Laporkan Masalah

INVOLUNTARY CELIBATE (INCEL) PADA REMAJA LAKI-LAKI: ANALISIS WACANA KRITIS KARAKTER JAMIE DALAM SERIAL ADOLESCENCE (2025)

Nandini Mu'afa Rahmatulloh, Mashita Phitaloka Fandia Purwaningtyas, S.I.P., M.A.

2026 | Skripsi | Ilmu Komunikasi

Fenomena involuntary celibate (incel) di ruang digital telah menjadi permasalahan global yang mengkhawatirkan. Komunitas daring ini tumbuh subur melalui forum online dan media sosial yang secara sistematis menyebarkan ideologi misogini yakni narasi kebencian terhadap perempuan dengan membingkai laki-laki yang memenuhi standar maskulinitas adalah korban dari ketidakadilan sosial yang menguntungkan bagi kaum perempuan. Adolescence (2025) diciptakan oleh Stephen Graham, Jack Thorne, dan Philip Barantini sebagai respons atas kegelisahan terhadap maraknya kasus femisida di Inggris dan sebagai refleksi kritis atas persoalan sosial yang kurang mendapat perhatian publik. Berlandaskan analisis wacana Teun A. Van Dijk, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memaparkan wacana incel dalam sikap misoginis remaja laki-laki yang ditampilkan melalui karakter Jamie dalam serial tersebut. Analisis dilakukan menggunakan tiga struktur yakni teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Berdasarkan ketiga struktur tersebut, Adolescence menampilkan wacana incel melalui tekanan maskulinitas kaku yang membentuk mentalitas korban dan misogini pada Jamie, sekaligus menjadi medium advokasi perlindungan anak di ranah digital, serta membuka diskusi bagi audiens Indonesia tentang manifestasi incel dan kuatnya pola asuh serta stereotip gender yang masih melekat di masyarakat.

The phenomenon of involuntary celibacy (incel) in the digital space has become a worrying global problem. This online community thrives through online forums and social media, systematically spreading misogyny, a narrative of hatred against women that frames men who meet masculinity standards as victims of social injustice that benefits women. Adolescence (2025) was created by Stephen Graham, Jack Thorne, and Philip Barantini in response to concerns about the rise in femicide cases in the UK and as a critical reflection on social issues that have received little public attention. Based on Teun A. Van Dijk's discourse analysis, this study aims to identify and explain the incel discourse in the misogynistic attitudes of adolescent boys as portrayed through the character Jamie in the series. The analysis was conducted using three structures: text, social cognition, and social context. Based on these three structures, Adolescence presents the incel discourse through the pressure of rigid masculinity that forms a victim mentality and misogyny in Jamie, while simultaneously serving as a medium for advocating for child protection in the digital realm, and opening discussions for Indonesian audiences about the manifestation of incels and the strength of parenting patterns and gender stereotypes that still exist in society.

Kata Kunci : Incel, Adolescence, Misogini, Remaja Laki-laki, Analisis Wacana

  1. S1-2026-496399-abstract.pdf  
  2. S1-2026-496399-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-496399-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-496399-title.pdf