Laporkan Masalah

Nyarira: Hubungan Kausalitas Tubuh Maskulin dan Kebaya Pada Kostum Dua Sinden Pria

Delfin Febriansyah, Dr. Wiwik Sushartami, M.A.; Dr. Rudy Wiratama, M.A.

2026 | Tesis | S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa

Penelitian ini mengkaji hubungan kausalitas antara tubuh maskulin dan kebaya sebagai kostum feminin dalam praktik performatif Dua Sinden Pria, Mimin dan Apri, di Klaten. Fenomena crossdressing dalam pagelaran wayang kulit ini dianalisis melalui kerangka interpretasi transendental yang mengintegrasikan fenomenologi tubuh Maurice Merleau-Ponty, konsep under erasure Jacques Derrida, dan teori second skin Donatella Barbieri. Penelitian menggunakan pendekatan fenomenologis kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui observasi tiga pertunjukan wayang kulit, wawancara mendalam dengan performer dan narasumber pendukung, serta studi dokumentasi. Analisis data dilakukan terhadap tiga dimensi performatif; gerak, laku, dan tindakan. Hubungan kausalitas yang ditemukan bersifat timbal balik dan dinamis, dimana kebaya secara aktif membentuk pola gerak, postur, dan kesadaran tubuh maskulin. Tubuh maskulin performer memodifikasi cara kebaya dipersepsi dan dimaknaiĀ  secara estetik maupun kultural. Relasi sebab-akibat yang saling mempengaruhi inilah yang menjadi inti analisis penelitian ini.

Temuan penelitian mengungkapkan bahwa kebaya bukan sekadar kostum eksternal, melainkan telah terintegrasi ke dalam skema tubuh melalui proses nyarira (bersatu dengan tubuh). Apri menunjukkan tingkat nyarira lebih tinggi dibanding Mimin, termanifestasi dalam penguasaan teknik berjalan feminin, postur tubuh, dan kontrol tubuh yang lebih halus. Perbedaan ini menciptakan pembagian kerja artistik yang saling melengkapi. Apri mengandalkan artikulasi feminin yang naturalis, sedangkan Mimin mengembangkan strategi kompensasi melalui dramatisasi verbal dan candaan fisik. Interpretasi transendental sebagai konsep kunci menunjukkan bahwa relasi tubuh-kostum bersifat kausal dan dinamis, menciptakan zona ambiguitas produktif di mana kategori gender konvensional menjadi tidak memadai. Transparansi konstruksi gender yang ditampilkan kedua performer justru menjadi strategi subversif yang mengekspos bahwa semua gender adalah capaian performatif yang dicapai melalui repetisi dan habituasi. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan metodologi pluralis yang mengintegrasikan perspektif teoretis Barat dengan konsep nyarira dari tradisi Jawa, menawarkan kerangka baru untuk memahami gender sebagai fenomena yang terbentuk dalam interaksi kompleks antara materialitas, kesadaran, dan praktik kultural berulang.


This study examines the causal relationship between the masculine body and kebaya as feminine costume in the performative practice of two male sinden (traditional Javanese female vocalists), Mimin and Apri, in Klaten. The crossdressing phenomenon in wayang kulit (shadow puppet) performances is analyzed through a transcendental interpretation framework that integrates Maurice Merleau-Ponty's phenomenology of the body, Jacques Derrida's concept of under erasure, and Donatella Barbieri's second skin theory. The research employs a qualitative phenomenological approach with data collection methods including observation of three wayang kulit performances, in-depth interviews with performers and supporting informants, and documentation study. Data analysis was conducted across three performative dimensions; movement, gesture, and action.

Research findings reveal that kebaya is not merely an external costume, but has been integrated into the body schema through the process of nyarira (unity with the body). Apri demonstrates a higher level of nyarira compared to Mimin, manifested in the mastery of feminine walking techniques, body posture, and more refined gestural control. This difference creates a complementary artistic division of labor. Apri relies on naturalistic feminine articulation, while Mimin develops compensatory strategies through verbal dramatization and physical comedy. Transcendental interpretation as a key concept demonstrates that the body-costume relationship is reciprocal and dynamic, creating a productive ambiguity zone where conventional gender categories become inadequate. The transparency of gender construction displayed by both performers becomes a subversive strategy that exposes that all gender is a performative achievement accomplished through repetition and habituation. This research contributes to the development of a pluralist methodology that integrates Western theoretical perspectives with the nyarira concept from Javanese tradition, offering a new framework for understanding gender as a phenomenon formed through complex interactions between materiality, consciousness, and repeated cultural practice.


Kata Kunci : crossdressing, nyarira, performativitas gender, kebaya, interpretasi transendental, sinden pria

  1. S2-2026-546702-abstract.pdf  
  2. S2-2026-546702-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-546702-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-546702-title.pdf