Laporkan Masalah

TERJEBAK DALAM FRIKSI: PELANGGENGAN KONFLIK DI DESA WISATA (STUDI KASUS DESA WISATA PUTAT, GUNUNGKIDUL, YOGYAKARTA)

Dina Putri Amelia, Dr. Rucitarahahma Ristiawan, S.Par., M.Sc.

2026 | Tesis | S2 Antropologi

Pembangunan pariwisata sering dikaitkan dengan narasi partisipasi, kolaborasi, dan harmoni masyarakat. Namun, di balik idealisasi tersebut, konflik kerap berlangsung dalam bentuk yang samar dan tidak terselesaikan. Konflik dalam pengelolaan Desa Wisata Putat, Gunungkidul, Yogyakarta, terus bertahan meskipun berbagai upaya penyelesaian telah dilakukan. Konflik tidak hadir sebagai pertentangan terbuka, melainkan sebagai ketegangan senyap yang bersirkulasi melalui praktik penghindaran, pemisahan ruang formal dan informal, serta akumulasi kekecewaan yang tidak pernah menemukan saluran resolusi. Tulisan ini berupaya memahami mekanisme di balik persistensi konflik tersebut sekaligus mengidentifikasi implikasinya terhadap pengelolaan pariwisata.

Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi yang dilakukan selama tiga bulan (September–November 2025). Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan percakapan informal dengan 18 informan yang terdiri atas pengelola wisata, pengurus pokdarwis, kelompok kerja (pokja) pariwisata, masyarakat lokal, aparat desa, serta pihak eksternal yang terlibat dalam pengembangan pariwisata. Penelitian difokuskan pada empat kelompok kerja desa wisata yang berada di Dusun Bobung, Plumbungan, Kepil, dan Batur. Kerangka analisis dalam penelitian ini menggunakan teori sistem sosial Niklas Luhmann untuk memahami konflik sebagai proses komunikasi autopoietik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik diproduksi melalui tiga mekanisme yang saling menopang. Pertama, narasi konsensus yang menempatkan kerukunan sebagai nilai tertinggi sehingga kontradiksi tidak memperoleh ruang untuk dikomunikasikan secara terbuka. Kedua, pembatasan partisipasi melalui keputusan sepihak dan hierarki legitimasi yang tidak tertulis sehingga menentukan siapa yang dapat berbicara dan terlibat dalam pengambilan keputusan. Ketiga, path dependency yang membuat pengalaman konflik masa lalu terus membentuk cara aktor membaca situasi masa kini. Ketiga mekanisme tersebut beroperasi sebagai sistem tertutup sehingga setiap upaya penyelesaian diproses melalui logika konflik yang telah ada dan justru memperkuat fragmentasi. Reproduksi konflik berdampak langsung pada pengelolaan pariwisata berupa stagnasi kolaborasi lintas dusun, ketidakhadiran sebagai bentuk penolakan pasif dalam forum kelembagaan, ketergantungan pada pihak luar sebagai pengganti komunikasi internal yang tersumbat, serta ilusi kemandirian yang diproduksi melalui sistem penilaian administratif yang tidak menyentuh akar persoalan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa masyarakat yang paling menghindari konflik justru paling produktif mereproduksinya, karena penghindaran konflik membuat kontradiksi tidak pernah dipertemukan, dikomunikasikan, maupun diselesaikan.

Tourism development is frequently framed through narratives of participation, collaboration, and community harmony. However, these ideals often obscure persistent and unresolved tensions, as seen in the management of Putat Tourism Village, Gunungkidul, Yogyakarta. Rather than appearing as open confrontation, conflict emerges as latent tension circulating through practices of avoidance, the separation of formal and informal spaces, and the accumulation of unresolved dissatisfaction. This article seeks to understand the mechanisms underlying the persistence of conflict and to identify its implications for tourism management.

This research employed an ethnographic approach conducted over three months (September–November 2025). Data were collected through participant observation, in-depth interviews, and informal conversations with 18 informants, including tourism managers, Pokdarwis administrators, tourism working group (pokja) members, local residents, village officials, and external actors involved in tourism development. The research focused on four tourism working groups located in the hamlets of Bobung, Plumbungan, Kepil, and Batur. The analysis draws upon Niklas Luhmann’s social systems theory to conceptualize conflict as an autopoietic process of communication.

The findings show that conflict is reproduced through three interrelated mechanisms. First, narratives of consensus place harmony as the highest social value, preventing contradictions from being communicated openly. Second, participation is constrained through unilateral decision-making and informal hierarchies of legitimacy that determine who is allowed to speak and participate. Third, path dependency causes past conflict experiences to continually shape how actors perceive, interpret, and respond to present situations. These mechanisms operate as a closed system in which every attempt at resolution is filtered through existing conflict logics, ultimately reproducing and reinforcing social fragmentation. The reproduction of conflict has direct implications for tourism management, including stagnant inter-hamlet collaboration, absence from institutional forums as a form of passive resistance, dependence on external actors as substitutes for obstructed internal communication, and an illusion of autonomy generated through administrative evaluation systems that fail to address underlying tensions. This study concludes that communities that most strongly avoid conflict may simultaneously become the most productive in reproducing it, as conflict avoidance prevents contradictions from being confronted, communicated, and resolved.

Kata Kunci : konflik pariwisata, desa wisata, reproduksi konflik, autopoiesis, path dependency, penghindaran konflik, Gunungkidul

  1. S2-2026-541078-abstract.pdf  
  2. S2-2026-541078-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-541078-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-541078-title.pdf