Analisis Representasi Budaya Minangkabau dalam Minangfest
ELSA SOVIA LUBIS, Yulida Pangastuti, S.Sos., M.Soc.Sci., ph.D.
2026 | Skripsi | Sosiologi
Penelitian ini mengkaji Minangfest 2021, sebuah festival budaya yang diselenggarakan oleh FORKOMMI UGM (Forum Komunikasi Mahasiswa Minangkabau), sebagai ruang perayaan dan representasi identitas budaya di perantauan. Minangfest pada edisi 2021 mengangkat tema adat panjapuik sebagai narasi utama pertunjukan. Studi ini bertujuan menganalisis bagaimana perempuan Minang dikonstruksi melalui narasi adat dan visualitas panggung, serta bagaimana representasi tersebut dinegosiasikan oleh penonton perempuan Minang di perantauan.
Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif melalui Analisis Wacana Representasi dengan menelaah teks dialog, komposisi visual, blocking tubuh, dan tata cahaya dalam dokumentasi video festival, yang dilengkapi wawancara terhadap penonton perempuan Minang. Kerangka analisis memadukan teori representasi Stuart Hall, konsep male gaze Laura Mulvey, dan dramaturgi Erving Goffman untuk membedah konstruksi makna, visualitas gender, serta pengelolaan kesan antara panggung depan dan belakang.
Secara teoretis, studi ini memperluas penerapan teori representasi dan male gaze dalam kajian pertunjukan budaya diaspora serta berkontribusi pada kajian gender Minangkabau dengan menyoroti negosiasi identitas perempuan dalam ruang perantauan. Secara praktis, temuan penelitian dapat menjadi refleksi kritis bagi organisasi mahasiswa daerah dalam merancang representasi budaya yang lebih peka gender.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan Minang dalam pertunjukan adat panjapuik direpresentasikan secara pasif dan simbolik, lebih sebagai penjaga nilai tradisi dibandingkan sebagai subjek sosial yang otonom dalam konteks kontemporer. Representasi tersebut tidak mencerminkan pengalaman aktual perempuan Minang di Yogyakarta, melainkan mereproduksi memori kolektif yang meneguhkan rasa kebersamaan kultural. Dengan demikian, Minangfest berfungsi terutama sebagai ruang reproduksi identitas simbolik daripada sebagai arena artikulasi transformasi peran gender dalam diaspora.
This study examines Minangfest 2021, a cultural festival organized by FORKOMMI UGM (Forum Komunikasi Mahasiswa Minangkabau), as a space for celebrating and representing Minangkabau cultural identity in diaspora. The 2021 edition centered on the theme of adat panjapuik as the main narrative of the performance. The study aims to analyze how Minangkabau women are constructed through customary narratives and stage visuality, as well as how these representations are negotiated by female Minangkabau audiences in diaspora.
The research employs a qualitative approach using Representation Discourse Analysis by examining dialogue texts, visual composition, bodily blocking, and lighting in the festival’s video documentation, complemented by interviews with female Minangkabau spectators. The analytical framework integrates Stuart Hall’s theory of representation, Laura Mulvey’s concept of the male gaze, and Erving Goffman’s dramaturgical perspective to unpack meaning construction, gendered visuality, and impression management between front stage and back stage.
Theoretically, this study extends the application of representation theory and the male gaze into the study of diaspora cultural performances and contributes to Minangkabau gender studies by highlighting the negotiation of women’s identities in migratory contexts. Practically, the findings offer critical reflection for regional student organizations in designing more gender-sensitive cultural representations.
The findings reveal that Minangkabau women in the panjapuik performance are portrayed as passive and symbolic figures, positioned primarily as guardians of tradition rather than as autonomous social subjects in contemporary contexts. Such representations do not reflect the lived experiences of Minangkabau women in Yogyakarta; instead, they reproduce a collective memory that reinforces cultural belonging. Thus, Minangfest functions primarily as a site for reproducing symbolic identity rather than as a platform for articulating gender role transformation within diaspora.
Kata Kunci : Minangfest, representasi, perempuan Minang, Panjapuik