Membentuk Barisan: Aksi Protes Mahasiswa UGM terhadap Kebijakan Kenaikan Uang Kuliah Tunggal tahun 2024
RANDY ARFIAN, Dr. Ratnawati, S.U.
2026 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN
Penelitian ini mengkaji aksi protes mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) terhadap kebijakan kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) tahun ajaran 2024/2025 sebagai bentuk gerakan sosial. Latar belakang penelitian ini berangkat dari meningkatnya biaya pendidikan di tengah tekanan sosial-ekonomi masyarakat yang memicu ketidakpuasan dan aksi kolektif mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis media sosial untuk memahami dinamika mobilisasi dan pembentukan narasi gerakan. Analisis dilakukan menggunakan perspektif teori gerakan sosial, khususnya Resource Mobilization Theory dari Oberschall. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksi protes mahasiswa UGM terbentuk melalui konsolidasi organisasi dan aliansi mahasiswa, dengan strategi mobilisasi yang menggabungkan aksi lapangan dan kampanye digital. Penguatan narasi melalui frame alignment berperan penting dalam membangun solidaritas dan dukungan publik. Aksi ini mampu mendorong respons institusi dan membuka ruang dialog, namun belum sepenuhnya memenuhi karakteristik gerakan sosial yang berkelanjutan, terutama dalam aspek institusionalisasi dan konsistensi mobilisasi jangka panjang. Sehingga aksi protes mahasiswa UGM dapat dipahami sebagai gerakan kolektif yang efektif dalam jangka pendek, tetapi masih terbatas dalam keberlanjutan sebagai gerakan sosial yang mapan.
This study examines the student protest movement at Universitas Gadjah Mada (UGM) against the policy of increasing Tuition Fees (Uang Kuliah Tunggal/UKT) for the 2024/2025 academic year as a form of social movement. The background of this research is rooted in the rising cost of higher education amid socio-economic pressures, which has triggered dissatisfaction and collective action among students. This study employs a qualitative approach using a case study method. Data were collected through in-depth interviews, observations, and social media analysis to understand the dynamics of mobilization and the construction of movement narratives. The analysis is conducted using social movement theory, particularly the Resource Mobilization Theory proposed by Oberschall. The findings show that the UGM student protest was formed through organizational consolidation and alliances among student groups, with mobilization strategies that combine offline actions and digital campaigns. Narrative strengthening through frame alignment plays a crucial role in building solidarity and gaining public support. The protest succeeded in prompting institutional responses and opening spaces for dialogue; however, it has not fully met the characteristics of a sustainable social movement, particularly in terms of institutionalization and long-term mobilization consistency. Therefore, the UGM student protest can be understood as a collective movement that is tactically effective in the short term but remains limited in its sustainability as an established social movement.
Kata Kunci : UKT, mahasiswa UGM, aksi protes, gerakan sosial