Perbandingan Metode METRIC dan SEBAL untuk Estimasi Evapotranspirasi Aktual Menggunakan Citra Landsat-8 di Sebagian Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah
Dini Rachmadhani, Prof. Drs. Projo Danoedoro, M.Sc., Ph.D., ; Dr. Prima Widayani, S.Si., M.Si.
2026 | Tesis | S2 Penginderaan Jauh
Evapotranspirasi
(ET) merupakan proses perpindahan air dari permukaan tanah dan perairan
terbukaseperti sungai, danau, kolam, dan tanah melalui penguapan, serta dari
permukaan yang ditumbuhi vegetasi melalui proses transpirasi. Tekanan terhadap
sumber daya air yang terus meningkat secara global, akibat urbanisasi serta
meningkatnya kebutuhan akan biofuel dan pangan, berpotensi mengubah pola
evapotranspirasi dan ketersediaan air. Perkembangan teknologi penginderaan jauh
memungkinkan pemetaan evapotranspirasi secara spasial melalui pemanfaatan citra
satelit, salah satunya citra Landsat, dengan menggunakan model METRIC dan
SEBAL. Untuk menghitung dan memvalidasi evapotranspirasi, diperlukan data iklim
yang lengkap dan akurat, seperti suhu udara, kelembapan relatif, radiasi
matahari, dan kecepatan angin. Dalam penelitian ini, data iklim tersebut
diperoleh dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) dan
digunakan sebagai input dalam perhitungan evapotranspirasi menggunakan metode
empiris, yaitu Penman–Monteith, Advection–Aridity, serta metode panci
evaporasi, yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai data pembanding untuk validasi
hasil METRIC dan SEBAL. Penelitian ini dilakukan di sebagian Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah dengan memanfaatkan citra Landsat 8, data
sekunder dari BMKG, serta citra SRTM. Citra Landsat 8 dan SRTM yang memiliki
resolusi spasial 30 meter, dengan citra SRTM terlebih dahulu dilakukan resampling
menjadi 30 meter. Perbedaan utama antara metode SEBAL dan METRIC terletak pada
proses kalibrasi fluks panas sensibel, di mana SEBAL relatif lebih independen
terhadap data meteorologi, sedangkan METRIC menggunakan kalibrasi internal
berbasis referensi evapotranspirasi sehingga lebih sensitif terhadap
ketersediaan dan kualitas data iklim. Berdasarkan hasil penelitian, citra
Landsat 8 memiliki akurasi yang cukup baik dalam mengekstraksi
parameter-parameter yang dibutuhkan untuk estimasi evapotranspirasi aktual pada
kedua metode. Metode SEBAL, yang menghitung evapotranspirasi secara langsung
dari keseimbangan energi permukaan berbasis citra satelit, lebih sensitif dalam
menangkap variasi radiasi, suhu permukaan, dan heterogenitas penutup lahan.
Sebaliknya, metode METRIC cenderung menghasilkan nilai evapotranspirasi yang
lebih rendah akibat sensitivitasnya terhadap proses kalibrasi internal dan
ketergantungan pada data meteorologi. Secara keseluruhan, hasil estimasi
menggunakan metode SEBAL menunjukkan tingkat kesesuaian yang lebih baik
dibandingkan METRIC, yang ditunjukkan oleh nilai RMSE yang lebih rendah
berkisar antara 1,08 hingga 2,52 sedangkan pada metode METRIC 2,02 hingga 4,39.
Selain itu metode SEBAL lebih sesuai digunakan pada musim kering dibandingkan
musim basah.
Evapotranspiration
(ET) is the process of water transfer from the land surface and open water
bodies, such as rivers, lakes, ponds, and soil, through evaporation, as well as
from vegetated surfaces through transpiration. Increasing global pressure on
water resources, driven by urbanization and rising demands for biofuel and food
production, has the potential to alter evapotranspiration patterns and water
availability. Advances in remote sensing technology have enabled spatial
mapping of evapotranspiration through the use of satellite imagery,
particularly Landsat 8, by applying the METRIC and SEBAL models. To calculate
and validate evapotranspiration, complete and accurate climatic data are
required, including air temperature, relative humidity, solar radiation, and
wind speed. In this study, climatic data were obtained from Meteorology,
Climatology, and Geophysical Agency and were used as input for
evapotranspiration calculations using empirical methods, namely the
Penman–Monteith equation, Advection-Aridity model, and Evaporation pan methods,
which subsequently served as reference data for validating the METRIC and SEBAL
results. This research was conducted in parts of Special Region of Yogyakarta
and Central Java using Landsat 8 imagery, secondary climatic data from
Meteorology, Climatology, and Geophysical Agency, and SRTM USGS Global 30m
data. Both Landsat 8 and SRTM data have a spatial resolution of 30 meters,
while the SRTM data were first resampled to 30 meters to ensure consistency in
spatial analysis. The main difference between SEBAL and METRIC lies in the
calibration of sensible heat flux: SEBAL is relatively independent of
meteorological data, whereas METRIC applies internal calibration based on
reference evapotranspiration, making it more sensitive to the availability and
quality of climatic data. The results indicate that Landsat 8 imagery provides
sufficient accuracy in extracting the parameters required for actual
evapotranspiration estimation in both models. SEBAL, which calculates evapotranspiration
directly from surface energy balance derived from satellite imagery, is more
sensitive in capturing variations in radiation, surface temperature, and land
cover heterogeneity. In contrast, METRIC tends to produce lower
evapotranspiration values due to its sensitivity to internal calibration and
stronger dependence on meteorological input data. Overall, SEBAL demonstrated
better agreement with field-based observations than METRIC, as indicated by
lower RMSE values ranging from 1.08 to 2.52, whereas METRIC produced RMSE
values ranging from 2,02 to 4.39. In addition, SEBAL was found to be more
suitable for evapotranspiration estimation during the dry season than during
the wet season.
Kata Kunci : Evapotranspirasi, Landsat 8, SEBAL, METRIC