MENGURAI "KEBISUAN" SEPUTAR KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP LAKI-LAKI DI JEPANG
Rivadeneira Desthy Novarina Ramadanti, Dr. Diah Kusumaningrum, S.IP., M.A.
2026 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional
Penelitian ini menjawab pertanyaan mengapa publik Jepang akhirnya mulai membicarakan kekerasan seksual terhadap laki-laki. Dengan menggunakan kerangka grievability Judith Butler dan epistemic injustice Miranda Fricker, penelitian ini bersifat kualitatif, menganalisis 282 unit data dari media arus utama Jepang dan media sosial periode 2016–2025. Temuan menunjukkan bahwa selama puluhan tahun penyintas laki-laki berada dalam kebisuan epistemik akibat eksklusi hukum, dominasi figur "penyintas ideal" feminin, dan ketidakpercayaan sistematis terhadap kesaksian mereka. Pembicaraan publik mulai muncul ketika tiga faktor berkonvergensi: dokumenter BBC (2023) yang memicu respons media, reformasi hukum 2017 dan 2023 yang mengakui penyintas laki-laki secara legal, serta amplifikasi kesaksian penyintas oleh media arus utama pasca-2023 yang memutus siklus pembungkaman. Konvergensi ini menggeser status penyintas laki-laki dari ungrievable menjadi mulai dipandang sebagai subjek yang layak diratapi, meskipun pengakuan ini masih terbatas dan menghadapi resistensi struktural.
This research addresses why Japanese society has finally begun to discuss male sexual violence. Using Judith Butler's grievability and Miranda Fricker's epistemic injustice, this qualitative study analyzes 282 units of data from Japanese mainstream media and social media (2016–2025). Findings reveal that for decades, male victims existed in epistemic silence due to legal exclusion, the dominance of the feminine "ideal victim" figure, and systematic distrust of their testimonies. Public discourse emerged when three factors converged: the 2023 BBC documentary that triggered media response, 2017 and 2023 legal reforms recognizing male victims, and post-2023 mainstream media amplification of victim testimonies that broke cycles of silencing. This convergence shifted male victims' status from ungrievable to being recognized as grievable subjects, though this recognition remains limited and faces structural resistance.
Kata Kunci : epistemic injustice, grievability, Jepang, kekerasan seksual terhadap laki-laki, publik.