PDI Perjuangan Vs KIM Plus: Menang! Mesin Partai, Broker, dan Politik Non-Programatik yang Bekerja dalam Kontestasi Pilkada Kota Yogyakarta 2024
DAVID KAMALUDDIN EL BARITO, Dr. R.B. Abdul Gaffar, S.IP., M.A.
2026 | Tesis | S2 Ilmu Politik
Berangkat dari satu anomali elektoral: kemenangan PDIP
sebagai partai tunggal non-koalisi dalam Pilkada Kota Yogyakarta 2024.
Kemenangan ini menarik karena untuk pertama kalinya partai ini berhasil merebut
kursi Wali Kota Yogyakarta, di tengah dominasinya sebagai mayoritas parlemen
(DPRD) sejak Pemilu 1999. Berbeda dengan kecenderungan politik nasional, dari
30 daerah dengan konfigurasi “PDIP versus KIM Plus”, hanya Kota Yogyakarta yang
sukses memenangkannya, meskipun tanpa status petahana (unincumbent) dan berada
di tengah dominasi KIM Plus yang hadir tanpa fragmentasi signifikan. Dalam
kondisi yang timpang ini, muncul ruang untuk mempertimbangkan faktor alternatif
yang mampu menjelaskan kemenangan PDIP di Kota Yogyakarta, yakni penggunaan
strategi non-programatik melalui integrasi kerja antara mesin partai dan broker
politik. Untuk menganalisis lebih dalam, penelitian ini menggunakan kerangka
teori distribusi politik, dan mesin partai?broker politik oleh Stokes et al.
(2013). Secara metodologis, penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif
dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap
elite mesin partai dan broker politik, serta analisis dokumen resmi kepemiluan
dan pemberitaan media. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemenangan PDIP
sebagai partai tunggal non koalisi dalam Pilkada Kota Yogyakarta 2024 ditopang
oleh kerja terintegrasi antara mesin partai struktural–parlemen, dan jaringan
broker politik melalui strategi non programatik yang bekerja secara masif dan
sistematis hingga ke basis lawan. Melalui dominasi di DPRD, PDIP menciptakan
shadow incumbency effect yang memungkinkan kandidatnya (Hasto–Wawan) mampu
menikmati distribusi sumber daya negara layaknya kandidat petahana. Selain itu,
melalui praktik elite patronage fragmentation, PDIP mampu memecah kohesi
koalisi lawan melalui tawaran posisi strategis kepada elitenya di parlemen.
Temuan ini menunjukkan bahwa dalam kompetisi elektoral yang asimetris,
efektivitas mesin partai dan broker, fragmentasi internal lawan, serta
pengelolaan strategi non-programatik secara simultan dapat menentukan
kemenangan.
This study departs from a significant electoral anomaly:
PDIP’s victory as a single, noncoalition party in the 2024 Yogyakarta City
mayoral election. This victory is particularly striking as it marked the first
time the party succeeded in winning the mayoral office, despite having
maintained parliamentary dominance in the local legislature (DPRD) since the
1999 general election. Contrary to national electoral trends, among the 30
regions characterized by a “PDIP versus KIM Plus” configuration, only Yogyakarta
City resulted in a PDIP victory, despite the absence of incumbency and the
presence of a cohesive and structurally dominant KIM Plus coalition. Under
these asymmetrical conditions, this case opens analytical space to consider
alternative explanatory factors behind PDIP’s victory in Yogyakarta
City—namely, the deployment of nonprogrammatic strategies through the
integrated operation of the party machine and political brokers. To examine
this dynamic more closely, the study employs the theoretical framework of
political distribution and the party machine–broker model developed by Stokes
et al. (2013). Methodologically, the research adopts a qualitative approach
with a case study design. Data were collected through in-depth interviews with
party machine elites and political brokers, as well as through the analysis of
official electoral documents and media coverage. The findings demonstrate that
PDIP’s victory as a single, noncoalition party in the 2024 Yogyakarta City
mayoral election was supported by the integrated functioning of the party’s
structural and parliamentary machines, together with an extensive network of
political brokers, operating through nonprogrammatic strategies deployed
massively and systematically—even within opposition strongholds. Through its
dominance in the DPRD, PDIP generated a shadow incumbency effect that allowed
its candidates (Hasto–Wawan) to enjoy access to state resource distribution
comparable to that of incumbent candidates. Furthermore, through practices of
elite patronage fragmentation, PDIP was able to erode the cohesion of the
opposing coalition by offering strategic parliamentary positions to rival
elites. These findings indicate that in asymmetrical electoral competition, the
effectiveness of party machines and political brokers, the internal
fragmentation of opponents, and the simultaneous management of nonprogrammatic
strategies can be decisive in determining electoral victory.
Kata Kunci : PDIP, partai tunggal non-koalisi, strategi non-programatik, mesin partai, dan broker politik.