FAKTOR-FAKTOR BERPENGARUH PADA AKSES KELOMPOK MARGINAL TERHADAP LAYANAN PUBLIK DIGITAL DI KOTA SEMARANG (STUDI KASUS: KAWASAN INDUSTRI TERBOYO WETAN)
LARDAT MENTARI RAHANYAMTEL, Jimly Al Faraby, S.T., M.Sc., Ph.D,
2026 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & Daerah
Penerapan Semarang smart city seharusnya dapat dirasakan oleh seluruh kelompok masyarakat tak terkecuali kelompok marginal. Faktanya permasalahan yang dirasakan oleh kelompok marginal di Kawasan Industri Terboyo Wetan adalah merasa terpinggirkan dari program-program pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan akses kelompok marginal terhadap pelayanan publik digital serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi akses kelompok marginal terhadap pelayanan publik digital. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus tunggal-holistik dan metode analisis data yakni pencocokkan pola. Pengambilan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam bersama 30 narasumber dari kelompok marginal dan 12 narasumber dari Pemerintah Kota Semarang. Hasil penelitian menujukkan bahwa pengaruh yang dirasakan oleh kelompok marginal ketika menggunakan layanan publik digital ada enam antara lain (1) kesenjangan digital, (2) jarak, (3) waktu, (4) transparansi biaya, (5) kepastian informasi hingga (6) penghematan biaya. Faktor-faktor yang mempengaruhi akses kelompok marginal terhadap pelayanan publik digital antara lain: (1) kemampuan individu, (2) kondisi teknologi, (3) sistem pendukung dan (4) respon pemerintah terhadap aduan kelompok marginal.
The implementation of a smart city in Semarang
should be felt by all groups in society, except marginalized groups. In fact,
the problem felt by marginalized groups in the Terboyo Wetan Industrial Area is
that they feel marginalized from government programs. This study aims to describe marginalized groups' access to digital public
services and identify factors that influence marginalized groups' access to
digital public services. The research approach used is qualitative
with a single-holistic case study method and a data analysis method, namely
pattern matching. Data collection was carried out using in-depth interview
techniques with 30 informants from marginalized groups and 12 informants from
the Semarang City Government. The research results show that there are
six influences felt by marginal groups when using digital public services such
as: (1) digital divide, (2) distance, (3) time, (4) cost transparency, (5)
certainty of information and (6) cost savings. Factors that influence marginal
groups access to digital public services such as: (1) individual capabilities,
(2) technological conditions, (3) support systems and (4) government response
to complaints from marginal groups.
Kata Kunci : Keywords: Smart City, Digital Public Services, Marginalized Groups, Semarang City, Terboyo Wetan