-abstract.pdf  
  2. D4-2026-499637-bibliography.pdf  
  3. D4-2026-499637-tableofcontent.pdf  
  4. D4-2026-499637-title.pdf