Sastra sebagai Ruang Rekonsiliasi Alternatif: Representasi Emosi, Trauma, dan Memori Kolektif dalam We Do Not Part Pascakekerasan Massal Jeju 4.3
Arsy Mahanani, Dr. Ririn Tri Nurhayati, S.I.P., M.Si., M.A.
2026 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional
Mekanisme rekonsiliasi formal pascakekerasan massal, misalnya Komisi Kebenaran, biasanya cenderung mengabaikan dimensi afektif dan aspek-aspek emosi yang penting terhadap proses pemulihan trauma. Dimensi ini cenderung lebih mudah dijangkau melalui proses rekonsiliasi kultural. Penelitian ini berupaya untuk mengkaji novel We Do Not Part (2021) karya Han Kang sebagai ruang rekonsiliasi alternatif dari tragedi kekerasan massal Jeju 4.3 yang melengkapi keterbatasan mekanisme formal tersebut. Dengan mengadaptasi metode analisis naratif bertahap, penelitian ini menganalisis bagaimana novel tersebut menjadi medium yang merepresentasikan trauma sebagai memori afektif, mentransmisikan luka sejarah secara intergenerasional, membangun ruang bagi pengakuan emosional terhadap kekerasan masa lalu, serta merawat ingatan sebagai bagian dari upaya rekonsiliasi jangka panjang. Penelitian ini juga menemukan bahwa sastra sebagai ruang rekonsiliasi alternatif memicu praktik sosial mengingat yang lebih luas, seperti meningkatnya kunjungan ke situs memorial, memantik forum diskusi publik, mendorong refleksi kolektif di tingkat komunitas, serta pengakuan sosial dalam skala global. Hal ini mendukung variasi sejarah yang mencegah penyederhanaan dan reduksi oleh negara. Namun, penelitian ini juga menegaskan bahwa sastra tidak menggantikan proses rekonsiliasi struktural, melainkan menyediakan alternatif yang melengkapi dan mendukung proses rekonsiliasi untuk perdamaian yang holistik dan berkelanjutan.
Formal reconciliation mechanisms following mass violence, such as Truth and Reconciliation Commissions, tend to overlook the affective dimensions and emotional aspects that are central to the trauma recovery process that is more readily accessible through cultural reconciliation. This study examines Han Kang's novel We Do Not Part (2021) as an alternative reconciliation space for the Jeju 4.3 mass violence tragedy, one that complements the limitations of formal mechanisms. Adapting a staged narrative analysis method, this research analyzes how the novel functions as a medium that represents trauma as affective memory, transmits historical wounds intergenerationally, constructs a space for emotional acknowledgment of past violence, and sustains remembrance as part of long-term reconciliation efforts. This study further finds that literature as an alternative reconciliation space catalyzes broader social practices of remembrance, including increased visits to memorial sites, the emergence of public discussion forums, collective reflection at the community level, and social recognition on a global scale, which are support historical plurality and resist state-driven simplification and erasure. Nevertheless, this study affirms that literature does not replace structural reconciliation processes, but rather provides a complementary alternative that supports reconciliation toward holistic and sustainable peace.
Kata Kunci : rekonsiliasi kultural, emosi, trauma, memori kolektif, Jeju 4.3