Analisis Persepsi dan Kesediaan Masyarakat dalam Penggunaan Layanan Telefarmasi di Kota Probolinggo
Betharinadia Riezka Kusumadhewi, apt. Hardika Aditama, S.Farm., M.Sc.
2026 | Skripsi | FARMASI
Telefarmasi merupakan inovasi dalam pelayanan kefarmasian yang memungkinkan apoteker memberikan konsultasi, edukasi, pemantauan terapi, dan layanan lain secara jarak jauh melalui teknologi komunikasi. Layanan ini berkembang pesat pascapandemi COVID-19 sebagai upaya meningkatkan akses pelayanan, terutama bagi masyarakat dengan keterbatasan mobilitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi dan kesediaan masyarakat Kota Probolinggo dalam menggunakan layanan telefarmasi serta menganalisis hubungan keduanya dengan karakteristik sosiodemografi.
Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan metode survei kuesioner daring. Sampel diperoleh melalui convenience sampling dan melibatkan responden berusia ?18 tahun yang berdomisili di Kota Probolinggo. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan RStudio, kemudian dilanjutkan dengan uji Chi-Square atau Fisher’s Exact Test untuk menilai hubungan antarvariabel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan (p = 0,0092) dan riwayat penyakit kronis (p = 0,0194) berhubungan signifikan dengan persepsi masyarakat terhadap telefarmasi, sedangkan usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan frekuensi kunjungan ke apotek tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p > 0,05). Pada analisis kesediaan, seluruh variabel sosiodemografi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan berdasarkan Fisher’s Exact Test (p > 0,05). Namun demikian, terdapat hubungan yang sangat signifikan antara persepsi dan kesediaan menggunakan telefarmasi (p = 0,0001), di mana responden dengan persepsi positif lebih cenderung bersedia menggunakan layanan tersebut di masa mendatang. Temuan ini menegaskan bahwa persepsi masyarakat memegang peran penting dalam membentuk kesediaan penggunaan telefarmasi, sehingga upaya peningkatan literasi kesehatan digital, kualitas pelayanan, dan kepercayaan masyarakat terhadap layanan telefarmasi perlu menjadi fokus utama dalam pengembangan layanan kesehatan digital di Kota Probolinggo.
Telepharmacy is an innovation in pharmaceutical services that allows pharmacists to provide consultation, education, therapy monitoring, and other services remotely through communication technology. This service has developed rapidly in the post–COVID-19 pandemic period as an effort to improve access to healthcare services, particularly for people with limited mobility. This study aimed to determine the perceptions and willingness of the people of Probolinggo City to use telepharmacy services and to analyze the relationships between these variables and sociodemographic characteristics.
This study employed a cross-sectional design using an online questionnaire survey. The sample was obtained through convenience sampling and involved respondents aged ?18 years who resided in Probolinggo City. Data were analyzed descriptively using RStudio, followed by Chi-Square and Fisher’s Exact Test to assess the relationships between the study variables.
The results showed that income (p = 0.0092) and history of chronic disease (p = 0.0194) were significantly associated with perceptions of telepharmacy, whereas age, sex, education level, and frequency of pharmacy visits showed no significant associations (p > 0.05). In the analysis of willingness, none of the sociodemographic variables showed a significant association based on Fisher’s Exact Test (p > 0.05). However, a very significant association was found between perception and willingness to use telepharmacy (p = 0.0001), with respondents who had a positive perception being more likely to be willing to use telepharmacy services in the future. These findings emphasize that public perception plays an important role in shaping willingness to use telepharmacy. Therefore, efforts to improve digital health literacy, service quality, and public trust in telepharmacy services should be prioritized in the development of digital health services in Probolinggo City.
Kata Kunci : telefarmasi, persepsi masyarakat, kesediaan, Kota Probolinggo