Laporkan Masalah

Music as Cultural Diplomacy: Policy Analysis of Kawedanan Kridhamardawa through Yogyakarta Royal Orchestra

Nurul Rafika Fitriani, Dr. Ambar Teguh Sulistiyani, M.Si.

2026 | Skripsi | ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)

Penelitian ini mengkaji transformasi kebijakan kebudayaan di lingkungan Kawedanan Hageng Punakawan Kridhamardawa dalam mengelola Yogyakarta Royal Orchestra (YRO) sebagai instrumen diplomasi budaya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan latar belakang kebijakan di balik revitalisasi YRO, proses perumusan kebijakan, serta hasil-hasil diplomatik yang dihasilkan melalui aktivitas musiknya. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif serta wawancara mendalam dan observasi lapangan, data dikumpulkan dari para aktor kunci, meliputi kepala Kawedanan Kridhamardawa, manajemen YRO, koordinator hubungan masyarakat, dan para pemangku kepentingan di bidang kerja sama internasional. Dengan menggunakan Kerangka Aliran Ganda (Multiple Streams Framework – MSF), temuan penelitian mengungkapkan bahwa YRO muncul dari adanya kesenjangan struktural dalam representasi budaya di lingkungan Keraton Yogyakarta. Solusi kebijakan terwujud melalui pembentukan orkestra hibrida yang memadukan gamelan Jawa dan musik klasik Barat, yang didukung oleh kepemimpinan keraton yang kuat serta kemitraan internasional. Konvergensi antara aliran masalah, aliran kebijakan, dan aliran politik membuka celah peluang (window of opportunity) yang memosisikan YRO sebagai aktor diplomatik yang diakui di panggung internasional. Penelitian ini memberikan dua kontribusi teoretis. Pertama, penelitian ini mengoperasionalkan diplomasi budaya melalui empat indikator yang terukur, yaitu: aktor dengan mandat diplomatik, agenda diplomatik yang eksplisit, khalayak sasaran yang strategis, dan hasil diplomatik yang terukur. Kedua, penelitian ini menerapkan indikator-indikator tersebut untuk menunjukkan bahwa YRO berfungsi bukan sekadar sebagai pertukaran budaya biasa, melainkan sebagai instrumen diplomasi budaya yang sesungguhnya. Temuan penelitian menunjukkan bahwa YRO memfasilitasi kerja sama budaya bilateral dan meningkatkan visibilitas internasional identitas budaya Yogyakarta. Secara keseluruhan, penelitian ini membuktikan bahwa kebijakan kebudayaan berbasis musik dapat beroperasi sebagai instrumen diplomasi budaya subnasional yang efektif serta mendukung kepentingan strategis Indonesia di luar sektor kebudayaan.

This study examines the transformation of cultural policy within Kawedanan Hageng Punakawan Kridhamardawa in governing the Yogyakarta Royal Orchestra (YRO) as an instrument of cultural diplomacy. It aims to explain the policy background behind YRO's revitalization, the policy formulation process, and the diplomatic outcomes generated through its musical activities. Employing a qualitative case study approach with in-depth interviews and field observations, data were collected from key actors including the head of Kawedanan Kridhamardawa, YRO management, public relations coordinators, and international cooperation stakeholders. Using the Multiple Streams Framework (MSF), the findings reveal that YRO emerged from structural gaps in cultural representation within the Yogyakarta Palace. Policy solutions materialized through the establishment of a hybrid orchestra combining Javanese gamelan and Western classical music, supported by strong royal leadership and international partnerships. The convergence of problem, policy, and political streams opened a window of opportunity that positioned YRO as a recognized diplomatic actor on the international stage. This study makes two theoretical contributions. First, it operationalizes cultural diplomacy through four measurable indicators: actors with diplomatic mandates, explicit diplomatic agendas, strategic target audiences, and measurable diplomatic outcomes. Second, it applies these indicators to demonstrate that YRO functions not as mere cultural exchange but as a genuine instrument of cultural diplomacy. The findings show that YRO facilitates bilateral cultural cooperation and enhances the international visibility of Yogyakarta's cultural identity. Overall, this research demonstrates that music-based cultural policy can operate as an effective subnational cultural diplomacy instrument that supports Indonesia's strategic interests beyond the cultural sector.

Kata Kunci : cultural diplomacy, cultural policy, Yogyakarta Royal Orchestra, Multiple Streams Framework

  1. S1-2026-498231-abstract.pdf  
  2. S1-2026-498231-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-498231-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-498231-title.pdf