Laporkan Masalah

Fenomena Ijime dalam Perspektif Budaya dan Sistem Sosial di Sekolah Jepang: Analisis Fungsionalisme Struktural Talcott Parsons

Gracia Alvina Elvaretta, Akbar Rizqi Dhea Habibi, S.S., M.A.

2026 | Skripsi | SASTRA JEPANG

Fenomena ijime atau perundungan merupakan salah satu masalah sosial yang cukup serius dalam masyarakat Jepang, khususnya di lingkungan sekolah. Tingginya jumlah kasus ijime menunjukkan bahwa perundungan juga dapat dipengaruhi oleh struktur sosial dan nilai-nilai budaya yang berkembang dalam masyarakat. Penelitian ini menganalisis fenomena ijime sebagai mekanisme yang berkaitan dengan upaya menjaga keseimbangan dalam sistem sosial kelompok di sekolah Jepang melalui perspektif nilai budaya dan sosial dengan menggunakan teori fungsionalisme struktural Talcott Parsons.

Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif. Sumber data utama berupa berita dan didukung oleh data yang diperoleh melalui studi pustaka yang meliputi jurnal, buku, dan artikel, serta penyebaran kuesioner kepada mahasiswa di Jepang mengenai pengalaman mereka terhadap ijime selama masa sekolah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu yang dianggap berbeda atau tidak sesuai dengan norma kelompok cenderung mengalami pengucilan dalam lingkungan sekolah, yang kemudian dapat berkembang menjadi praktik ijime. Fenomena tersebut berkaitan dengan nilai-nilai budaya Jepang yang menekankan konformitas dan keharmonisan kelompok, seperti konsep wa, uchisoto, dinamika honnetatemae serta omoteura. Dalam konteks ini, ijime dapat dipahami sebagai bentuk tekanan sosial terhadap individu yang menyimpang dari norma kelompok, yang secara tidak langsung berfungsi sebagai mekanisme untuk mempertahankan keseragaman dan keseimbangan dalam sistem sosial kelompok di sekolah.


The phenomenon of ijime or bullying is one of the serious social problems in Japanese society, particularly within the school environment. The high number of ijime cases indicates that bullying can also be influenced by the social structure and cultural values that develop within society. This study analyzes the phenomenon of ijime as a mechanism related to maintaining balance within the social system of groups in Japanese schools through the perspective of cultural and social values, using the structural functionalism theory proposed by Talcott Parsons.

This research employs a descriptive qualitative method. The data in this study were collected from various sources, including news reports and literature studies comprising journals, books, and scientific articles. Furthermore, questionnaires were distributed to students in Japan to provide additional insights into their experiences with ijime during their school years.

The results show that individuals who are perceived as different or not conforming to group norms tend to experience social exclusion within the school environment, which may subsequently develop into ijime practices. This phenomenon is related to Japanese cultural values that emphasize conformity and group harmony, such as the concepts of wa, uchisoto, the dynamics of honnetatemae, and omoteura. In this context, ijime can be understood as a form of social pressure directed at individuals who deviate from group norms, which indirectly functions as a mechanism for maintaining uniformity and balance within the social system of school groups.

Kata Kunci : ijime, bullying, perundungan, conformity, talcott parsons

  1. S1-2026-477006-abstract.pdf  
  2. S1-2026-477006-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-477006-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-477006-title.pdf