Laporkan Masalah

Kondisi pendidikan pada masa krisis di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ( Analisis susenas modul pendidikan tahun 1998)

Vira Ardiati, Drs. Alip Sontosudarmo, M.S.

2005 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi pendidikan pada masa krisis ekonomi di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data sekunder, yaitu data yang tidak dikumpulkan secara langsung di lapangan atau merupakan data yang diperoleh dari kantor, instansi atau referensi pustaka yang berkaitan dengan tujuan penelitian. Penelitian ini menggunakan data SUSENAS Modul Pendidikan tahun 1998 dan mengambil judul "Kondisi Pendidikan Pada Masa Krisis di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Analisis Susenas Modul Pendidikan Tahun 1998)". Untuk mendapatkan hasil yang sesuai tujuan, digunakan analisis tabel frekuensi dan tabel silang. Kondisi pendidikan pada masa krisis ekonomi di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini digambarkan melalui data tentang status pendidikan, angka partisipasi murni, dan alasan penduduk tidak bersekolah. Alasan penduduk tidak bersekolah kemudian dijabarkan menjadi 3 (tiga), yaitu alasan penduduk tidak/belum pernah sekolah, alasan penduduk masih sekolah namun tidak ingin melanjutkan, dan alasan penduduk tidak sekolah lagi. Penelitian ini dilengkapi dengan data yang memberi gambaran karakteristik pendidikan yaitu lokasi sekolah dan sarana transportasi, penanggung biaya pendidikan, kegiatan belajar diluar jam sekolah, serta jenis dan biaya kursus. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa secara umum 73% dari 994.680 penduduk usia 7-24 tahun di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta masih bersekolah, 25,9% tidak bersekolah lagi, dan sisanya yaitu 1,1% tidak/belum pernah sekolah. Alasan utama penduduk usia 7-24 tahun tidak/belum pernah bersekolah adalah sakit/cacat, yaitu sebesar 66,7% dari 4.068 penduduk perkotaan dan 50% dari 6.512 penduduk perdesaan. Jumlah penduduk masih sekolah yang tidak ingin melanjutkan adalah 126.212 penduduk atau 17,4% dari total penduduk masih sekolah. Di perkotaan, alasan yang umum dikemukakan pada kelompok ini adalah merasa cukup, yaitu 60,7 % dari 81.812 penduduk. Sementara itu alasan sulit biaya mendominasi di perdesaan, yaitu 66,6% dari 44.400 penduduk. Kelompok penduduk tidak bersekolah lagi dibedakan menjadi 2. Kelompok pertama adalah penduduk tidak bersekolah lagi dan telah tamat pendidikan terakhir dan kelompok kedua adalah penduduk tidak bersekolah lagi tapi belum tamat pendidikan terakhir. Umumnya penduduk tidak bersekolah lagi karena alasan kesulitan biaya. Masing-masing 52,7% dari 226.992 untuk kelompok pertama dan 33,7% dari 30.620 pada kelompok kedua. Dugaan bahwa kesulitan biaya merupakan penyebab utama penduduk usia 724 tahun tidak terlibat di sekolah tidak sepenuhnya terbukti. Alasan utama kesulitan biaya hanya dijumpai pada kelompok penduduk masih sekolah yang tidak ingin melanjutkan di perdesaan dan kelompok penduduk tidak bersekolah lagi baik yang telah tamat pendidikan terakhir maupun yang belum tamat pendidikan terakhir.

ABSTRACT This research aims to know education condition in Yogyakarta during economic crisis. The research uses secondary data which is not collected through direct survey in the field but uses data from related offices, institutions, or library references instead. This research entitles "Education Condition during Economic Crisis in Yogyakarta Province" (Analysis of SUSENAS Education Modul Year 1998), and uses data from SUSENAS Education Modul year 1998. Analysis of frequency and cross tables are used to analyze the data. Condition of education in Yogyakarta during economic crisis is shown by presenting the data of education status, net enrollment ratio, and reason of non-schooling education. Reason of non-schooling education is described into 3 categories, those are reason of not yet/never attending school, reason of not continuing school, and reason of not attending school. This research also presents data of education characteristics, i.e. school location, transportation, cost bearer, extra-school hour activities, various courses and their costs. Referring to the research, in general there are 994,680 population of age 7-24 years old in Yogyakarta, 73% of them are still schooling, 25.9% of them are stop from schooling, and the rest 1.1% are not yet/never attending school. For the 7-24 years old population, their main reason for never/not yet attending school is because they are sick or disabled, this counts 66.7% of 4,048 urban population and 50% of 6,512 rural population. The number of population who are currently attending school but do not want to continue is 126,212 or 17.4% of total population at school. Feel already adequate education is popular reason for this group in urban area, 60.7% of 81,812 population. But in rural area the popular reason is inability to afford school, 66.6% of 44,400 population. There are two groups of population who do not attend school, first is those who do not attend school but has completed their last education, the second is those who do no attend school and has not completed their last education. Generally people do not continue their school because they can not afford it, this is showed by 52.7% of 226,992 population in first group and 33.7% of 30,620 population in second group. The assumption that financial problem is the main factor for school uninvolvement in population of age 17-24 years old is not entirely proven. Financial problem as main factor is only found in the group of population who are currently attending school but do not want to continue in rural area and in the group of population who do not attend school either who has completed and not completed their last education.

Kata Kunci : Kondisi Pendidikan,Masa Krisis,DIY,Yogyakarta

  1. S1-2005-101112-abstract.pdf  
  2. S1-2005-101112-bibliography.pdf  
  3. S1-2005-101112-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2005-101112-title.pdf