Transformasi Tata Kelola Perkotaan Berdasarkan Perkembangannya (Studi Kasus: Perkotaan Purwokerto)
ABID ABDILLAH, Retno Widodo Dwi Pramono, S.T., M. Sc., Ph. D.
2026 | Skripsi | PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
Untuk menjalankan fungsi dan
perannya, sebuah kota perlu memiliki tata kelola yang baik. Tata kelola kota
bukan hanya tentang kebijakan publik, namun juga tentang siapa saja aktor yang
ikut di dalamnya. Metode tata kelola ini akan selalu berubah menyesuaikan
dengan keadaan kota tersebut. Perkotaan Purwokerto merupakan perkotaan
fungsional di Kabupaten Banyumas yang mengalami perkembangan perkotaan yang
cepat bahkan pernah mengalami perubahan status administratif yang awalnya
merupakan kota otonom berdasarkan PP No. 36 tahun 1982 menjadi perkotaan
fungsional berdasarkan PP No. 33 tahun 2003. Penelitian ini bertujuan untuk
mencari tahu keterkaitan perkembangan Perkotaan Purwokerto dengan perubahan
metode tata kelolanya serta membandingkan fenomena yang terjadi dengan
teori-teori yang sudah ada dan kasus perkembangan perkotaan lain di dunia.
Penelitian ini menggunakan
pendekatan deduktif kualitatif dengan beberapa metode analisis, seperti NDBI
untuk analisis spasial, analisis konten untuk dokumen-dokumen, serta pattern
matching dan polycentric govenrnance framework untuk analisis
perubahan metode tata kelola serta perbandingan Perkotaan Purwokerto dengan
teori perkotaan lainnya. Data yang digunakan diambil dari data sekunder milik
pemerintah dan media massa yang kemudian dibagi ke dalam lima periode, yaitu
periode I (1982-1990), periode II (1991-1998). periode III (1999-2003), periode
IV (2004-2010), dan periode V (2011-2020).
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa fenomena perkembangan Perkotaan Purwokerto memiliki sedikit perbedaan
dengan teori-teori perkotaan yang sudah ada. Perubahan status administratif
Perkotaan Purwokerto tidak mempengaruhi kemampuannya untuk menarik investor ke
dalam kota, tidak seperti hasil temuan WEI (2015) yang menyebutkan status administratif
akan mempengaruhi otoritas dan alokasi sumber daya perkotaan. Perkembangan
Perkotaan Purwokerto lebih didorong oleh identitasnya sebagai pusat aktivitas
Kabupaten Banyumas. Meski begitu, perubahan status administratif masih memiliki
pengaruh dalam pemilihan metode tata kelola di Perkotaan Purwokerto. Selain
perubahan status administratif, keadaan ekonomi dan kompleksitas layanan publik
menjadi alasan lain perubahan metode tata kelola Perkotaan Purwokerto. Hasil
ini juga ditemukan ditemukan pada perkotaan lainnya, yaitu Kota Cuenca, Kota
Bengaluru, dan Kota Johannesburg.
To carry out its functions and
duties, a city requires good urban governance. Urban governance is not only
about public policy, but also about the actrors involved. These governance
methods will constantly evolve to adapt to the city's circumstances..
Purwokerto is a functional city in Banyumas Regency, experiencing rapid urban
development and even undergoing a change in administrative status, from an autonom
city based on PP No. 36 of 1982 to a functional city based on PP No. 36 of
1982.
This research uses a
qualitative deductive approach with several analytical methods, such as NDBI
for spatial analysis, content analysis for documents, and pattern matching and
a polycentric governance framework for analyzing changes in governance methods
and comparing Purwokerto Urban Areas with other urban theories. The data used
were taken from secondary government data and mass media and divided into five
periods: Period I (1982-1990), Period II (1991-1998). Period III (1999-2003),
Period IV (2004-2010), and Period V (2011-2020).
The results of this study
indicate that the development of Purwokerto urban areas differs slightly from
existing urban theories. Changes in the administrative status of Purwokerto
urban areas do not affect the ability to attract investors, unlike the findings
of the WEI (2015) which stated that administrative status would influence urban
authority and resource allocation. Purwokerto urban development is driven more
by its identity as the center of activity in Banyumas Regency. However, changes
in administrative status still influence the choice of governance methods in
Purwokerto urban areas. In addition to changes in administrative status,
economic conditions and the complexity of public services are other reasons for
changes in Purwokerto urban governance methods. These results are also found in
other urban areas, namely Cuenca City, Bengaluru City, and Johannesburg City.
Kata Kunci : Model tata kelola perkotaan, pattern matching, perkembangan perkotaan, Perkotaan Purwokerto.