Laporkan Masalah

Upaya Universitas Gadjah Mada dalam Mengejar Identitas World-Class University melalui Sistem QS World University Rankings: Analisis Perspektif Poskolonialisme

Febrian Agil Sri Atmaja, Dr. Randy Wirasta Nandyatama, S.I.P., M.Sc.

2026 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Penelitian ini menganalisis bagaimana Universitas Gadjah Mada (UGM) menegosiasikan konstruksi identitas world class university melalui sistem QS World University Rankings dalam relasi kuasa yang ambivalen antara standar global dan mandat identitas lokal. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis dokumen, studi literatur, dan penelusuran artikel pada laman resmi UGM, penelitian ini mengoperasionalisasikan konsep ambivalensi, ruang ketiga, mimikri, enunsiasi, dan hibriditas dari Homi K. Bhabha sebagai kerangka analitis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa UGM tidak semata-mata menerima indikator QS secara pasif, melainkan menafsirkannya ulang melalui kebijakan institusional, rencana strategis, rencana induk kampus, serta narasi publik yang mengaitkan reputasi global dengan kepentingan nasional, pengetahuan lokal, dan pengabdian kepada masyarakat. Proses tersebut memperlihatkan adanya mimikri yang tidak sepenuhnya meniru standar dominan, melainkan menyisipkan makna lokal ke dalam indikator global melalui enunsiasi kebijakan dan pemberitaan. Pada akhirnya, strategi ini menghasilkan identitas “Nationally Mandated Hybrid,” UGM tampil sebagai universitas yang mengadopsi logika pemeringkatan internasional sekaligus mempertahankan orientasi pada jati diri dan mandat kebangsaan. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa pencarian legitimasi global dalam pemeringkatan universitas bukanlah proses teknis semata, melainkan arena negosiasi identitas dan kekuasaan.

This study analyzes how Universitas Gadjah Mada (UGM) negotiates the construction of a world-class university identity through the QS World University Rankings system, situating this process within ambivalent power relations between global standards and a local identity mandate. Employing a qualitative approach through document analysis, literature review, and examination of articles on UGM's official website, the research operationalizes Homi K. Bhabha's concepts of ambivalence, the Third Space, mimicry, enunciation, and hybridity as its analytical framework. The findings indicate that UGM does not merely adopt QS indicators passively; rather, it reinterprets them through institutional policies, strategic plans, the campus master plan, and public narratives that link global reputation to national interests, local knowledge, and community engagement. This process reveals a form of mimicry that does not fully replicate dominant standards but instead inserts local meaning into global indicators via policy enunciation and public dissemination. Ultimately, this strategy produces a "Nationally Mandated Hybrid" identity, wherein UGM emerges as a university that embraces the logic of international rankings while maintaining its orientation toward national character and mandate. Consequently, this study demonstrates that the pursuit of global legitimacy within university rankings is not a purely technical process but a contested arena of identity and power negotiation.

Kata Kunci : pemeringkatan universitas, QS World University Rankings, Universitas Gadjah Mada, poskolonialisme, identitas hibrida

  1. S1-2026-497627-abstract.pdf  
  2. S1-2026-497627-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-497627-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-497627-title.pdf