Pengembangan Kompetensi Hijau dan Ilmu Kerja Kehutanan pada Pendidikan Tinggi Kehutanan
Nabiila Izzatin Husna, Ir. Ratih Madya Septiana, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPM.; Ir. Hermudananto, S.Hut., M.Sc., IPM, ASEAN Eng.
2026 | Skripsi | KEHUTANAN
Transisi Indonesia menuju ekonomi hijau dan target Net Zero Emissions 2060 menuntut tersedianya tenaga kerja kompeten dalam green jobs, di sektor kehutanan. Penelitian ini bertujuan: (1) mengidentifikasi kompetensi hijau dan ilmu kerja kehutanan berdasarkan dimensi knowledge, skill, dan attitude (KSA) untuk mendukung green jobs; dan (2) mengidentifikasi kesenjangan antara kompetensi yang dipelajari dalam pendidikan tinggi kehutanan dan kebutuhan praktik kerja profesional.
Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods, pengumpulan data kuantitatif melalui kuesioner daring yang disebarkan kepada 81 alumni pendidikan tinggi kehutanan, dilengkapi dengan data kualitatif dari pertanyaan terbuka dan wawancara terstruktur dengan 3 narasumber praktisi kehutanan. Data kuantitatif dianalisis statistik deskriptif, analisis deskriptif kualitatif untuk data kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi hijau yang paling dibutuhkan mencakup Prinsip Pengelolaan Hutan Berkelanjutan (84%), GIS dan Teknologi Satelit (84%), serta Komitmen terhadap Keberlanjutan Lingkungan (96%) sebagai nilai yang hampir universal. Ilmu kerja kehutanan kompetensi pengetahuan bertumpu pada teori dasar kehutanan (33%), keterampilan mencakup keterampilan GIS (40%), sedangkan sikap meliputi integritas, kejujuran & profesionalisme (43%). Terdapat lima kesenjangan yaitu kesenjangan eksplisit kurikulum, kesenjangan kompetensi dengan kebutuhan dunia kerja, kesenjangan digital, kesenjangan mental, dan kesenjangan komunikasi.
Indonesia’s transition toward a green economy and its 2060 Net Zero Emissions target require a workforce equipped with competencies relevant to green jobs. This study aims to: (1) identify green competencies and forestry work science based on the dimensions of knowledge, skills, and attitudes (KSA) to support green jobs; and (2) identify the gap between competencies acquired through forestry higher education and those demanded in professional work settings.
This study employed a mixed-methods approach. Quantitative data were collected via an online questionnaire distributed to 81 forestry higher education alumni, complemented by qualitative data from open-ended questions and structured interviews with three forestry practitioners. Data were analyzed using descriptive statistics and qualitative methods.
The most essential green competencies include Principles of Sustainable Forest Management (84%), GIS and Satellite Technology (84%), and Commitment to Environmental Sustainability (96%). Forestry work science the knowledge competencies rest on basic forestry theory (33%);the skill competencies include GIS skills (40%); while the attitude competencies comprise integrity, honesty, and professionalism (43%). Five gaps were identified, namely the explicit curriculum gap, the gap between competencies and workplace needs, the digital gap, the mental-readiness gap, and the communication gap.
Kata Kunci : kompetensi hijau, green jobs, ilmu kerja kehutanan, pendidikan tinggi kehutanan; green competencies, jobs, forestry work science, forestry higher education