Wacana Anti Nuklir dalam Media Alternatif Jepang Analisis Wacana Kritis Koran Hangenpatsu shinbun (Koran Anti PLTN) Pasca Kecelakaan PLTN Fukushima Jepang 2011
Moh. Gandhi Amanullah, Prof. Dr. Faruk, S.U
2026 | Disertasi | S3 Kajian Budaya dan Media
Terjadinya
kecelakaan PLTN Fukushima Daiichi 2011 telah memicu kebangkitan kembali gerakan
anti nuklir di Jepang yang sempat mati suri sejak era 1980-an. Aktivisme anti
nuklir dalam bentuk unjuk rasa besar, petisi, demonstrasi di hampir wilayah
Jepang yang dikuatkan pula oleh dukungan opini publik yang lebih 60% menolak
PLTN, belum kuasa menghapus total kebijakan penggunaan PLTN di Jepang pasca
terjadinya kecelakaan tersebut. Penelitian disertasi ini bertujuan mengungkap
apa latar belakang sulitnya menggeser kebijakan penggunaan energi nuklir di
Jepang meski di depan mata telah dibuktinya terjadinya kecelakaan besar PLTN
Fukushima yang dinobatkan setara Chernobyl. Asumsi yang diajukan adalah wacana
anti nuklir tidak cukup kuat berhadapan dengan wacana pro nuklir negara. Untuk
menjawab pertanyaan ini, saya melakukan analisis terhadap wacana anti nuklir yang
diproduksi oleh media alternatif anti nuklir Hangenpatsu shinbun milik
organisasi nir laba Citizen Nuclear Information Center (CNIC) Jepang
yang terbit antara tahun 2011-2015. Metode yang digunakan adalah metode analisis
wacana kritis yang diteorikan oleh Nourman Fairclough. Hasilnya, ditemukan
bahwa ketidakmampuan wacana anti nuklir dalam kerangka gerakan anti nuklir
Jepang dalam menggeser dominasi wacana pro nuklir yang ditopang struktur
politik negara yang pro nuklir: tidak semata-mata disebabkan karena kekurang
radikalan substansi wacana, melainkan karena wacana tersebut dikonstruksi dalam
sintaksis bahasa Jepang yang high context, praktik diskursif dan praktik
sosialnya dibatasi oleh beroperasinya budaya Jepang (harmoni, kolektivisme,
konsensus sosial, sistem ie) dan terbentur struktur sosial Jepang sendiri
yang secara tradisi membatasi artikulasi radikalisme dan konfrontasi terbuka
terhadap aparatus politik negara.
The 2011 Fukushima Daiichi nuclear accident
has sparked a resurgence of the anti-nuclear movement in Japan, which had been
dormant since the 1980s. Anti-nuclear activism in the form of large
demonstrations, petitions, and protests across almost all of Japan, reinforced
by public opinion with more than 60% rejecting nuclear power plants, has not
been able to completely eliminate the utilization of nuclear power plants in
Japan after the accident. This dissertation research aims to reveal the reasons
behind the difficulty of abolishing Japan's nuclear energy policy, even though
a major accident on par with Chernobyl has been proven to have occurred. The
hypothesis proposed is that the anti-nuclear discourse is not strong enough to
counter the state's pro-nuclear discourse. To answer this question, the
researcher analyzed the anti-nuclear discourse produced by the alternative
media outlet Hangenpatsu
shinbun, owned by the Japanese non-profit organization Citizen Nuclear
Information Center (CNIC), which was published between 2011 and 2015. The
method used was critical discourse analysis as theorized by Nourman Fairclough.
The results showed that the inability of anti-nuclear discourse within the
framework of the Japanese anti-nuclear movement to shift the dominance of
pro-nuclear discourse, which was supported by a pro-nuclear political
structure, was not solely due to the lack of radicalism in the substance of the
discourse, but rather because the discourse was constructed in the high-context
syntax of the Japanese language, its discursive practices were limited by the
operation of Japanese culture (harmony, collectivism, social consensus, the ie
system), and it also collided with the Japanese social structure itself, which
traditionally limits the articulation of radicalism and open confrontation with
the state political apparatus.
Kata Kunci : Analisis wacana kritis Fairclough, CNIC (Citizens’ Nuclear Information Center), Hangenpatsu Shinbun, Kecelakaan PLTN Fukushima 2011, Wacana anti nuklir, Budaya Jepang