Praktik Kerja dan Negosiasi Posisi Gender pada Barista Perempuan dalam Dinamika Ketenagakerjaan Industri Kafe di Yogyakarta
Salsabiila Diva Priyadi Wangga, Milda Longgeita Br. Pinem., S.Sos., M.A., Ph.D.
2026 | Skripsi | ILMU SOSIATRI
Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana barista perempuan menegosiasikan posisi gender dan otoritas profesionalnya melalui praktik kerja sehari-hari dalam industri kafe di Yogyakarta. Berangkat dari meningkatnya keterlibatan perempuan dalam industri kopi yang secara historis dilekatkan pada citra maskulinitas, penelitian ini melihat bahwa ruang kerja kafe tidak bersifat netral, melainkan menjadi arena sosial di mana norma gender diproduksi, ditegaskan, dan dinegosiasikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, serta analisis media sosial, dengan melibatkan barista perempuan dan laki-laki, pihak manajerial, serta konsumen. Penelitian ini juga memanfaatkan posisi peneliti sebagai insider untuk menangkap dinamika praktik kerja yang bersifat implisit dan tidak selalu terartikulasikan secara langsung oleh informan. Analisis dilakukan menggunakan perspektif performativitas gender Judith Butler, yang memandang gender sebagai hasil dari tindakan yang diulang dalam praktik sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik kerja barista tidak hanya berkaitan dengan aktivitas operasional, tetapi juga menjadi ruang pembentukan identitas profesional dan gender melalui tiga mekanisme utama, yaitu reiterasi, policing, dan negosiasi. Reiterasi terlihat dalam pengulangan pembagian peran yang mengasosiasikan laki-laki dengan aspek teknis dan otoritas, serta perempuan dengan pelayanan dan representasi visual. Policing muncul melalui berbagai respons sosial, seperti ekspektasi, komentar, dan pengaturan terhadap tubuh dan penampilan, yang berfungsi menegaskan norma gender dalam ruang kerja. Di sisi lain, negosiasi menjadi aspek penting yang menunjukkan bahwa barista perempuan tidak sepenuhnya berada dalam posisi pasif, melainkan secara aktif mengelola peran, membaca situasi, serta menentukan cara mereka menampilkan diri dan mempertahankan profesionalitas dalam batas-batas yang dimungkinkan oleh lingkungan kerja. Temuan ini menunjukkan bahwa posisi gender dan otoritas profesional tidak bersifat statis, melainkan dibentuk melalui praktik kerja yang berlangsung secara berulang dan dinegosiasikan dalam interaksi sehari-hari. Dengan demikian, ruang kerja kafe tidak hanya mereproduksi norma yang ada, tetapi juga membuka ruang bagi penyesuaian dan pergeseran dalam cara peran dijalankan. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperluas kajian performativitas gender ke dalam konteks industri kafe, dengan menempatkan pekerja sebagai subjek yang secara aktif menjalankan dan menegosiasikan identitasnya dalam praktik kerja.
This study aims to examine how female baristas negotiate their gender position and professional authority through everyday work practices within the café industry in Yogyakarta. Amid the increasing participation of women in the coffee industry, historically associated with masculinity, this study argues that café workplaces are not neutral spaces, but social arenas where gender norms are produced, reinforced, and negotiated. This research employs a qualitative approach using a case study method. Data were collected through in-depth interviews, observations, documentation, and social media analysis, involving female and male baristas, managerial staff, and customers. The researcher’s position as an insider is also utilized to capture implicit dynamics of workplace practices that are not always explicitly articulated by participants. The analysis is guided by Judith Butler’s theory of gender performativity, which conceptualizes gender as constituted through repeated social actions. The findings reveal that barista work practices extend beyond operational tasks and function as a site for the formation of both professional and gender identities through three key mechanisms: reiteration, policing, and negotiation. Reiteration is reflected in the repeated division of labor that associates men with technical skills and authority, while women are more frequently positioned in service roles and visual representation. Policing occurs through social responses such as expectations, comments, and regulations concerning appearance and the body, which reinforce gender norms within the workplace. Meanwhile, negotiation emerges as a crucial process, demonstrating that female baristas are not merely passive recipients of norms, but actively manage their roles, interpret situational dynamics, and determine how they present themselves while maintaining professional credibility within existing constraints. These findings suggest that gender position and professional authority are not fixed, but are continuously constructed through repeated practices and negotiated within everyday interactions. Thus, café workplaces not only reproduce existing norms but also provide spaces for adjustment and gradual shifts in how roles are performed. This study contributes to the expansion of gender performativity analysis within the context of the café industry, highlighting workers as active subjects who continuously negotiate their identities in everyday work practices.
Kata Kunci : performativitas gender, negosiasi identitas, barista perempuan, industri kafe, praktik kerja, gender performativity, position negotiation, female baristas, café industry, work practices