Laporkan Masalah

Analisis Preferensi Konsumen terhadap Obat Bahan Alam untuk Gejala Masuk Angin di Daerah Istimewa Yogyakarta

Zefanya Alya Wijaya, Prof. Dr.rer.nat. apt. Triana Hertiani, M.Si. ; apt. Fathul Muin, M.Pharm.

2026 | Skripsi | FARMASI

Dalam mengatasi masuk angin, masyarakat Indonesia umumnya memanfaatkan pengobatan alternatif seperti obat bahan alam. Populernya trend  back to nature” menyebabkan pasar obat bahan alam Indonesia berkembang pesat. Sayangnya, walaupun BPOM telah mengategorikan obat bahan alam sejak 2004, masyarakat menunjukkan kurangnya kesasadaran terkait informasi ini. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat pengetahuan, preferensi, dan persepsi konsumen terhadap obat bahan alam yang digunakan untuk mengatasi gejala masuk angin.
Penelitian ini mengadopsi pendekatan survei berbasis kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel sejumlah 135 responden dikumpulkan dengan teknik convenience sampling di satu waktu melalui kuesioner berupa Google Form yang disebarkan melalui sosial media. Data yang didapat berupa skor dalam skala Guttman dianalisis secara deskriptif untuk mendapatkan gambaran tingkat pengetahuan, preferensi, dan persepsi responden terhadap obat bahan alam serta dilakukan uji korelasi untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan terhadap pengetahuan, hubungan pengetahuan terhadap persepsi dan preferensi, serta hubungan persepsi terhadap preferensi. Skor pengetahuan dikategorisasi menjadi tinggi apabila sampel menjawab ?75% pertanyaan dengan benar dan rendah apabila menjawab <75>
Berdasarkan analisis yang dilakukan, mayoritas responden (83,70%) memilih obat herbal terstandar dibandingkan jamu dengan produk yang paling banyak dipilih (77,04%) adalah Tolak Angin. Selain itu, mayoritas responden (52,59%) memiliki tingkat pengetahuan terkait obat bahan alam yang rendah responden dimana tingkat pengetahuan rendah didominasi oleh responden tingkat pendidikan tinggi (58,06%) dengan mean score 3,14. Nilai asymptotic significance hubungan tingkat pendidikan terhadap pengetahuan, hubungan tingkat pendidikan terhadap preferensi, hubungan tingkat pengetahuan terhadap preferensi, hubungan persepsi terhadap tingkat pengetahuan, dan hubungan persepsi terhadap preferensi yang secara berturut-turut 0,241; 0,254; 0,975; 0,174; dan 0,975 menunjukkan tidak adanya pengaruh signifikan di antara variabel tersebut. Temuan pada penelitian ini menunjukkan perlunya peningkatan literasi masyarakat terkait klasifikasi dan regulasi obat bahan alam.

In treating cold symptoms, Indonesians generally relies on alternative treatments such as herbal medicines. The popularity of the “back to nature” trend has led to the rapid expansion of the Indonesia’s herbal medicine market. However, despite the Indonesian Food and Drug Authority (BPOM) has categorized herbal medicines since 2004, there remains a lack of public awareness regarding this information. This study aims to analyze consumer’s knowledge, preferences, and perceptions of herbal medicines used to treat cold symptoms.

This research adopts a quantitative survey approach with a cross-sectional design. A sample of 135 respondents was collected using convenience sampling at one time through a questionnaire in Google Form distributed via social media. The data obtained in the Guttman scale was analyzed descriptively to obtain an overview of the knowledge level, preferences, and perceptions of respondents regarding herbal medicines, and a correlation test was conducted to determine the relationship between education level and knowledge, the relationship between knowledge and perception and preference, and the relationship between perception and preference. Knowledge scores were categorized as high if the sample answered ?75% of the questions correctly and low if they answered <75>

Based on the analysis, the majority of respondents (83.70%) chose standardized herbal medicines over traditional herbal medicines, with Tolak Angin being the most popular product (77.04%). In addition, the majority of respondents (52.59%) had a low level of knowledge about herbal medicines, with the low level of knowledge dominated by respondents with a high level of education (58.06%) with a mean score 3.14. The asymptotic significance values of the relationship between education level and knowledge, the relationship between education level and preference, the relationship between knowledge level and preference, the relationship between perception and knowledge level, and the relationship between perception and preference, which were 0,241; 0,254; 0,975; 0.174; and 0,975, respectively, indicate that there is no significant influence between these variables. The findings of this study indicate the need to improve public literacy regarding the classification and regulation of herbal medicines.

Kata Kunci : Masuk angin, obat bahan alam, preferensi konsumen

  1. S1-2026-492448-abstract.pdf  
  2. S1-2026-492448-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-492448-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-492448-title.pdf