Pemodelan Berbasis Agen untuk Menganalisis Dampak Faktor Perilaku dan Kebijakan terhadap Adopsi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap pada Rumah Tangga
Jovian Aksel Aurelio, Ir. Hilya Mudrika Arini, S.T., M.Sc., M.Phil., Ph.D., IPM., ASEAN Eng.
2026 | Skripsi | TEKNIK INDUSTRI
Transisi energi nasional menuntut percepatan pemanfaatan energi
surya untuk menurunkan ketergantungan pada pembangkit fosil. Potensi teknis
PLTS atap di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 207,8 GW, tetapi realisasi
pemanfaatannya masih rendah dengan pangsa sekitar 0,06 persen dan jumlah
pelanggan sekitar 10.882. Perubahan kebijakan melalui Peraturan Menteri ESDM
Nomor 2 Tahun 2024 mengalihkan mekanisme ekspor impor menjadi skema kuota
pengembangan sebesar 5.746 MW untuk periode 2024 sampai 2028, yang memunculkan
isu ketidakpastian regulasi, kompleksitas perizinan, serta hambatan layanan
yang dapat menahan realisasi adopsi meskipun minat rumah tangga meningkat.
Penelitian ini bertujuan memodelkan dinamika adopsi PLTS atap pada rumah tangga
serta menganalisis dampak faktor perilaku dan kebijakan terhadap peningkatan
adopsi dengan mempertimbangkan keterbatasan layanan PLN.
Pendekatan Agent-based Modelling Simulation (ABMS) digunakan
untuk merepresentasikan heterogenitas rumah tangga dan pengaruh lingkungan
sosial. Model keputusan dibangun dengan mengintegrasikan konstruk UTAUT2 dan Perceived
Value Model (PVM), kemudian indikator empiris divalidasi menggunakan Exploratory
Factor Analysis (EFA) dengan nilai Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) sebesar 0,922
dan Bartlett signifikan. Agen rumah tangga dibedakan menjadi adopter dan
non-adopter, lalu non-adopter dikelompokkan ke dalam empat klaster
kesiapan. Simulasi disusun pada platform Mesa ABM dengan mekanisme perubahan
status bertahap dari non-adopter menjadi waiting list, lalu adopter.
Pembentukan intensi adopsi dimodelkan secara probabilistik, sedangkan realisasi
adopsi dipengaruhi oleh interval layanan, time window, dan kapasitas
PLN. Eksperimen skenario dilakukan untuk mengevaluasi dampak subsidi, arus
informasi lingkungan (gamma neighborhood), serta perbaikan interval
pengajuan instalasi.
Hasil simulasi baseline selama 120 bulan menunjukkan
rata-rata adopter sebesar 71 rumah tangga. Penerapan kebijakan subsidi
meningkatkan adopsi, dengan skenario subsidi 30 persen menghasilkan rata-rata
88 adopter atau meningkat 24 persen dibandingkan dengan baseline.
Peningkatan arus informasi melalui gamma neighborhood juga menaikkan
adopsi, dengan gamma 30 persen menghasilkan rata-rata 82 adopter
atau meningkat 15,5 persen. Percepatan interval pengajuan instalasi menjadi 1
bulan menghasilkan rata-rata 78 adopter atau meningkat 9,8 persen.
Kombinasi kebijakan dengan efek tertinggi berupa subsidi 30 persen, gamma
30 persen, dan interval pengajuan 1 bulan menghasilkan rata-rata 95 adopter
atau meningkat 33,8 persen dari baseline. Temuan ini menunjukkan bahwa
peningkatan intensi adopsi perlu diimbangi dengan penguatan proses layanan dan
kapasitas implementasi agar bottleneck waiting list tidak menahan
realisasi adopsi pada kondisi pembatasan kuota dan layanan.
National energy transition requires accelerated deployment of solar
energy to reduce dependence on fossil-based power generation. The technical
potential of rooftop PV in Indonesia is estimated at approximately 207.8 GW,
yet its realization remains limited, with a share of around 0.06% and about
10,882 customers. A policy change through Minister of Energy and Mineral
Resources Regulation (Permen ESDM) No. 2 of 2024 shifted the export-import
mechanism to a development quota scheme of 5,746 MW for the 2024–2028 period,
raising issues of regulatory uncertainty, permitting complexity, and
service-related barriers that may constrain realized adoption even as household
interest increases. This study aims to model the dynamics of household rooftop
PV adoption and to analyze the effects of behavioral and policy factors on
adoption growth while considering constraints in PLN’s service capacity.
An Agent-based Modelling Simulation (ABMS) approach is applied to
represent household heterogeneity and the influence of the social environment.
The decision model integrates constructs from UTAUT2 and the Perceived Value
Model (PVM), and the empirical indicators are validated using Exploratory
Factor Analysis (EFA), yielding a Kaiser–Meyer–Olkin (KMO) value of 0.922 with
a significant Bartlett’s test. Household agents are classified as adopters and
non-adopters, with non-adopters further segmented into four readiness clusters.
The simulation is implemented on the Mesa ABM platform with a staged status
transition from non-adopter to waiting list and then to adopter. Adoption
intention is modeled probabilistically, while realized adoption is influenced
by service intervals, time windows, and PLN capacity. Scenario experiments are
conducted to evaluate the impacts of subsidies, neighborhood information flow
(gamma neighborhood), and improvements in the installation application
interval.
The baseline simulation results over 120 months show an average of
71 adopting households. The implementation of a subsidy policy increased
adoption, with the 30 percent subsidy scenario yielding an average of 88
adopters, representing a 24 percent increase compared to the baseline.
Increased information flow through the gamma neighborhood parameter also raised
adoption, with a 30 percent gamma yielding an average of 82 adopters, a 15.5
percent increase. Shortening the installation application interval to 1 month
resulted in an average of 78 adopters, a 9.8 percent increase. The most
effective policy combination — consisting of a 30 percent subsidy, 30 percent
gamma, and a 1-month application interval — produced an average of 95 adopters,
a 33.8 percent increase from the baseline. These findings indicate that
increases in adoption intention must be accompanied by strengthening service
processes and implementation capacity, so that waiting list bottlenecks do not
impede the realization of adoption under quota-restricted and
service-constrained conditions.
Kata Kunci : Agent-based Modelling, PLTS atap, skenario kebijakan.