Laporkan Masalah

Wacana Fatis dalam Masyarakat Jawa di Magelang: Analisis Tekstual, Praktik Diskursif, dan Praktik Sosiokultural

Rangga Asmara, Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana, S.U., M.A.; Dr. Sulistyowati, M.Hum.

2026 | Disertasi | S3 Ilmu-ilmu Humaniora

Fenomena penggunaan bahasa yang berfungsi untuk membuka, memelihara, dan meneguhkan hubungan sosial dikenal dalam literatur linguistik sebagai phatic communion (Malinowski, 1923). Dalam banyak kajian, kefatisan sering direduksi menjadi “basa-basi” yang berada di pinggiran interaksi atau dipahami secara biner sebagai tuturan yang bersifat fatis atau nonfatis berdasarkan bentuknya. Data percakapan dalam masyarakat Jawa di Magelang menunjukkan bahwa reduksi tersebut tidak memadai, karena satu bentuk tuturan dapat bergerak di antara fungsi relasional dan transaksional bergantung pada posisi dalam sekuens interaksi, respons mitra tutur, serta norma budaya yang melatarinya. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan menjelaskan konstruksi wacana fatis dalam masyarakat Jawa di Magelang melalui empat pertanyaan penelitian: (1) bagaimana bentuk, jenis, dan struktur wacana fatis dikonstruksi; (2) bagaimana proses produksi, interpretasi, dan reproduksi wacana fatis merepresentasikan praktik diskursif; (3) bagaimana strategi penyampaian wacana fatis merepresentasikan praktik sosiokultural; dan (4) faktor-faktor sosial apa saja yang mempengaruhi pemilihan strategi penyampaian wacana fatis.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain analisis wacana. Kerangka analisis memanfaatkan model tiga dimensi wacana yang membedakan antara teks, praktik diskursif, dan praktik sosiokultural sebagaimana dirumuskan oleh Fairclough (1995). Untuk mengoperasionalkan kerangka tersebut, penelitian ini menerapkan desain multimetode. Korpus yang diteliti berjumlah 159 segmen data wacana fatis dari 111 percakapan, yang terdiri atas 22 segmen ranah keluarga, 15 segmen ranah ritus daur hidup, 95 segmen pada ruang komunal, dan 30 segmen pada ranah interaksi profesional/institusional. Pengambilan data dilakukan di Desa Pirikan dan Desa Banyurejo Kabupaten Magelang, serta Kelurahan Potrobangsan Kota Magelang pada Januari s.d. Juni 2020, dengan melibatkan 238 partisipan. Data dikumpulkan melalui perekaman, pencatatan lapangan, dan transkripsi verbatim. Analisis dilakukan secara berlapis dengan mengintegrasikan analisis linguistik deskriptif, analisis percakapan, analisis pragmatik, analisis konteks sosial budaya (Jawa), serta pemodelan analitis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada level teks, wacana fatis dalam masyarakat Jawa di Magelang hadir pada seluruh fase interaksi dan terealisasi dalam berbagai bentuk satuan pengisi wacana yang menampilkan variasi jenis, fungsi ilokusi, serta pola distribusi dan konstelasi dalam organisasi percakapan. Pada level praktik diskursif, produksi wacana fatis berlangsung melalui konfigurasi tujuh mekanisme interaksional: (1) aktivasi genre dan frame interaksi, (2) ritualisasi tindakan, (3) pilihan register dan undha-usuk, (4) modulasi epistemik dan deontik, (5) perubahan footing, (6) respons preferen, serta (7) penundaan masuk. Mekanisme ini menjadi dasar bagi partisipan untuk menafsirkan derajat kefatisan melalui continuum fatis–nonfatis, tes kefatisan, indeks dan skala daya fatis, serta model klasifikasi topik. Pada saat yang sama, mekanisme tersebut mereproduksi pola penggunaan wacana fatis sebagai konvensi yang berulang dalam berbagai ranah komunikasi. Pada level praktik sosiokultural, strategi penyampaian wacana fatis merepresentasikan nilai dan ideologi komunikatif masyarakat Jawa yang berorientasi pada harmoni, hierarki, dan kolektivitas. Lalu, pemilihan strategi penyampaian wacana fatis dipengaruhi secara sistematis oleh konfigurasi faktor sosial yang meliputi karakteristik peserta tutur, latar dan situasi interaksi, serta parameter jarak sosial, kuasa, dan tingkat imposisi. Temuan ini menunjukkan bahwa bobot tindakan dalam masyarakat Jawa tidak dapat dijelaskan secara memadai melalui formula universal Brown & Levinson (1987), sehingga penelitian ini mengajukan model WJawa dengan formula WJawa = (D + P + R) + C.
Temuan penelitian ini memperluas pemahaman kefatisan sebagai fenomena yang bersifat gradual dan kontekstual, bukan kategorikal, serta menunjukkan bagaimana fungsi relasional bahasa diproduksi, dinegosiasikan, dan dimaknai dalam praktik komunikasi.

