Peran Storyteller Walking Tour Cerita Jogjakarta sebagai Mediator Budaya Tionghoa pada Rute Kampung Ketandan Yogyakarta
Chintya Angelin, Dr. Wiwik Sushartami, M.A.
2026 | Skripsi | PARIWISATAKampung Ketandan memiliki signifikansi sebagai kawasan pecinan tertua di Yogyakarta yang merepresentasikan sejarah dan dinamika komunitas Tionghoa di kota ini. Dalam konteks historis, etnis Tionghoa menjadi kelompok yang rentan terhadap praktik diskriminasi dan represi yang berakar pada konstruksi stigma sosial, khususnya yang dikaitkan dengan posisi ekonomi mereka. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan persepsi antara masyarakat non-Tionghoa dan komunitas Tionghoa, sehingga diperlukan upaya untuk menjembataninya. Dalam hal ini, walking tour berpemandu menjadi medium yang relevan untuk memfasilitasi pertemuan dan pemahaman lintas budaya secara kontekstual. Cerita Jogjakarta menawarkan konsep bercerita dan menjanjikan pengalaman mendalam terhadap budaya dan komunitas Tionghoa yang menguatkan peran mereka sebagai mediator budaya. Maka dari itu, penelitian ini mengkaji praktik mediasi budaya dalam tur yang diselenggarakan oleh operator tur Cerita Jogjakarta di Kampung Ketandan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi partisipatif, wawancara, dan studi literatur, penelitian ini menganalisis peran storyteller sebagai mediator budaya Tionghoa dengan merujuk pada empat dimensi mediator budaya menurut Weiler & Black (2015) serta Weiler & Yu (2007), yaitu akses, pertemuan, pemahaman, dan empati. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mediasi akses telah berjalan secara ideal, meskipun pengelolaan jumlah peserta dalam kelompok besar masih memerlukan strategi yang tepat. Dimensi pertemuan yang diwujudkan melalui interaksi langsung dengan tokoh lokal dipersepsikan sebagai puncak pengalaman peserta dan terbukti memperkuat aspek pemahaman serta empati. Namun, dimensi ini belum berlangsung secara konsisten. Sementara itu, mediasi pemahaman dan empati dinilai belum optimal karena kurangnya kedalaman serta ketidaksinambungan kronologis dalam penyampaian narasi sejarah. Secara keseluruhan, penelitian ini menemukan bahwa keempat dimensi mediasi tersebut secara kolektif membentuk pengalaman peserta tur.
Kampung Ketandan holds significance as the oldest Chinatown in Yogyakarta that represents the history and dynamics of the Chinese community in this city. Historically, ethnic Chinese have been positioned as a group vulnerable to practices of discrimination and repression, rooted in social stigma, particularly related to their economic status. This condition shows that there is a gap in perception between non-Chinese society and the Chinese community, so efforts are needed to bridge it. In this case, guided walking tours become a relevant medium to facilitate cross-cultural encounters and understanding in a contextual manner. Cerita Jogjakarta offers a storytelling concept and promises an immersive experience of Chinese culture and community that strengthens their role as cultural mediators. Therefore, this study examines the practice of cultural mediation in tours organized by the tour operator called Cerita Jogjakarta in Kampung Ketandan. By using a qualitative approach through participant observation, interviews, and literature studies, this study analyzes the role of storytellers as mediators of Chinese culture by referring to the four dimensions of cultural mediation according to Weiler & Black (2015) and Weiler & Yu (2007), namely access, encounter, understanding, and empathy. The results of this study indicate that access mediation has been running ideally, although managing the number of participants in large groups still requires an appropriate strategy. The encounter dimension through direct interaction with local figures was perceived as the peak of the participant experience and was proven to strengthen understanding and empathy aspects. However, this dimension has not been consistently implemented. Meanwhile, mediation of understanding and empathy was deemed suboptimal due to a lack of depth and chronological discontinuity in the delivery of the historical narrative. Overall, this study found that these four dimensions of mediation collectively shaped the tour participants' experiences.
Kata Kunci : Peran Storyteller, Walking Tour, Mediator Budaya Tionghoa, Kampung Ketandan Yogyakarta