Analisis Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan Ekstrim Daerah Sub Urban di Kabupaten Kampar
Yusdiyen Hadinata, Dr. Agus Joko Pitoyo, MA; Dr. Hakimul Ikwan, MA; Dr. Dewi Haryani Susilastuti, M.Sc
2026 | Disertasi | S3 STUDI KEBIJAKAN
Kemiskinan ekstrem banyak ditemukan di kawasan suburban ibukota Kabupaten Kampar. Provinsi Riau. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: 1) Karakteristik Rumah Tangga Miskin Ekstrem di kawasan sub urban, 2) Penyebab kemiskinan ekstrem terkonsentrasi di kawasan sub urban, 3) Inovasi kebijakan dalam penanggulangan kemiskinan ekstrem di kawasan suburban Ibukota Kabupaten Kampar. Penelitian menggunakan mixed method. Data dikumpulkan melalui survei, focus group discussion, wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Data hasil survei diolah menggunakan uji statistik SEM PLS (Structural Equation Modeling with Partial Least Square). Data hasil wawancara, FGD, observasi dan dokumentasi diolah secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan: Pertama, karakteristik rumah tangga miskin ekstrem ditandai dengan kondisi: 1) demografis rumah tangga dengan jumlah anggota lansia ataupun disabilitas; 2) sosial ekonomi dengan pendidikan rendah dan pekerjaan sebagai petani, 3) tidak adanya atau sedikitnya aset lahan pertanian atau perkebunan, tabungan, dan akses mendapatkan hutang, pinjaman digunakan untuk membiayai kebutuhan dasar, 4) mayoritas memiliki akses layanan dasar, 5) ikut dalam kegiatan kemasyarakatan, 6) pengeluaran perkapita Rp 584.538. Kedua, kemiskinan ekstrem di kawasan suburban disebabkan oleh faktor alam, faktor kultural (rendahnya pendidikan dan pengetahuan, skills rendah, mentalitas miskin dan mindset masyarakat), dan faktor struktural (kebijakan alokasi sumberdaya, keterlibatan sosial, serta rendahnya daya tawar petani dan komoditi yang dihasilkan petani), serta atribut yang melekat dalam rumah tangga miskin ekstrim. Hasil uji SEM memperlihatkan bahwa faktor hutang, faktor pekerjaan, dan faktor pengeluaran memberikan efek yang lemah terhadap kemiskinan ekstrem masing-masing 0,044; 0,023; dan 0,030 berada dalam batas kritis dalam arti hampir tidak memiliki pengaruh. Artinya, ada faktor lain yang menjadi penyebab terjadinya kemiskinan ekstrem. Hasil analisis kualitatif menunjukkan faktor lain penyebab kemiskinan adalah ketergantungan kegiatan ekonomi masyarakat terhadap hasil komoditi karet dan sawit. Kondisi kemiskinan ekstrim sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga karet dan sawit. Ketiga, inovasi implementasi kebijakan penanggulangan kemiskinan dilakukan dalam rangka mengatasi kendala penanggulangan kemiskinan seperti kesalahan menentukan indikator kemiskinan ekstrem, keterbatasan sumber daya, ego sektoral, dan hambatan di lapangan. Sejumlah inovasi yang muncul yakni PULUT KETAN (Perlindungan Pekerja Rentan), program PESIAR (Petakan, Sisir, Advokasi, dan Registrasi), Program Penanganan Kerawanan Pangan OCU MAPAN, dan Pembangunan jalan usaha tani (JUT), dan Perluasan lahan sawah serta pembuatan bibit padi unggul belum dapat melepaskan penduduk miskin ekstirm dari jebakan kemiskinan.
Extreme poverty is prevalent in the suburban areas of the
capital of Kampar Regency, Riau Province. This study aims to analyse: 1) the
characteristics of extremely poor households in suburban areas; 2) the causes
of the concentration of extreme poverty in suburban areas; and 3) policy
innovations in tackling extreme poverty in the suburban areas of the capital of
Kampar Regency. The study employed a mixed-methods approach. Data were
collected through surveys, focus group discussions, in-depth interviews, observations,
and documentation. Survey data were analysed using SEM-PLS (Structural Equation
Modelling with Partial Least Squares). Data from interviews, FGDs, observations
and documentation were analysed using qualitative descriptive methods. The
research findings indicate: Firstly, the characteristics of extremely poor
households are marked by the following conditions: 1) household demographics
including elderly or disabled members; 2) socio-economic factors, including low
levels of education and employment as farmers; 3) the absence or scarcity of
agricultural or plantation land assets, savings, and access to debt or loans,
with borrowing used to finance basic needs; 4) the majority having access to
basic services; 5) participation in community activities; 6) per capita
expenditure of Rp 584,538. Secondly, extreme poverty in suburban areas is
caused by natural factors, cultural factors (low levels of education and
knowledge, poor skills, a ‘poverty mentality’ and the prevailing mindset of the
community), and structural factors (resource allocation policies, social
engagement, and the low bargaining power of farmers and the commodities they
produce), as well as attributes inherent to extremely poor households. The SEM
test results show that debt, employment and expenditure have a weak effect on extreme
poverty, with coefficients of 0.044, 0.023 and 0.030 respectively, which are
within the critical threshold—meaning they have almost no influence. This
implies that other factors are responsible for extreme poverty. The results of
the qualitative analysis indicate that another factor causing poverty is the
community’s economic dependence on rubber and palm oil commodities. Conditions
of extreme poverty are heavily influenced by fluctuations in rubber and palm
oil prices. Thirdly, policy innovations to tackle poverty were implemented to
address obstacles in poverty alleviation, such as errors in determining
indicators of extreme poverty, resource constraints, sectoral self-interest,
and on-the-ground barriers. A number of innovations have emerged, namely PULUT
KETAN (Protection of Vulnerable Workers), the PESIAR programme (Mapping,
Screening, Advocacy, and Registration), the OCU MAPAN Food Insecurity
Management Programme, the construction of farm access roads (JUT), and the
expansion of rice fields as well as the creation of seedbeds.
Kata Kunci : Faktor Penyebab, Kemiskinan Ekstrem Suburban, Inovasi Kebijakan