The use of language primarily oriented toward initiating, maintaining, and reinforcing social relationships is known in linguistic literature as phatic communion, as introduced by Bronis?aw Malinowski (1923). In many studies, phaticity is often reduced to mere “small talk” positioned at the periphery of interaction or treated as a binary category, classifying utterances as either phatic or non-phatic based on their form. Conversational data from Javanese society in Magelang demonstrate that such a reduction is insufficient, as a single utterance may shift between relational and transactional functions depending on its sequential position, the interlocutor’s response, and the underlying cultural norms. Addressing this issue, this study aims to explain the construction of phatic discourse in Javanese society in Magelang through three research questions: (1) how the forms, types, and structures of phatic discourse are constructed; (2) how the processes of production, interpretation, and reproduction represent discursive practices; (3) how strategies of phatic discourse realization represent sociocultural practices; and (4) what social factors influence the selection of phatic discourse strategies.

This study employs a qualitative approach with a discourse analysis design. The analytical framework draws on the three-dimensional model of discourse proposed by Norman Fairclough (1995), which distinguishes between text, discursive practice, and sociocultural practice. To operationalize this framework, a multimethod design is applied. The corpus under investigation comprises 159 phatic discourse data segments drawn from 113 conversations, consisting of 22 segments from the family domain, 15 segments from the life-cycle ritual domain, 92 segments from communal spaces, and 30 segments from the professional or institutional interaction domain. Data were collected in Pirikan and Banyurejo villages in Magelang Regency, and Potrobangsan subdistrict in Magelang City, from January to June 2020, involving 238 participants. Data collection methods include audio recording, field notes, and verbatim transcription. The analysis is conducted in a layered manner by integrating descriptive linguistic analysis, conversation analysis, pragmatic analysis, sociocultural contextual analysis, and analytical modeling.

The findings show that, at the textual level, phatic discourse in Javanese society in Magelang occurs across all phases of interaction and is realized through diverse linguistic units exhibiting variation in types, illocutionary functions, as well as distributional and configurational patterns within conversational organization. At the level of discursive practice, the production of phatic discourse operates through a configuration of interactional mechanisms, including: (1) genre and frame activation, (2) ritualization of action, (3) register selection and undha-usuk, (4) epistemic and deontic modulation, (5) footing shifts, (6) preferred responses, and (7) delayed entry. These mechanisms provide the basis for participants to interpret degrees of phaticity through a phatic–non-phatic continuum, operationalized in analytical tools such as phaticity tests, phatic force indices and scales, topic classification models, and the WJawa model. At the same time, these mechanisms reproduce patterned uses of phatic discourse as recurring conventions across communicative domains. At the level of sociocultural practice, strategies of phatic discourse realization represent the values and communicative ideology of Javanese society, which are oriented toward harmony, hierarchy, and collectivity. Furthermore, the selection of phatic discourse strategies is systematically shaped by a configuration of social factors, including participant characteristics, interactional setting and situation, and the parameters of social distance, power, and rank of imposition. These findings demonstrate that the weightiness of communicative acts in Javanese society cannot be adequately explained by Brown & Levinson’s (1987) universal formula. Accordingly, this study proposes the WJawa model, formulated as WJawa = (D + P + R) + C.

The findings of this study extend the understanding of phaticity as a gradual and context-dependent phenomenon rather than a fixed category, and demonstrate how the relational function of language is produced, negotiated, and interpreted in communicative practice.

Kata Kunci : wacana fatis, masyarakat Jawa, analisis percakapan, continuum fatis-nonfatis, indeks daya fatis

  1. S3-2026-450387-abstract.pdf  
  2. S3-2026-450387-bibliography.pdf  
  3. S3-2026-450387-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2026-450387-title.pdf