Dinamika Keberlanjutan Nilai Pendidikan Eksperimental: Negosiasi Pragmatis Budaya Organisasi Sekolah Eksperimental Mangunan
Florentina Rachel Yolanda, Dr. Subando Agus Margono
2026 | Skripsi | ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)
Di tengah formalisasi pendidikan Indonesia, budaya sekolah menjadi fondasi nilai-nilai substansial. Di Yogyakarta, terdapat sekolah yang unik karena memiliki fondasi budaya pendidikan yang kental. Sekolah Eksperimental Mangunan (SEM), didirikan Romo Mangunwijaya sejak 1994, menerapkan konsep pendidikan yang berorientasi kebutuhan anak dengan menekankan 7 modal dasar anak, pembelajaran berbasis proyek, dan nilai spiritualitas. Mulanya, sekolah ini hanya bergerak di satu unit SD. Namun, sekarang sudah berkembang menjadi 6 unit.
Atas perkembangan signifikan tersebut, peneliti mengangkatnya ke dalam penelitian ini yang mengkaji irisan kultur organisasi dan sistem pendidikan yang mana kultur organisasi yang unik di SEM dikontekstualisasikan di ranah pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana keberlanjutan nilai-nilai inti pendidikan yang diletakkan Romo Mangunwijaya, lewat pemaknaan ulang dan pengimplementasian dalam budaya SEM saat ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggabungkan observasi lapangan dan wawancara aktor-aktor kunci. Strategi yang dipakai untuk melakukan observasi lapangan adalah etnografi organisasi. Kerangka teoritis penelitian ini menggunakan teori dinamika budaya yang digagas Mary Jo Hatch serta teori isomorfisme kelembagaan yang dikembangkan oleh DiMaggio dan Powell. Keduanya digunakan sebagai lensa dalam membaca hubungan antara nilai ideal, struktur formal, dan praktik keseharian.
Hasil dari penelitian ini adalah reimplementasi dan reinterpretasi nilai-nilai Romo Mangun oleh aktor-aktor SEM mengalami perkembangan yang mengarah ke kompromi atau negosiasi pragmatis. Kompromi itu ditunjukkan dengan adanya praktik decoupling nilai ideal dan realita implementasi, inkonsistensi pengamalan pedagogis antarguru, serta perubahan paling mendasar, yakni dibukanya sekolah untuk umum yang artinya tidak hanya untuk anak-anak dari keluarga miskin lagi. Fenomena tersebut disebabkan oleh tuntutan legitimasi birokratis dan logika pasar. Posisi dan langkah yang diambil yayasan memang membuat sekolah berhasil bertahan di era persaingan pasar. Namun, situasi ini sangat berisiko jika tidak diimbangi dengan aksi nyata sekolah dan yayasan yang belajar bersama-sama untuk tetap menginternalisasi nilai Romo Mangunwijaya dengan optimal ketika tantangan yang dihadapi lebih besar.
Amidst the formalization of education in Indonesia, school culture serves as the foundation for substantial values. In Yogyakarta, there is a unique school characterized by its profound educational cultural roots. Mangunan Experimental School (SEM), founded by Romo Mangunwijaya in 1994, implements a child-oriented educational concept that emphasizes seven basic human assets, project-based learning, and spiritual values. Originally operating as a single elementary school unit, the institution has now expanded into six units.
In response to this significant development, this research examines the intersection of organizational culture and educational systems, specifically contextualizing SEM's unique organizational culture within the realm of education. The objective of this study is to explore the sustainability of the core educational values established by Romo Mangunwijaya through their contemporary reinterpretation and implementation within SEM's current culture. This study employs a qualitative approach, combining field observations and interviews with key actors. The strategy utilized for field observation is organizational ethnography. The theoretical framework integrates Mary Jo Hatch’s Cultural Dynamics theory and the Institutional Isomorphism theory developed by DiMaggio and Powell, serving as a lens to analyze the relationship between ideal values, formal structures, and daily practices.
The findings indicate that the re-implementation and reinterpretation of Romo Mangun’s values by SEM actors have evolved toward pragmatic compromises or negotiations. This compromise is evidenced by the "decoupling" of ideal values from practical implementation, inconsistencies in pedagogical practices among teachers, and a fundamental shift: opening the school to the general public, meaning it is no longer exclusively for children from underprivileged families. This phenomenon is driven by demands for bureaucratic legitimacy and market logic. While the strategic steps taken by the foundation have enabled the school to survive in an era of market competition, this situation poses a significant risk if not balanced by collective efforts from the school and the foundation to continue internalizing Romo Mangunwijaya’s values optimally as challenges grow more complex.
Kata Kunci : budaya organisasi, dinamika budaya, isomorfisme, negosiasi nilai, sekolah eksperimental.