POLA PERMUKIMAN KAMPUNG TOBATI, ENGGROS, DAN KAYO PULAU DI TELUK YOUTEFA-HUMBOLDT KOTA JAYAPURA
Williams Christian De Mellian Aipassa, Prof. Ir. Ikaputra, M.Eng., Ph.D
2026 | Tesis | MAGISTER RANCANG KOTA
Penelitian ini mengkaji pola permukiman di atas air pada Kampung Tobati,
Enggros, dan Kayo Pulau di Kota Jayapura, Papua, serta faktor-faktor yang
memengaruhi pembentukannya. Latar belakang penelitian didasarkan pada terbatasnya
lahan daratan yang layak huni dan meningkatnya kebutuhan ruang akibat pertumbuhan
populasi, terutama di wilayah pesisir dan kepulauan seperti Indonesia. Ketiga kampung
ini dipilih karena memiliki karakteristik unik: berada di atas air, mempunyai sebuah
pulau kecil, dan tetap menjadi bagian dari sistem perkotaan.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis dan metode
sinkronik untuk mengidentifikasi elemen-elemen kawasan berdasarkan teori morfologi
perkotaan dan prinsip permukiman di atas air. Elemen yang dianalisis meliputi tata
sirkulasi, tata kavling, dan tata bangunan. Faktor-faktor sosial-budaya, ekonomi,
politik, keagamaan, dan kondisi alam turut diperhitungkan dalam pembentukan
struktur permukiman tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga kampung memiliki pola
permukiman linier yang mengikuti kontur garis pantai dan orientasi adat. Belum
mempunyai Tata kavling dan Tata Bangunan ditentukan oleh garis keturunan dan
kepemilikan adat yang didominasi rumah panggung satu lantai dengan orientasi
menghadap koridor utama. Gereja menjadi bangunan pusat sosial dan spiritual yang
khas. Faktor pembentuk utama berasal dari adaptasi terhadap lingkungan perairan,
sistem sosial-politik adat (keondoafian), pengaruh agama Kristen, ekonomi tradisional,
serta nilai-nilai budaya sosial, dan identitas lokal.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa pola permukiman di atas air tidak hanya
dipengaruhi oleh kondisi geografis, tetapi juga merupakan refleksi dari sistem sosial
dan budaya lokal yang diharapkan dapat menjadi acuan dalam perancangan
permukiman serupa di masa depan, terutama dalam konteks keterbatasan lahan darat
dan keberlanjutan pembangunan kawasan pesisir di Indonesia.
This study examines the form of stilt settlements in Kampung Tobati, Enggros,
and Kayo Pulau, located in Jayapura City, Papua, along with the factors influencing
their development. The research is grounded in the issue of limited habitable land and
the increasing demand for space due to population growth, especially in coastal and
archipelagic regions like Indonesia. These three villages were selected for their unique
characteristics: situated above water, located on small islands, and integrated into the
urban system.
The study employs a qualitative descriptive-analytical approach and
synchronic method to identify the physical elements of the settlements based on urban
morphology theory and the principles of water-based settlements. The elements
analyzed include circulation systems, land parceling, and building arrangements.
Socio-cultural, economic, political, religious, and environmental factors are also
considered in understanding the formation of these settlement structures.
Findings reveal that all three villages follow a linear settlement pattern,
aligned with the coastline and local cultural orientation. Although formal land
parceling systems are not yet established, the layout and building arrangements are
traditionally determined by kinship lines and customary ownership. The built
environment is dominated by single-story stilt houses facing the main circulation paths.
Churches serve as the central social and spiritual structures within the communities.
The primary shaping factors include adaptation to the aquatic environment, customary
socio-political systems (keondoafian), the influence of Christianity, traditional marine
based economies, and strong local cultural values and identities.
The study concludes that the physical form of stilt settlements is influenced not
only by geographic conditions but also reflects the social and cultural systems of the
local communities. These insights are expected to serve as a reference for future design
and planning of similar settlements, particularly in addressing land scarcity and
supporting sustainable coastal development in Indonesia.
Kata Kunci : Morfologi Perkotaan, Permukiman di atas Air, Pola Permukiman, Kampung Adat, Jayapura, Tobati, Enggros, Kayo Pulau.